8

1401 Words
"Kau di sini saja. Oke? Aku akan bilang pada guru bahasa Perancis kita kalau kau sakit." Ten melebarkan selimut untuk Challista yang masih duduk di tepi ranjang UKS. Netra hijaunya menyorot datar pada tirai berwarna cream yang mencolok. Menjadi penutup antara ranjang satu dengan ranjang lain. "Oke. Aku akan—kembali setelah jam makan siang." "Halah, kau mending langsung pulang," Agnia merebahkan Challista di atas ranjang. "Aku akan telepon supirku untuk mengantarmu pulang." Challista mendengus. Menggeleng dan tatapan matanya menyapu Agnia cukup lama. Gadis berambut pirang itu hanya terkekeh, kemudian mengangguk. "Baik, baik, aku tidak akan hubungi siapa pun." Senyum Challista lekas terbit. Saat Ten menghela napas dan dia mengangguk pada Agnia. "Aku akan mengecekmu lagi. Saat aku bisa izin dari guru kimia, Tuan Orochimaru. Kalau kau butuh bantuan, kau bisa—" "Oke semua. Terima kasih. Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Silakan, kembali ke kelas kalian masing-masing." Ten mendesah dan Agnia mengintip ekspresi pemuda itu dari ekor matanya. "Kami pergi." Agnia berjalan diikuti Ten yang menundukkan kepala. Saat dia menutup pintu ruang UKS, matanya memandang punggung Agnia yang semakin menjauh. Dan mereka berjalan saling memunggungi arah, karena memang kelasnya berbeda. Sepuluh menit Challista terpaku diam. Matanya tidak lepas dari pemandangan langit-langit kamar UKS yang terang. Challista menghela napas berat. Menyingkap selimutnya saat dia turun dari ranjang dan memakai sepatu. Berjalan ke arah cermin, Challista menyempatkan diri untuk menimbang berat badannya. Bibirnya menipis, menemui bahwa bobot tubuhnya kembali menyusut, Challista hanya menggeleng. Dia semakin ringan saja dari hari ke hari. Langkahnya teramat pelan saat Challista berusaha membawa dirinya yang lemas ke luar dari ruang UKS. Kakinya menyeret paksa saat dia berjalan menuju kantor yayasan komite. Tapi, sebelum mengetuk pintu berlapis cat kayu mahal itu, Challista berbelok ke arah kesiswaan dan Tata Usaha. Mengetuk pelan pintunya, Challista menarik napas saat dia menemukan ketua Tata Usaha tengah membentak lima pegawainya di dalam kubikel. Bibir Challista mengatup rapat, ketika tatapan ketua Tata Usaha itu terarah padanya. "Eh, Challista?" Suaranya berubah ramah dan ceria. "Ada apa kemari? Sesuatu terjadi?" Challista menyapu datar wajah yang mulai berkerut itu. "Kalian mencabut beasiswa Wallius Ethan? Seluruhnya? Dan mengancam dia tidak akan bisa mendapatkan bantuan hingga lulus? Atau lebih parahnya, kalian menahan beasiswa yang bisa saja datang dari kampus ternama pada murid berprestasi hanya karena dia—bermasalah?" Semua mata tertuju pada Challista. Pandangan mata mereka bingung bercampur serius. Saat ketua Tata Usaha itu cemberut, mendesah panjang pada Challista. "Anak manja sepertimu tahu apa? Sudahlah, pergi sana." Sudut bibir Challista terangkat naik. "Yakin kau meremehkanku, Nona Tami?" Mereka saling berpandangan. Orang-orang yang bekerja di bawah asuhan Nona Tami hanya menelan ludah. Tidak ada satu pun di dalam ruangan ini berani membantah wanita galak itu. Terkecuali, Renhart Challista yang kini memicing tajam padanya seakan gadis berusia enam belas tahun itu tidak gentar akan apa pun. Sekali lagi, kekuasaan dan uang berbicara. Semua orang tahu—hampir dari mereka paham siapa Renhart Challista. Dan mereka tidak akan mencari mati hanya untuk membuat gadis itu marah. Nona Tami menelan ludahnya. Dia membaca satu dokumen secara cepat dan mata cokelat madunya berpendar menatap Challista gelisah. "Itu sudah aturan! Bagaimana bisa Ethan lolos kalau dia adalah pemakai sabu? Dia juga berkelahi. Sampai putra Tuan Danny lebam-lebam dan hampir sekarat. Aku dengar dia masuk rumah sakit. Itu sudah keterlaluan." Nona Tami menatap Challista tidak percaya. "Kenapa pula kau harus membela sampah itu? Ethan tidak pantas kau bela! Dia harus mendapat hukuman setimpal." Challista mendengus. Merapikan hoodie PULL & BEAR miliknya saat tatapan matanya kembali ke wajah Nona Tami. "Begitukah?" "Kalau begitu, aku akan kembali." Gadis itu memutar badan, berjalan menjauhi ruangan saat kakinya membawa dirinya pergi ke ruang ketua yayasan Moorim. Ketukan di pintu membuat percakapan hangat yang terjadi buyar seketika. Mereka membeku saat menemukan Renhart Challista masuk ke dalam ruangan. Membungkuk sopan tanpa senyum di wajah. "Challista, ada apa?" Mata cokelat Tuan Danny langsung terarah padanya. Challista hanya mengangkat alis, melihat bagaimana Tuan Danny sesantai ini, egonya terusik. "Saya hanya bertanya tentang Wallius Ethan dan perihal bagaimana bisa dia terancam didepak dari sekolah bersama beasiswa dan segala fasilitas yang ada?" Tuan Danny mendengus. Tatapannya mencibir Challista terang-terangan. "Anak kemarin sore sepertimu tahu apa? Ethan hampir membunuh putraku. Dia bahkan menuduh kalau anakku pemakai sabu. Benar-benar kelewatan." Alis Challista saling bertaut. Di saat kedua kakinya mulai gemetar karena kondisinya belum baik secara keseluruhan. Challista bahkan merasakan kepalanya terasa berat dan berkunang-kunang sekarang. "Maafkan jika aku lancang, tapi tolong kembalikan beasiswa Wallius Ethan. Dan biarkan dia bersekolah dengan tenang tanpa tekanan dari siapa pun dan pihak mana pun. Bagaimana bisa murid berusia enam belas tahun mendapat tekanan berat hanya karena dia anak miskin yang mendapat beasiswa!?" Suara Challista meninggi. Dan ketua yayasan bersama Tuan Danny terkejut. Ketika Challista menunduk, menarik napas panjang. "Pikirkan sekali lagi. Jika memang kalian tidak punya cara lain untuk mengembalikannya, aku akan memakai cara lain untuk lakukan sesuatu." "Dengan?" Suara Tuan Danny mulai melemah. "Kekuasaanku," kata Challista sinis. Menatap Tuan Danny yang menelan ludahnya gugup. "Bayangan Renhart Challista mungkin tidak akan sama lagi. Aku sama sekali tidak pernah berbuat sesuatu yang buruk di sekolah ini. Jadi, turuti saja apa permintaanku." "Kau bukan pemegang saham di sini! Jangan berlagak tinggi, Challista." "Dan Tuan Danny adalah pemegang saham?" Challista merasakan suaranya gemetar. Dia menarik napas panjang. Saat keringat dingin mulai satu-persatu meluncur dari pelipisnya. "Baik, mari kita buktikan. Beri aku waktu satu minggu. Dan aku yakin, semua penghinaan ini akan terbayar," sorot itu menatap mata Tuan Danny dengan tatapan mengancam. "Sekali lagi, maaf mengganggu kalian." Challista membungkuk. Membawa kedua kakinya yang gemeter dan tubuhnya mulai berkeringat dingin kembali ke ruang Tata Usaha, menatap Nona Tami yang berdiri dari kursinya, menatap bingung ke arah Challista. "Aku punya permintaan." Selalu seperti ini. Saat Challista sendirian, merenungi sepi dan menikmati waktu, kenangan itu akan datang. Bercokol di dalam kepalanya dan tidak mau lepas. Challista menghela napas panjang. Saat dia menunduk, menatap cangkir latte yang mulai mendingin, Challista tidak lagi berselera menjalani hari pagi ini. Dia hanya duduk, menikmati kopi dan sepiring roti panggang di seberang apartemennya. Kedua mata Challista mengerjap. Menemukan Willy datang mengejutkannya. Pria itu tersenyum, mengusap rambutnya yang masih basah saat Willy hanya memakai kemeja putih dan celana kain hitam. "Kau di sini?" Challista tidak bisa menyembunyikan raut terkejut. Dengan tampang polos, Willy duduk. Tersenyum lebar di hadapan sang tunangan. "Aku rindu. Makanya, aku datang untuk melihatmu." Bibir Challista kembali terkatup. Dia menarik napas, menatap Willy yang tampak berseri-seri pagi ini. "Kau terlihat jauh lebih hidup. Kenapa?" Willy terkekeh pelan. "Itu karena aku berhasil melewati mimpi-mimpi buruk ini. Aku tidak sabar menjalani bisnis baru yang kukembangkan selanjutnya." Challista hanya mengulum senyum tipis. "Ayolah, kau pasti berhasil. Siapa yang akan meragukan tangan dinginmu?" Willy mendengus. "Tapi, tidak sedingin dirimu," katanya. Mengutip kata dingin dan Challista tertawa ringan. "Kau jauh lebih mumpuni dalam hal ini." "Benarkah? Aku sendiri tidak yakin," Challista menyesap latte di dalam cangkir. Menatap Willy yang meminta pelayan untuk membawakan dia segelas teh hangat dan roti panggang isi telur. "Nanti malam jam berapa?" Willy mengerutkan kening. "Jam delapan. Kau pulang jam berapa?" "Jam enam," Challista melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku usahakan lebih cepat." "Tidak, santai saja. Ibu dan Ayahku bisa menunggu," balas Willy dengan senyum. Challista mendengus. "Tidak. Aku tidak akan mengecewakan mereka," senyumnya perlahan naik lebih tipis. "Aku tidak akan mengecewakan siapa pun." Suaranya yang lemah menyentil perasaan sentimentil Willy. Matanya menyapu wajah sendu sang kekasih. Terlebih ketika Challista mengatakan kalimat terakhirnya, dia merasa Challista memiliki masalah yang tidak dia ketahui. "Kau tidak apa?" Challista menatap remasan tangan Willy di atas meja. Menggenggam tangannya. Seakan memberinya kekuatan. "Tidak, aku baik." Dan Challista memberikan pria itu satu senyum yang masih belum juga mampu membuat perasaan Willy membaik. "Ini pesanannya." Challista mengangkat alis saat dia melepas remasan tangan Willy di atas meja. Terkejut ketika menemukan pelayan berpakaian serba hitam dengan celemek putih tergantung di pinggang. Tangannya gemetar saat dia menjatuhkan gelas teh itu di kemeja putih Willy. Dengan canggung bercampur panik, gadis itu berlari ke dapur, mengambil lap bersih untuk Willy yang hanya tersenyum. Berkata bahwa dia tidak apa dan membawa kemeja ganti. "Maafkan aku. Maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja." Challista menatap gadis itu lekat-lekat. Saat bibirnya gemetar dan kedua tangannya yang terkepal di bawah meja ikut bergetar. Suara gadis mau pun rambutnya yang disanggul mencolok tidak mampu mengelabui ingatan Challista yang tajam. Rosie. "Tidak apa. Sungguh." Willy menepis tangan gadis itu dari kemejanya. Merasa risih karena tangan Rosie menjalar kemana-mana. Bukan maksud melecehkan, tetapi gadis itu terlalu gugup dan panik hingga lap itu membasuh ke seluruh permukaan kemejanya. "Sudah. Cukup. Biarkan saja," suara Challista memecah atensi Rosie yang panik. Kepalanya menoleh, terkejut saat dia menemukan siapa yang duduk bersama pria tampan itu. Rosie menelan ludahnya gugup. Ketika gadis itu perlahan mundur, membungkuk pada keduanya dan berlari masuk ke dalam dapur dengan napas terengah-engah. Begitu pula dengan Challista. Yang membuang muka, menahan debaran nyeri di dadanya semakin tak terperi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD