9

1856 Words
Kellan Agnia melenggang ke dalam pusat perbelanjaan milik keluarganya. Langkah heels berlabel Christian Louboutin itu menggema di sepanjang lantai dua, melenggok santai dengan raut angkuh saat sebelah tangannya menentang belanjaan berlabel Victoria's Secret. Mata biru Agnia menangkap bayangan Kanar Nakaya yang tengah masuk ke dalam toko Gucci di dalam Tokyo Plaza. Gadis itu mendengus, menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca etalase di depan toko. "Oh, well, benalu itu di sini," Agnia bermonolog. Menatap pantulan dirinya sekali lagi sebelum dia masuk, menitipkan belanjaannya pada petugas keamanan yang tengah berkeliling. Mengerti bahwa Agnia adalah anak pemilik Mall, tanpa banyak cakap dia membawakan belanjaan gadis itu dan turun ke lantai dasar untuk menjaganya. Agnia menatap pegawai Gucci yang menunduk, membungkuk padanya. Saat gadis itu pergi ke bagian gaun pendek untuk memilah-milah. Saat matanya bertemu Nakaya, istri dari Ransom Ten langsung melengos pergi. Menghentakkan kaki dengan raut sinis. Agnia berdeham. Menatap potongan gaun pendek berharga fantastis itu dengan santai. "Kegunaan Black Card sebenarnya banyak. Termasuk mengosongkan salah satu toko agar aku berbelanja puas. Sayangnya, aku sedang berbaik hati dan tidak mau melakukannya. Bagaimana, ya?" bisik Agnia saat Nakaya berdiri tepat di seberangnya. Agnia memiringkan kepala. Menatap Nakaya dengan senyum lebar. "Oh, hei. Aku bertemu kawan lama di sini," sapanya ramah. "Senang bertemu denganmu lagi, Nakaya." Nakaya hanya memutar mata. Dia melempar dua buah gaun malam pada pegawai Gucci yang menunggu mereka. "Taruh itu di kasir. Aku akan membayarnya sebentar lagi." "Baik, Nona." Ketidaksopanan Kanar Nakaya menyentil batin Agnia. Gadis berambut pirang itu menghela napas, menatap Nakaya miris. "Astaga. Betapa buruk attitude yang kau miliki." Nakaya seakan enggan menjawab. Gadis itu pergi ke bagian rak tas mahal. Bermerk Gucci dalam aneka bentuk dan warna. Bibir Agnia maju, dia duduk di sofa saat matanya menelusuri tubuh Nakaya. Alisnya terangkat tinggi. Menangkap goresan pergelangan tangan yang mencolok. Bekas luka sayatan itu ada. Dan Agnia tidak bisa menahan diri lagi saat Nakaya menurunkan tangannya yang terangkat ke udara sebelumnya, lalu berjalan pergi. Agnia mendengus. Memainkan kakinya yang menyilang. "Dia mencoba bunuh diri?" Berbisik pada dirinya sendiri. Kepala Agnia berpaling. Memandang Nakaya yang tidak lagi tertarik tenggelam di dalam toko Gucci dan segera mungkin membayar belanjaannya. Agnia berjalan mendekat, menarik Black Card Nakaya dari genggaman tangan gadis itu. "Untuk siapa kau berbelanja?" Nakaya mendesis. Menatap Black Card miliknya di tangan Agnia, hendak meraihnya kembali dan Agnia mundur, menatapnya tajam. "Katakan untuk siapa kau berbelanja." "Nana, sialan," ketus Nakaya. Menatap tajam Agnia yang menurunkan tangannya, tersenyum pada Nakaya. "Oke manis. Santai saja." Dan menatap bekas sayatan itu semakin jelas. Agnia mengerucutkan bibirnya. Menatap pegawai kasir yang menggunakan Black Card itu sebagai alat pembayaran. Saat Nakaya membawa belanjaannya keluar, dia terkejut karena menemukan Amera Kato masuk ke dalam toko, terpaku diam. Nakaya menatapnya sebentar. Mendengus kasar saat wanita itu menabrak bahu Amera cukup keras. Membuat Amera mengernyit tak nyaman, mengusap bahunya. "Lain kali kalau kau melihat dia, tabrak saja. Balas perlakuannya padamu," sahut Agnia. Membuat kepala Amera menoleh ke arahnya. "Dia istri dari teman kekasihku. Aku tidak akan bisa melakukannya." Alis Agnia bertaut. "Kekasihmu? Ethan, maksudmu?" Amera mengangguk. Dia meremas tas miliknya saat tatapan biru Agnia menelisik tajam ke arahnya. "Oh, Ethan. Wallius Ethan," sebut Agnia hangat. "Berapa lama kalian bersama?" "Tiga tahun." "Wow. Cukup lama," Agnia mendengus. Mendadak dia teringat Challista. "Lalu, dimana dia sekarang?" Amera menatap Agnia dengan senyum polosnya. "Dia sedang bekerja. Aku tidak mungkin memintanya untuk menemaniku di saat dia sibuk," balas Amera. Masih dengan senyum ramahnya. Ketika gadis bercepol itu melangkah masuk, Agnia mengamati penampilannya. Gadis itu hanya memakai kaus putih bertuliskan Nevada dan sepatu keds cokelat tua, bersama celana jins hitam. Berbanding terbalik dengan gayanya. Agnia mengerutkan kening. Dia tentu paham betul siapa Amera Kato. Dia putri dari si penjilat Regan Kato. Agnia mendengus, menatap Amera cukup lama sampai dia mensugestikan diri untuk berhati-hati pada gadis polos itu. Karena tidak selamanya yang terlihat baik dan polos benar adanya, kan? *** "Nona Challista, apa Anda akan turun untuk menemui Tuan dan Nyonya?" Challista menghela napas. Memandang Bibi Kana, kepala asisten rumah tangga yang bekerja selama tiga puluh tahun di kediamannya. Sebelumnya, Bibi Kana adalah orang kepercayaan sang ibu yang mengurus segala keperluan rumah dari yang remeh sampai yang besar. "Aku akan turun sebentar lagi." Kepala Bibi Kana terangguk pelan. Dia kembali menutup pintu berwarna putih s**u yang didominasi tempelan wallpaper khas anak remaja pada umumnya. Tidak ada yang berubah dari kamar seorang Renhart Challista. Matanya menatap ke sekeliling kamar. Dulu kamarnya hanya didominasi warna monokrom. Hitam dan putih. Karena menurutnya, kamar yang sesuai dengan kepribadian akan membuatnya lebih nyaman. Tapi, semua berubah sejak saat itu. Tidak ada lagi cat dinding berwarna hitam. Semua terganti. Cat biru langit yang terang membuat suasana kamar yang redup terlihat lebih hidup. Challista mendengus, menahan senyum saat dia masih menyimpan perahu kertas yang dia tempel ke dinding kamar sebagai penghias. Challista tidak pernah pulang ke rumah untuk tidur semenjak dia angkat kaki dari kediaman orang tuanya. Sejak dia lulus SMA, sejak dia kuliah, dia memilih untuk hidup di apartemen. Challista menawarkan diri untuk tidur di kamar kos, dan secara tegas sang ibu menolak. Tidak mau putri semata wayangnya tidur di kamar berbau pengap dan terkontaminasi bau kamar mandi yang jarang dibersihkan. Padahal, tidak semua kamar kos begitu. Dan Challista tidak punya kuasa untuk membantah saat satu unit apartemen dibelikan sang ibu dalam waktu kurang dari lima menit. Dekat dengan kota, tidak terlalu jauh dari kampus, dan yang pasti; mahal. Jadi, ketika dia pulang ke rumah, yang dia dapati hanyalah sisa kenangan. Tidak ada apa pun yang tertinggal di dalam kamar yang menjadi saksi bisu perjalanan masa kecil hingga remajanya. Challista duduk di atas kursi depan meja rias. Menatap pantulan dirinya sendiri yang sudah tampil sempurna. Masih ada setengah jam lagi sebelum Willy datang menjemput. Challista menarik napas, menatap ponselnya di atas nakas. Aku di rumah orang tuaku. Jemput aku di sini. Terkirim. Desingan mesin AC di dalam ruangan menjadi satu-satunya bunyi yang menemani. Challista duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya dalam diam saat Willy tidak kunjung membalas. Dengan pelan, dia kembali menaruh ponselnya ke atas nakas sampai sikutnya nyaris mendorong pigura berwarna merah jambu itu terjatuh. Challista mengernyit. Menemukan pigura fotonya bersama Agnia di taman hiburan. Gadis itu memakai bandana Mickey Mouse. Dan Challista memakai bandana berbentuk kelinci berwarna biru. Senyum Agnia lebih lebar dari senyumnya yang setipis benang. Challista tersenyum, menyentuhkan jemarinya guna mengusap kenangan itu. Dia kembali menaruh pigura itu hati-hati. Mengusap debu yang menempel di tepi pigura. Yang dia yakini tidak ada. Karena Bibi Kana menjaga kamarnya sebagaimana dia merawat Challista sejak kecil. Matanya bergulir. Menangkap pigura berbentuk jam yang terselip di antara tiga pigura lainnya. Challista terpaku, mengulurkan tangan saat dia membawa pigura itu ke genggaman tangan. Selamat untuk keberhasilanmu. Aku benar-benar bangga :) —Challista. Kedua mata Challista mengerjap. Sorot mata itu berubah redup seiring usapan jemarinya bergetar pelan menyentuh permukaan kaca yang mulai berdebu, terkikis oleh waktu. Pantulan kekuningan itu mulai menunjukkan usia. Sudah sepuluh tahun, dan rasanya baru kemarin. Challista merasakan dadanya sesak. Kedua matanya berbayang basah. Di sana, potret Wallius Ethan yang memasang wajah angkuh berdiri di podium peringkat satu. Pemuda berusia tujuh belas itu juga memakai kalung piagam emas yang melingkari lehernya dengan tulisan dalam bold tebal PERINGKAT SATU. Besar-besar. Dan mencolok. Ethan tidak menunjukkan pose apa pun selain senyum yang menyiratkan sebuah kepuasan dan kebanggaan. Challista terpaku diam, menatap dalam gamang sosok yang terkenang di dalam foto lekat-lekat. Senyum Challista perlahan naik. Bibirnya bergetar saat dia berkata lirih dalam gumaman. "Maaf, ya. Aku mengambil gambarmu diam-diam." Dan mendengus menahan senyum. Kenangan itu masih melekat dengan baik dalam ingatannya. Semua tentang masa remajanya yang abu-abu berubah laksana pelangi setelah hujan. Challista menaruh pigura itu di tempat semula. Menghela napas panjang saat dia menatap ke sekeliling kamar. Tersenyum samar. Membawa dirinya untuk duduk di meja rias. Challista menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Gadis berusia dua puluh delapan yang terlihat kesepian. Tatapan Challista merunduk. Menemukan laci yang terkunci rapat di bawah meja rias. Challista memiringkan kepala, mencari kunci dalam kaleng yang ada di meja, mencoba membukanya. Dan berhasil, dia menemukan satu kotak berwarna merah hati tersembunyi di dalam sana. Challista membawa kotak itu ke atas meja. Mengangkat alis saat dia mulai membukanya. Dan kepalanya berdentam. Saat kenangan demi kenangan itu kembali teruntai layaknya benang yang terputus, kembali menyatu. Tangannya mengeluarkan satu demi satu barang yang tersembunyi di dalam kotak. Challista menahan napas. Menemukan satu bungkusan makanan yang sudah kadaluarsa. Ini sudah sepuluh tahun. Jelas ini berjamur. Challista menatapnya dalam diam. Menatap bungkusan yang tidak lagi sama seperti di awal dia membuatnya. Dan diam-diam, pandangan matanya meredup. Kedua bahunya merosot. Senyumnya melebar lebih lebar lagi saat dia membuka loker. Menemukan sekotak pie s**u yang dia buat sejak semalaman bersama Bibi Kana masih ada di dalam lokernya. Challista menggigit bibir, membawa kotak pie s**u itu ke dalam pelukannya. Saat dia membuka isinya, dan harum dari pie s**u menusuk hidungnya. Menutup lokernya, Challista segera membawa kotak pie s**u itu menjauh dari lorong. Senyum tidak juga lepas dari wajah manisnya saat rona merah perlahan menjalar di kedua pipinya. Challista berdeham. Memeluk kotak pie s**u itu di dadanya saat sosok yang dia cari-cari menunjukkan batang hidungnya. Tatapan matanya berubah hangat. Challista menggigit bibir menahan debaran jantungnya yang menggila, tidak bisa terkontrol dengan baik. Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Challista terus mengulanginya dalam hati. Hingga tanpa sadar kedua kakinya tertahan diam sembari menunggu sosok itu mendekat. Wallius Ethan menunduk, menatap MP3 Player miliknya dalam diam. Kepalanya terangguk berulang kali, berjalan tenang sembari menyusuri koridor yang sepi. Tremor di tangan Challista semakin hebat. Gadis itu mencoba menahan diri untuk tidak gugup dan merona jauh lebih dari ini. Saat senyumnya mengembang lebih lebar lagi, saat sorot dingin itu berubah jauh lebih hangat dan bersahabat. Challista tidak kurang seperti remaja pada umumnya. Yang berdebar dan berbunga-bunga. Ini wajar, kan? Fase ini ... wajar. Saat langkah Ethan mendekat, ketika ketukan alas sepatu itu menyapa gendang telinganya, Challista bernapas gugup. "Ethan." Dan pemuda itu tidak menyahut. Melainkan hanya diam. Terus menatap lurus ke depan, sampai dirinya bergeser agar tidak menabrak Challista yang berdiri di tengah, menunggunya dengan sekotak pie s**u sebagai hadiah. Untuknya. Ethan berjalan santai. Dengan earphone di telinga. Tidak lagi menghiraukan Challista yang gemetar di belakang punggungnya. Tidak lagi peduli bahwa matahari yang sempat bersinar kini perlahan tertutupi kabut, dan awan mendung yang saling merangkul satu sama lain. Kaki Challista gemetar. Saat kedua matanya mengerjap berulang kali. Saat dia ingin menampik bahwa Ethan tidak melihatnya yang tengah berdiri menunggu dirinya. Ethan melihatnya. Jelas. Dan pemuda itu mengabaikannya. Challista menarik napas. Merasakan denyutan di dadanya tak lagi tertahankan. Tangannya gemetar saat kepalanya menunduk, menatap kotak pie s**u yang masih berjumlah utuh seperti semalam saat dia membungkusnya dengan cantik. Challista menggigit bibir. Menoleh ke belakang saat punggung Ethan semakin menjauh dari pandangan matanya. Entah pandangannya atau bagaimana, tetapi Challista merasa kedua matanya basah. Berkabut. Jemari Challista terulur untuk membuka kotak pie s**u itu. Saat dia mendengar beberapa gadis yang lewat menertawainya dalam kepuasan yang amat sangat. Challista seakan tuli. Dia tidak mau peduli. Ketika jemarinya menggenggam secarik kertas dengan tulisan tangan seindah mungkin yang bisa dia berikan sebagai pelengkap terakhir kejutan yang ingin ia berikan pada Wallius Ethan. Selamat ulang tahun! Maaf kalau pie s**u buatanku tidak seenak buatan ibumu. Tapi, aku harap, kau menyukainya. Hehe. —dari, Challista. "Hei! Challista menangis!" "Hahahaha! Rasakan! Untuk siapa pie s**u itu? Coba lihat." Challista merasakan kotak pie s**u itu tertarik dari tangannya. Mendarat ke atas lantai ketika dia mengerjap, menatap nanar pada sepuluh pie s**u yang tercecer di atas lantai. Semua tawa pecah, membahana hingga membuat telinga Challista nyeri. Dengan tangan gemetar, Challista memungutnya dalam diam. Mencoba mengembalikan sepuluh pie s**u itu ke dalam kotak, sebelum dia berlari pergi, menjauhi koridor dan tawa yang lepas dari mereka-mereka yang bahagia melihatnya menderita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD