Alih-alih menjawab, ia malah menangis. Hal yang membuat Fadlan cuma bisa terdiam, mengeras di tempat duduknya. Bahkan hingga sekarang pun, Fadlan tak kunjung mendapatkan jawaban yang ia ingin kan. Jadi untuk apa mereka lanjutkan lagi? “Hapus,” tutur Fadlan lantas menyerahkan tissue. Ia berdeham saat ada abang-abang Padang alias pelayan yang mengantar pesanan mereka. Icha segera menghapus air matanya. Ia menatap lelaki di depannya yang menyuruhnya makan. Fadlan bahkan makan cepat sekali. Lelaki itu salah memahami tangisnya. Ia kira, ia ditolak. Padahal Icha hanya terharu karena akhirnya lelaki itu membicarakan hal itu lagi. Icha pikir, Fadlan mungkin sudah tak ingin lagi menikahinya. Sepanjang menghabiskan makanan, keduanya hanya terdiam. Fadlan pun enggan membuka suara lagi. Icha juga. I

