Belum apa-apa gadis itu sudah gugup. Sudah gugup sejak dua hari yang lalu sih. Ia bahkan terus kepikiran selama dua hari ini. Fadlan yang baru tiba di kontrakannya untuk menjemputnya, terkekeh melihat tampang tegang itu. “Biasa saja tampangnya,” ledek lelaki itu. Icha cuma menghela nafas. Kalau Fadlan mungkin sudah biasa meng-hadapi para orang tua. Mengingat lelaki itu pandai sekali berbisnis. Sedangkan ia? Ah, padahal dosen-dosen di kampusnya juga para tetua. Tapi menurutnya kali ini berbeda. “Kalau Mami kamu tak suka gimana, kak?” Ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Fadlan tertawa kecil. Ia menarik tangan gadis itu agar segera melangkah menuju mobilnya. Keluarganya sudah me-nunggu di rumah. Sudah tak sabar ingin melihat calon mantu. Keluarga besarnya juga akan segera datang nant

