Bab 2.1

1271 Words
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahannya?" tanya Tristan yang menatap Billy dan Adelia bergantian. Memang hari pernikahan mereka, si calon pengantinlah yang menentukannya. William, Andini, dan Ruth ikut menatap Billy dan Adelia. "Iya, kapan kalian akan menikah?" tambah Ruth. "Kami akan membantu persiapan pernikahan kalian," sambung Andini. "Apa kalian akan menikah besok?" kali ini William-lah yang angkat bicara, nada suaranya terdengar jenaka membuat para orang tua terkekeh. Lain halnya dengan Adelia yang hanya tersenyum kaku, Billy tengah tersenyum sumringah. "Kami memutuskan akan menikah satu minggu lagi." jawaban Billy membuat semua orang kaget tak terkecuali dengan Adelia. "Apa tidak terlalu cepat?" tanya William. Billy tersenyum sebelum menjawabnya. "Lebih cepat, lebih baik." "Baiklah, kalau itu keinginan kalian. Kami sebagai orang tua hanya bisa membantu," ucap Tristan dengan senyum bijaksananya. *** "Sayang, kamu sama Billy jadi pergi ke toko kuenya?" Tanya Andini pada Adelia yang tengah asik ngemil. Tiga hari lagi, status Adelia akan berubah menjadi seorang istri, dan hari ini adalah hari di mana Adelia dan Billy akan memesan kue untuk pernikahannya. Biarpun pernikahan Adelia dan Billy akan berlangsung sederhana, tapi mereka ingin prosesi pernikahannya sama dengan acara pernikahan pada umumnya. Kembali ke topik awal, Adelia tidak begitu menanggapi pertanyaan ibunya itu, ia masih sibuk mengemil. Dan malah menselonjorkan kakinya ke meja. Persis seperti kelakuan anak laki-laki. "Adelia, kamu ini, ditanya Mamanya malah asik makan, kamu udah kayak ibu-ibu hamil aja, suka nya ngemil." Andini menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putri semata-wayangnya bertingkah seperti anak laki-laki, padahal tiga hari lagi statusnya akan berubah. "Kamu ini perawan Del, tapi kelakuan kamu masih kayak anak kecil aja, untung udah dapet jodoh," ucap Andini lagi yang bisa menghentikan aktivitas Adelia. Adelia tertegun, ia memang masih perawan, selaput daranya belum dirobek, tapi dia kan sudah hamil, bagaimana penyebutan untuk hal itu? Adelia tidak memikirkan lagi kata-kata ibunya. Sesuatu dalam perutnya kembali bergejolak, membuat sesuatu dari perutnya ingin berdesakan keluar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adelia langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamarnya. Andini mengernyitkan dahinya melihat kelakuan putrinya yang tidak seperti biasanya itu. "Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya langsung pergi, apa anak itu lagi PMS, ya? Yah, malam pertama Billy pasti nggak jadi kalau Adelnya lagi PMS," gumam Andini dengan v****r-nya tanpa memedulikan tanggapan orang yang mungkin mendengarnya. Sementara itu, Adelia yang sudah berada di kamarnya langsung berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Adelia terduduk di lantai kamar mandi, ia mengusap bibirnya. "Sungguh melelahkan, bagaimana kalau di hari pernikahan nanti aku kembali mual, pasti orang-orang akan berpikir aneh-aneh, aku nggak mau ngerusak nama baik keluarga, tapi aku harus gimana?" gumam Adelia. "Apa aku browsing di internet aja ya? Ya, aku harus cari info tentang kehamilan," ucap Adelia lagi. "Siapa yang hamil?" Suara itu membuat Adelia berjingkit kaget, dengan perlahan Adelia menoleh, ia terkejut mendapati ibunya tengah menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. "A-apa kamu yang ha-hamil?" tanya Andini lirih, matanya tampak berkaca-kaca. Adelia hanya bisa menunduk, tangannya memilin-milin kaos oblong yang dikenakannya. "Jawab mama, apa kamu yang hamil?" tanya Andini mengulang pertanyaan tadi. Adelia semakin menundukkan kepalanya. Andini berjalan mendekat, ia memosisikan tubuhnya sama seperti Adelia. "Jawab mama sayang, mama nggak akan marah." Adelia mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah ibunya dengan pandangan bersalah. "Maaf." Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Adelia. Namun satu kata itu sudah dapat menjelaskan semuanya. Tubuh Andini langsung meluruh, tangisnya pecah memenuhi sudut ruang kamar mandi itu. "Maafin Adel Ma? Adelia nggak ngelakuin apapun sama pak Billy, dan Adelia juga nggak tahu gimana Adelia bisa hamil tanpa melakukan hubungan itu," ucap Adelia lagi, nada suaranya terdengar lirih. "Bagaimana Mama bisa percaya kalau kamu belum pernah melakukan itu?" Tanya Andini, suaranya seperti tercekat. "Mama bisa lihat kemaluan Adel, masih rapat atau enggak. Percaya sama Adel Ma, Adel nggak pernah berbuat seperti itu," ucap Adelia. Andini memejamkan matanya, kemudian wanita itu menyuruh Adelia untuk berdiri dan melepas celananya. Biar bagaimana pun Andini harus membuktikan alasan putrinya itu. Andini langsung memeluk Adelia, ketika mengetahui jika ucapan Adelia itu benar adanya. Putrinya itu jujur padanya. "Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Andini. "Adel benar-benar nggak tahu, Ma. Yang Adel tahu, beberapa hari lalu Pak Billy datengin Adel dan langsung ngajak Adel menikah, Adel benar-benar nggak tahu apa-apa, semua itu terjadi begitu saja," ucap Adelia yang kini sudah menitihkan air matanya. "Mungkin ini takdir yang Tuhan berikan untuk kita." Andini mengusap air matanya, dan tiba-tiba menuntun Adelia untuk berdiri dan keluar dari kamar mandi. "Mendingan, kamu siap-siap sekarang, Billy udah nunggu kamu di bawah," ucap Andini kembali ke mode awalnya. "Ma-ma nggak marah?" tanya Adelia takut-takut. Andini tersenyum dan memeluk Adelia sebentar. "Tentu saja Mama nggak marah, Mama percaya sama kamu, hanya saja mama kecewa, walaupun kamu bilang kamu nggak pernah berhubungan badan dengan Billy, tapi perasaan seorang ibu akan sedih jika mengetahui anaknya hamil di luar nikah," ucap Andini yang membuat Adelia menundukkan kepalanya. "Sudahlah sayang, jangan pikirin itu terus, kandungan kamu masih terlalu muda, Mama takut terjadi sesuatu denganmu atau pun kandunganmu. Oh ya berapa usia kandunganmu sekarang, mama nggak sabar gendongnya?" tanya Andini yang sepertinya sudah tidak mempermasalahkan kehamilan Adelia lagi, Andini terlihat antusias sekarang. Andini sudah sedikit mengerti dengan apa yang terjadi, meskipun Adelia sama sekali belum memberitahunya. "Adel nggak tahu berapa usia kandungan Adel, Adel belum sempat periksa ke dokter." Adelia berusaha tersenyum. "Ya udah kalau gitu, kamu siap-siap gih. Kasihan Billy udah lama nunggu kamu, nanti sekalian aja kamu periksa kandungan kamu itu," ucap Andini sambil mengelus-elus perut Adelia yang masih rata. "Iya, Ma." "Ya udah, Mama ke bawah dulu, mau nemenin calon mantu." Andini mengecup kening Adelia, lalu berjalan keluar dari kamar Adelia. "Wah, Billy jadi nih dapet jatah malam pertama, hehe." Andini terkekeh di akhir kalimat yang ia ucapkan. Entah mengapa, ia merasa tidak lagi terbebani dengan kehamilan Adelia yang di luar nikah. Mungkin karena ia tahu, jika putrinya itu tidak melakukan hubungan badan sebelum waktunya. Sementara itu, Adelia mulai bersiap-siap. Ia mengambil mini dress berwarna merah marun, dengan lengan dengan panjang mencapai siku-sikunya. Setelah selesai berpakaian, Adelia mengambil sling bag nya, lalu berjalan menemui Billy yang sudah menunggunya di ruang tamu. **** "Nak Billy udah berapa lama jadi dosen?" tanya Andini pada calon menantunya itu. "Sekitar dua tahunan, Tan. Billy cuma jadi dosen honorer saja, pekerjaan utama Billy lebih penting." Billy tersenyum saat menjawab pertanyaan Andini. "Oh iya ya, kamu kan juga jadi dokter. Tante lupa, maklum udah tua." Andini terkekeh. Billy hanya tersenyum membalas ucapan Andini. "Tuh, Adelnya udah dateng, tante tinggal dulu ya," ucap Andini sebelum beranjak pergi. "Iya, Tan. Terima kasih untuk kopinya."Andini hanya tersenyum, ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Andini mengedipkan sebelah matanya saat berjalan di depan Adelia, seolah berkata 'semoga sukses'. Adelia mengangguk lalu tersenyum. Suasana di ruang tamu tiba-tiba hening, "Adel, ayo kita pergi sekarang," ucap Billy memecah keheningan. Adelia hanya mengangguk. **** "Bagaimana, kamu mau kue yang seperti apa?" tanya Billy dengan matanya yang menatap Adelia lekat. "Eh?" Adelia mengerjap-ngerjapkan matanya, suara berat Billy membuat lamunannya terhenti. "Kamu mau kue yang bagaimana, Adel sayang?" tanya Billy dengan senyum hangatnya. "Terserah kamu," jawab Adelia lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa malu mendengar panggilan sayang dari Billy. Tiba-tiba pipinya terasa memanas saat Billy memanggilnya sayang. Bukan hanya wajahnya yang bereaksi, jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. "Ada apa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba berdetak sekencang ini?" batin Adelia. Billy yang melihat tingkah Adelia tersenyum. Hatinya terasa menghangat saat melihat Adelia. "Apa aku mulai menyukainya? Atau bahkan mencintainya? Nggak mungkin, nggak mungkin secepat ini aku menyukainya." kali ini batin Billy lah yang bertanya-tanya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD