bab 2

748 Words
Bab 2 Setelah percakapan-percakapan semalam, kedua belah pihak keluarga memutuskan bahwa hari ini adalah hari pertunangan Adelia dan Billy. Adelia tidak mengundang teman-temannya, sama halnya dengan Adelia, Billy juga tidak mengundang teman-temannya. Mereka sepakat tidak akan mempublikasikan hubungan mereka, mereka akan merahasiakan hubungan mereka itu, sampai keduanya benar-benar sudah saling mencintai. "Pak Billy, kenapa saya bisa hamil anaknya bapak?" Adelia bertanya pada Billy yang berada di sampingnya. Saat ini, mereka tengah berduaan di area kolam renang yang ada di rumah Adelia. Pertunangan akan dimulai sekitar satu jaman lagi, tertunda dua jam dari waktu yang sudah ditentukan, hal ini diakibatkan karena beberapa kerabat Adelia dan Billy ada yang belum tiba. Billy hanya diam mendengar pertanyaan Adelia, matanya terus memperhatikan gerak tubuh Adelia yang terus mengayun-ayunkan kakinya di dalam kolam renang, pandangan Adelia hanya tertuju pada arah depannya, tatapannya hanya kosong. "Kenapa bapak tidak menjawabnya?" Adelia kembali bertanya. Pandangannya masih menyelisik arah depannya, seperti tidak ada niat untuk menatap Billy. "Apa pertanyaan saya terlalu sulit, untuk bapak jawab?" Billy tetap diam, pandangannya beralih ke air kolam renang yang tampak beriak karena pergerakan kaki Adelia. "Bukankah, bapak sudah tahu jawabannya?" kali ini Adelia berucap dengan pandangan mata yang sudah menatap Billy sepenuhnya, merasa dirinya tengah ditatap, Billy menolehkan kepalanya. Manik mata Billy bertemu dengan manik mata Adelia. Pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat. "Saya tidak berniat memberitahu kamu, dan saya berharap kamu tidak akan pernah tahu," jawab Billy akhirnya, Adelia mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah berusaha mencerna ucapan Billy. "Lalu, bagaimana jika saya tahu apa alasan bapak itu?" Adelia menyuarakan pemikirannya, lagi. "Mungkin kamu akan meninggalkan saya," jawab Billy spontan, tanpa memedulikan tanggapan Adelia nantinya. Benar saja, Adelia mengernyitkan dahinya, pertanda jika ia tengah bingung. "Kenapa bapak takut saya tinggalkan? Bukankah, di antara kita memang tidak ada rasa? Jadi, saya pikir itu tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan bapak," ucap Adelia, seakan tersadar dengan ucapannya barusan, Billy sedikit terkejut mendengar alasan yang tadi ia ucapkan. "Saya tidak tahu, tapi sebagian dari hati saya tidak menginginkan perpisahan itu. Apalagi kita sudah terikat dengan adanya bayi di perut kamu." kernyitan di dahi Adelia semakin bertambah. Lalu dia berkata, "bapak semakin aneh saja, jujur saya sama sekali tidak mengerti dengan cara pandang bapak." Adelia terkekeh kecil, kekehan itu membuat fokus Billy kembali tertuju pada Adelia. "Cantik." Billy sedikit terkejut dengan batinnya yang bereaksi spontan. Matanya ia kerjap-kerjapkan beberapa kali. "Sudahlah, saya pergi dulu. Dandanan saya sedikit berantakan, permisi pak Billy." Adelia beranjak dari duduknya dan mulai memasuki kamarnya. Sementara Billy masih tertegun dengan suara hatinya tadi. Pikirannya berkelana kemana-mana. "Aku tidak mungkin melupakannya dalam waktu sesingkat ini, tapi?" otaknya seakan menolak apa yang hatinya ucapkan. "Ah sudahlah, lebih baik aku juga bersiap-siap. Pasti sebentar lagi tamunya akan benar-benar datang," gumam Billy yang langsung beranjak dari duduknya dan mulai memasuki rumah Adelia. **** Tamu-tamu undangan tampak memandang antusias, pemandangan menarik yang ada di hadapannya. Di mana dua orang manusia berlawan jenis, akan menyematkan cincin di masing-masing jari manis mereka. Pertama, si laki-laki menyematkan cincin di jari manis sang perempuan. Terdengar riuh tepuk tangan para tamu undangan, menyambutnya. Acara berlanjut dengan giliran si perempuan yang menyematkan cincinnya di jari manis sang laki-laki. Riuh tepuk tangan kembali bergema. "Saudara Billy Almando Wijaya dipersilahkan mencium saudari Adelia Diatri Subroto." ucapan sang MC membuat Billy dan Adelia terkejut. Billy memandang Adelia dengan tatapan bertanya. "Apa boleh?" seperti itulah kira-kira apa yang dipertanyakan Billy. Adelia mengangguk kecil seakan setuju. Billy tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Adelia. Dalam hati Adelia berharap Billy akan menciumnya di kening, bukan di bibir. Tapi sepertinya harapan itu tidak terkabulkan, karena beberapa saat kemudian, bibirnya sudah bertemu dengan bibir Adelia. Hanya menempel, tanpa ada lumatan, hisapan, atau gigitan seperti yang ada di cerita-cerita novel yang pernah Adelia baca. Ya, sebatas menempel saja. Tepuk tangan terdengar riuh menggema di ruangan keluarga Adelia yang besar dan megah itu, tepuk tangan yang lebih meriah dari yang sebelumnya. Dan juga disertai sorakan-sorakan para tamu yang membuatnya terdengar meriah. Billy menjauhkan bibirnya dari bibir Adelia. Ia menyunggingkan senyumnya, seolah meminta maaf dan Adelia hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Baiklah karena pasangan sudah melakukan prosesinya, para tamu undangan dipersilahkan menikmati jamuannya," ucap MC kemudian yang disambut oleh sorakan para tamu. Billy yang masih berdiri di tempatnya, mulai merutuki perbuatannya tadi. Bisa-bisanya ia mencium Adelia, tapi sungguh bibir Adelia sangat menggodanya untuk sekedar mencicipi bibir berpoles lips tick bewarna oranye pastel itu. Billy sepertinya sudah mulai gila. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD