"Jangan, Mu Heng! Hentikan! Aku tidak sanggup lagi." Mu Heng tidak menghiraukanku sama sekali. Suara berat terus keluar dari tenggorokannya. Dia terpaut dalam kenikmatannya dan tidak berhenti menggosokkan ‘adik’nya. "Kakak Ipar, kamu sangat cantik, aku mencintaimu." Tiba-tiba cengkeraman tangannya semakin kuat dan gerakannya kian cepat. Aku merasakan ada cairan yang meledak di lubang kemaluanku. Satu erangan lolos dari mulutku. Tubuh Mu Heng yang menempel erat di punggungku terasa bergetar. Air mataku membasahi bantal dan mengenai rambut. Aku menjatuhkan diri di tempat tidur sambil menahan sakit hingga meringkuk seperti bola. “Kakak Ipar, suatu hari nanti aku akan menjadikanmu sebagai wanitaku,” kata Mu Heng di telingaku.Setelah itu dia pergi dan suasana menjadi hening seperti tidak ter

