Aku berjalan santai di luar saat sore hari dan tidak kembali ke rumah sampai aku yakin bahwa Mu Heng telah pergi. Sesampainya di rumah, aku tidak melihat siapapun di sana. Lalu ketika aku sedang duduk di sofa dengan perasaan linglung, tiba-tiba teleponku berdering. Itu ternyata pesan teks dari suamiku. "Aku tidak akan pulang untuk makan malam karena ada sedikit urusan. Jaga dirimu, Sayangku." Langit di luar jendela perlahan terlihat memudar. Aku berdiri dan berjalan ke kamar Mu Heng tanpa sadar. Ruang kosong itu membuat hatiku sakit dan air mata jatuh di wajahku. Aku memejamkan mata sambil mengingat ketika masih ada tawa di ruangan ini. Ada seorang anak laki-laki yang mengejarku sambil berlari dan memanggilku ‘Kakak Ipar’. Anak laki-laki yang kerap membantuku dengan pekerjaan rumah dan

