CHAPTER 10

1438 Words
CANDICE EMRYS KENDATI tidak ada sumber penerangan di kamar asramaku—jangan lupa perihal kemampuan kaum Nightfall di tengah kegelapan—warna ungu masih tampak mencolok. Interior kamar asrama ini mempunyai warna selaras dengan dinding dan langit-langit ruang. Bisa kulihat sebuah lampu pijar dalam keadaan mati menggantung di langit sana, entah aku perlu merasa lega atau tidak karena hanya itu satu-satunya interior dengan warna bukan ungu, melainkan putih bak lampu normal. Di balik kesenyapan, terdengar dengkuran Tessa. Aku menahan godaan untuk tidak merekam dengkuran si penyuka fanatik warna ungu dan menyebarkan suara itu ke seantero Asrama Nightfall guna memburukkan reputasinya—sebab tidak mencerminkan kesempurnaan gadis itu sama sekali. Jika saja ia tidak mencari ribut di hari pertama aku menetap di asrama, sudah pasti aku tidak akan memiliki niat buruk tersebut. Dan setidaknya, ia masih beruntung karena aku dapat menahan godaan yang sejak tadi menggerayangi benakku. Mengalami insomnia baru pertama kali ini kurasakan di sepanjang sejarah tujuh belas tahunku yang kurang dari beberapa menit lagi. Entah dengkuran Tessa atau warna kesayangannya atau ada hal lain, instingku seakan-akan tidak mengizinkanku untuk terlelap. Perasaanku menjadi gamang, bukan karena ketinggian atau sesuatu yang kutakutkan—namun lebih dari ini. Sesuatu yang membahayakan. Sesuatu yang tidak kutahu apa. Sesuatu yang mampu memacu adrenalinku. Butiran biji jagung sekonyong-konyong mencuat dari ubun-ubun kepalaku dan bersimbah deras di wajahku, seiring dengan timbulnya rasa nyeri di bagian dadaku. Aku meremas dadaku cukup keras, tetapi masih tahan untuk tidak meloloskan erangan dari penghujung lidah dengan cara menggigit bibir bagian bawah. Belum sampai di sana, ceruk leher bagian kiri milikku terasa panas. Sebelah tanganku terangkat untuk mengusap ceruk leherku demi meminimalisasi rasa panas membara yang menggelenyar dan berakhir tidak membantu sama sekali. Tanganku berpindah sampai keduanya berada di d**a dan kuhantamkan mereka secara bersamaan. Rasa nyeri kian menggila, napasku mulai tidak karuan, sementara kedua kakiku mulai menghantam kasur seprai ungu dengan sangat keras hingga berhasil membuat Tessa kembali terjaga. Tubuhku menggeliat dan bergulung-gulung seperti kesetanan, kali ini tidak tahan untuk tidak berteriak. Bahkan aku terlalu sibuk menghentikan kegilaan ini hanya untuk mengetahui derap langkah kaki gadis itu yang terdengar mendekat. “Berhenti membuat keributan! Kau begitu berisik sampai-sampai aku terbangun dari tidurku!” hardiknya, berkacak pinggang dengan dongkol. Jeritanku sukses mengumpulkan seluruh kesadaran si gadis ungu. Raut wajahnya menjadi pucat pasi, ia semakin melangkah maju dengan penuh keraguan. Kali ini, tidak ada raut menjengkelkan di sana—alih-alih ketakutan. Berbeda dengan Tessa, aku semakin bergulung-gulung tanpa henti dan menghantam dadaku berkali-kali dengan tanganku sendiri. Sensasi panas kian merambat pada ceruk leher bagian kiriku, kali ini merangsek hingga ke otak. Atmosfer yang merebak di sekelilingku terasa semu, kosong, menyedihkan, sekaligus mencekik. Tessa memekik dengan suara lengking, “Demi Sang Penguasa, hentikan! Jangan membuat kamar asrama kita menjadi kapal pecah!” Butuh beberapa waktu untuk menangkap maksud perkataan si gadis ungu. Interior di ruangan kotak ini mulai berhamburan dengan sendirinya—atau dari sihirku sendiri yang kehilangan kendali dan membuat mereka seperti ini. Namun, tidak ada yang bisa kulakukan selain terus menjerit-jerit dan merasakan sensasi panas yang mengarus setiap pembuluh darahku. Mengendalikan sihir tidak pernah masuk ke dalam pembelajaranku—bahkan aku tidak tahu mengapa sihirku bisa keluar dan membuat kamar asrama kami menjadi penuh haru biru. Sebuah lukisan lavendel berbingkai menghantam pintu kamar asrama, melintasi pelipis Tessa dengan luncuran kasar. Suara gedebuk langsung pecah dan Tessa kontan berlarian menuju sudut ruangan dengan raut semakin pucat pasi. “Sudah kubilang, hentikan! Kau tentu tahu kalau kamar asrama terakomodasikan oleh peredam suara dan tidak akan ada yang bisa kemari jika kau membunuhku telak, Emrys!” hardiknya lagi. Kali ini, hardikan gadis itu jauh lebih terkesan perintah meski indra pendengarku lebih bisa mendeteksi ketakutannya. “Akan kulakukan jika aku bisa!” jeritku. Itu adalah jeritan pertama yang mana paling jelas di antara jeritan lain, sebab setelahnya aku kembali menjerit tanpa melontarkan kalimat apa-apa. Jantungku berdebar-debar dalam sensasi tidak wajar. Dadaku nyeri setengah mati seperti ada sesuatu yang mencekik bagian jantungku. Cairan bening lolos dari pelupuk kedua netraku karena tidak sanggup lagi untuk membendung seluruh air mata. Sihir yang kulontarkan ke sepenjuru interior kamar asrama semakin merusuh. Tubuhku menghadap Tessa secara tanpa sadar—dengan visual terasa buram dan kosong, tetapi ada sensasi besar untuk menerjang si gadis ungu. Bisa kurasakan tatapanku kepada Tessa semakin dingin, tajam, dan tak berhati. Satu tanganku terentang kepadanya, masih dari posisiku kepada ia yang berdiri di posisinya. Percikan cahaya disertai oleh gelenyar aneh mulai menjalar sampai ke telapak tanganku—sampai-sampai beberapa interior terangkat dan menghalangi pergerakan si gadis ungu dalam melarikan diri. Ia menjengit dengan punggung terantuk dinding, sementara interior di depan Tessa mulai bergerak mendekat dan mengungkungnya dalam kesatuan setengah lingkaran. Deretan gigi bagian atas dan bawah Tessa menggertak. Gadis itu kontan menggerakkan kedua tangan ke depan dan akan mengeluarkan sihir spesial apinya kalau saja aku tidak dapat membaca pergerakannya dengan enteng. Mulai dari jam dinding, vas bunga, kursi kayu, dan interior-interior lain kembali melayang sesuai dengan arah rentanganku. Mereka membantuku menghalau api milik Tessa yang bertubi-tubi dan melenyapkan sihir spesialnya secara keseluruhan. Kedua sudut bibirku terangkat dengan sendirinya. Aku mulai beringsut menghampiri Tessa seraya melontarkan seringaian yang muncul tanpa kuminta. Seluruh sensasi tak wajar tadi tergantikan oleh kepuasan ketika melihat wajah mainanku semakin pucat pasi. Ia berusaha bergerak mundur, tetapi dinding ungu itu menyekatinya. Setiap pergerakan si gadis ungu tampak serba salah; interior-interior mengimpit tubuh jangkungnya seperti berada di dalam kandang singa. Bukan salahku, sebab Tessa merupakan yang pertama mencari gara-gara. “Sihir spesialmu tidak akan pernah bisa mengalahkanku.” Tanpa kuduga, bibirku berkata demikian dengan begitu percaya diri. “Jangan.” Tessa mengampun dengan tubuh gemetaran ketika aku satu langkah lebih dekat darinya. “Kau bisa merusak—melenyapkan—kamar asramaku, tetapi tidak dengan sihir spesialku.” “Oh ya? Sayangnya, aku lebih tertarik melenyapkan apimu ketimbang kamar asrama kita.” Seringai lebar kontan kutoreh di wajahku. Interior-interior beterbangan mengelilingiku seperti benteng, kemudian saat kuacungkan jari telunjuk tepat di depan hidung Tessa, mereka hampir menerjangnya jika saja tidak terhantam oleh sesuatu secara mendadak. Interior-interior tersebut kini berhamburan di atas lantai kamar asrama dalam kondisi hancur. Dengan setengah murka, aku menengok ke arah sumber hantaman. Sepasang mataku membeliak penuh amarah saat mendapati figur si pemuda arogan yang baru kelihatan di sini. Ia berdiri di ambang jendela kamar asrama yang terekspos lebar dan menatapku dengan sesuatu yang tidak bisa kuartikan. “Beraninya kau mengacau!” teriakku, menunjuk Rhett dengan telunjuk dan menerjang tubuh pemuda itu secara membabi buta. Rhett berkelit dengan gesit, melompat ke sisi kasurku tanpa merasa kesulitan dan berhasil mendarat dengan sempurna. “Candice,” katanya, begitu lembut sampai aku mampu dibuat hanyut sejenak. “Jangan biarkan Insignia Galaxy mengendalikanmu. Percaya kepada dirimu sendiri kalau pada hakikatnya, kaulah yang mengendalikan—bukan dikendalikan.” Bagaikan sebaris kalimat abrakadabra, sepasang mataku tidak lagi menatap sekelilingku dengan rakus. Ketenangan kembali merangsek di atmosfer hingga napasku kini jauh lebih beraturan. Ketika aku mendongak hanya untuk melihat Rhett, pemuda itu tampak tersenyum kecil dan menghampiriku dengan langkah terlatih. Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut—yang kupikir tidak akan pernah ada karena sifat arogan pemuda itu. Kehangatan signifikan kembali tercipta, mendorong air mataku kembali mengalir dan memunculkan sebintik rasa bersalah. “Sakit, ya?” Rhett mengusap ceruk leher bagian kiriku dan memandanginya cukup lama. Aku turut menjatuhkan pandanganku ke titik yang sama, menemukan sebuah simbol kepingan salju di sana—sama persis dengan simbol telur yang menetaskan Glacies tempo lalu. Atensiku teralih ketika Rhett memejamkan mata dengan kerutan di kening. Jemarinya menekan simbol di cerukku dengan lembut dan kembali menciptakan sensasi hangat dan kantuk. Samar-samar, bisa kulihat percikan yang berkelindan dari telapak tangannya. Cara kakakku bertindak lembut seperti ini membuatku perlu berpikir dua kali untuk memastikan apakah aku salah orang atau bagaimana, sebab raut arogan tidak terpancar sama sekali di sana—atau belum. Teringat kembali dengan penuturan Bibi Harlow sewaktu di kendaraan beroda empat Paman Miles. Tidak akan ada seorang kakak yang enggan melindungi adiknya, katanya. Suara wanita itu berkelibangan di otak bagai kaset rusak—hampir sulit rasanya memercayai perkataan bibi tentang pemuda itu. Kurasakan tubuhku lebih lemas dari sebelumnya. Aku tak dapat berkutik ketika Rhett mulai mengangkatku, berjalan ke tepi jendela yang tersingkap tanpa merasa kelelahan dalam mengangkat tubuhku. Pemuda itu tiba-tiba saja melompat dari jendela kamar asrama menuju halaman beralaskan rumput di bawah—mendarat tanpa cacat dan aku terlalu lemah sekadar mengeluarkan suara sedikit pun. Aku meremas kepalan tanganku, lagi-lagi terisak akibat emosi yang bercampur aduk di benakku. “Akan kubuat kau membayar ini, Candice!” Jeritan Tessa terdengar dari atas—tepat di jendela kamar asrama kami. Itu adalah suara terakhir yang kudengar sebelum alam ilusi benar-benar menggerogoti jiwaku sepenuhnya.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD