CHAPTER 11

1492 Words
CANDICE EMRYS KESADARANKU terasa ganjil pasca tertidur entah dalam selang berapa lama. Seluruh kinerja anggota tubuhku sangat kaku, terbaring bangkar seperti kunarpa baru bangkit dari liang lahad. Sinar dari arah sumber penerangan langsung merangsek ke dalam kelopak mataku yang baru terbuka. Setengah bersungut-sungut, dalam hati aku yakin eksistensi lampu hanya sebagai formalitas saja. Entah semenjak kapan, aku lebih terganggu dengan penerangan semacam ini ketimbang kegelapan. Begitu kutolehkan kepala menuju sisi kanan di depanku, dapat aku lihat beberapa perkakas seperti tabung—biasa untuk penelitian—tergantung oleh kumparan kawat di atas meja kayu. Tidak ada cairan di dalam sana, kosong melompong seperti belum ada yang memakainya. Sebuah buku berukuran tebal dengan sampul hijau lusuh juga terletak di atas meja, tepat di samping tabung. Aku belum bisa menarik kesimpulan mengenai ruangan ini hanya dari keberadaan sebuah buku dan tabung tersebut, jadi aku bergegas menoleh ke sisi lain. Aku sempat berspekulasi tempatku berada saat ini adalah kelas kimia—kalau saja tidak mengingat kasur tempatku terbaring. Ternyata, jumlah kasur di sini bukan hanya satu, melainkan enam—masing-masing tiga dan berhadapan. Baru setelah itu, aku bisa menarik kesimpulan ruangan ini adalah ruang medis. Penyihir tentu tidak membutuhkan obat untuk sembuh. Mereka hanya membutuhkan beberapa penyihir atau vampir dengan sihir spesial atau bakat penyembuh. Tidak mengherankan kalau-kalau di sini minim—bahkan sama sekali tidak ada—bau obat yang menguar. Suara pintu terdengar berderit seperti adegan film horor, lirih dan mengintimidasi. Pusat perhatianku kontan teralih menuju Rhett, si pemuda arogan yang baru melangkahkan kaki masuk dengan segelas mineral di tangannya. Ia tidak mengatakan apa-apa sewaktu mata kami bertumbukan. Selagi Rhett datang menghampiri, beberapa keping ingatan mengenai insiden tengah malam kemarin menghantuiku dengan tanpa rasa bersalahnya. Penglihatanku jatuh ke ceruk leher bagian kiriku—keadaannya masih sama seperti kemarin. Masih ada simbol kepingan salju di sana dan berwarna biru muda. Tidak terlalu mencolok sebab kulit putihku tidak jauh beda dengan warna birunya. Namun, akan terlihat sangat kentara bila ditinjau dari dekat dan entah aku perlu merasa malu atau bagaimana terhadap eksistensi simbol aneh tersebut. Rhett mengulurkan segelas mineral tepat di depan mataku. Pemuda yang kulihat semalam tiba-tiba sudah terlihat seperti sebelumnya—arogan meski tidak ada senyum kambing yang kerap ia tunjukkan saat kali pertama pertemuan kami. Ia belum mengeluarkan suara walaupun Rhett telah berdiri di sisi kasur tempatku terbaring. Mengetahui maksudnya, aku kontan menenggak mineral tersebut sampai habis—membasahi kerongkonganku kembali dengan cairan dan terasa hidup kembali dalam sensasi segar yang berlimpahan. “Tidak memiliki kata sambutan seperti ‘adikku, kau sudah bangun?’ atau dengan kalimat-kalimat sarkasme bodohmu itu?” bibirku langsung berkata demikian begitu ada peluang untuk mengatakannya, sekaligus memecahkan kesunyian setempat. “Pertama, kau terlalu percaya diri untuk mengharapkan sapaan adik dari mulutku—bahkan ia tidak sudi untuk melontarkan satu kata sakral tersebut. Pamali.” Rhett tersenyum miring, kali ini benar-benar kembali menjadi pemuda arogan sesungguhnya. “Kedua, menanyakan apakah kau sudah bangun atau belum adalah suatu pertanyaan retorik—jelas-jelas matamu sudah terbuka lebar dan hampir memelotot. Dan terakhir, aku tidak pernah berminat melontarkan kalimat-kalimat sarkasme bodoh yang kaumaksud tadi. Aku tidak seperti kau.” Dengusan lolos dari bibirku. “Kedatanganmu tidak memiliki maksud untuk mengajak ribut, bukan?” “Tentu saja bukan.” Rhett mendudukkan bokongnya tepat di sampingku dan memandangiku dengan sarat tak terbaca. “Kau terlalu sensi denganku, Candice.” Ketika wajahku melengos darinya, pandangan Rhett jatuh ke ceruk leherku. Dengan satu tangan terulur, pemuda itu kembali menyentuh simbol tersebut seperti kemarin. “Insignia Galaxy-mu timbul setelah sihir yang menyegel kekuatanmu lepas. Bertepatan dengan ulang tahunmu yang ketujuh belas.” “Insignia Galaxy?” Rhett mengangguk dengan raut serius. Tanpa melepaskan visualnya dari simbol kepingan es tersebut, ia kembali menerangkan, “Insignia Galaxy merupakan lambang dari Sang Terpilih—kepingan es menjadi simbol dari lambang tersebut, begitu pun dengan Glacies, Sapphire Galaxy, dan Sagal Sphere. Kalian semua memiliki keterkaitan antarsatu dengan yang lain. Kemudian, mengenai insiden malam itu—aku sudah menduga kau akan berakhir seperti kemarin.” “Kau sudah menduga aku akan—nyaris—membunuh kawan sekamarku?” tanyaku, berdecak tak percaya. “Terlalu berlebihan.” Sebelah tangan Rhett terulur kembali hanya untuk menjitak keningku dan meloloskan ringisan dari bibirku. “Tetapi, ada benarnya. Kalau saja aku tidak segera datang, mungkin kawan sekamarmu telah menjadi kunarpa di sudut kamar asrama. Dan bicara soal kawan sekamar, kau akan kami pindahkan ke kamar lain,” katanya. Tidak mengherankan juga kalau Rhett akan memindahkanku ke kamar lain, sebab Tessa telah mengibarkan bendera perang—bahkan sebelum insiden di luar kendali tengah malam kemarin terjadi. Sepatutnya aku bersyukur karena tidak akan menghadapi si gadis dengan serba ungunya kembali. Lagi pula, Tessa menjeritkan nada penuh ancaman kemarin pasca Rhett membawaku pergi. Akan sangat mustahil untuk mendapatkan maaf darinya dan aku juga tidak terlalu peduli dengan penerimaan maafnya. Bagian ceruk leherku tidak lagi terasa dingin oleh sentuhan pemuda itu, sebab ia telah menarik jemarinya kembali. Kemudian, aku bertanya sekaligus menebak, “Bagaimana dengan Glacies? Roselle sengaja menahan Glacies karena kalian tidak ingin aku—katakanlah—kelepasan dan mengubah bentuk kalung itu menjadi pedang, kemudian membunuh mantan kawan sekamarku, bukan?” “Benar,” Rhett menjawab dengan suara tidak nyaman—pasti ia takut aku tersinggung dengan responsnya. “Kau tidak berbahaya, kalau-kalau kau memikirkan itu. Pelepasan segel memang terasa menyakitkan dan dapat membuatmu di luar kendali seperti tengah malam lalu. Terlebih, ini adalah pertama kalinya kau melontarkan sihir. Kau masih termasuk beruntung karena pelepasan ini tidak berakhir traumatis.” “Oh, begitu.” Kami berdiam sejenak karena tidak memiliki pembahasan lebih. Aku menjatuhkan pandanganku kepada Rhett dan meniliknya dari jarak dekat—diam-diam benci mengaku kalau ia sesungguhnya tidak searogan itu. Sorot matanya tampak lebih teduh ketika ia tidak menatapku secara terang-terangan, seperti memiliki alter ego dan membuat kepribadian pemuda itu berbeda dari biasa. “Kurasa mereka sudah selesai sekarang.” Tubuhku terperanjat ketika ia memandangiku lagi secara mendadak dan melanjutkan, “Karena kau melewatkan jadwal sarapan, kau akan menikmati sisa kudapan seorang diri—berharap saja kau tidak benar-benar berakhir sendirian di sana.”   *   Seperti kata Rhett, makhluk-makhluk di paviliun tidak lagi terlihat ketika aku masuk ke dalam. Pemuda itu bahkan sudah menghilang entah ke mana—pastinya ia tidak berada di sini dan tidak mau repot-repot mengawaniku menyantap sarapan. Kelambu berwarna putih gading menjuntai dalam keadaan tersingkap di antara jendela besar pada paviliun, memberikan aksesibilitas terhadap sinar mentari untuk menyeruak masuk ke dalam ruang sepetak berukuran empat puluh lima meter persegi. Cahayanya membias dan tumpah ruah di atas susunan bangku dan meja yang sudah tertata dengan begitu apiknya. Kedatanganku disambut oleh sisa-sisa limun yang berjajar di atas sebuah meja raksasa, terlihat menggiurkan sampai-sampai aku perlu berdeham dan menenggak liur dibuatnya. Anggota tubuhku tergerak untuk mengambil salah satu botol berisikan cairan oranye dan menuangkan isinya ke sebuah gelas kosong. Cairan limun itu terasa mengalir sampai ke organ pencernaanku dan menciptakan kesegaran setiap kali aku meneguknya. Kelewat menikmati, aku baru menyadari kedatangan seseorang ketika ia berdiri tepat di belakangku untuk meminum limun yang sama. Saat aku meniliknya, gadis berseragam kaum penyihir itu juga melakukan tindakan serupa. Surai pirangnya menjuntai sampai ke d**a, bagian bawah helaiannya agak berombak tipis. Ia tersenyum ramah saat mata kami bertumbukan. “Terlambat di hari pertama, ya?” tanyanya. Kutebak ia adalah gadis cerewet setelah melihat dari caranya berbicara. “Benar,” balasku, seadanya—namun, aku cepat-cepat melanjutkan, “Kau pasti juga terlambat.” Nadanya agak ragu saat ia mengatakan, “Begitulah. Siapa namamu, omong-omong?” “Candice Emrys. Kau?” Entah mengapa, suaraku acap kali meninggi ketika mengintroduksi diri sendiri, padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk membanggakan diri dengan nama belakangku. “Shane Declan.” Gadis bersurai pirang itu menarik tanganku untuk berjabatan. “Keberatan untuk menyaksikan turnamen bersama denganku hari ini?” Keningku berkerut sejenak. “Turnamen? Oh, tentu saja. Aku nyaris lupa dengan pelaksanaan turnamen hari ini.” Shane tertawa pelan, kemudian mulai mengambil beberapa potong daging berwarna tak menarik dari atas nampan di samping limun. “Omong-omong, Candice. Entah mengapa, aku merasa tidak asing dengan nama belakangmu. Tetapi, dengan kondisi perut yang meraung seperti ini membuat kinerja otakku agak buruk. Dan kurasa aku perlu kudapan agar pikiranku bisa kembali berjalan. Dan bicara soal kudapan, daging-daging di Nightfall sangat sedap.” Ternyata, instingku memang benar. Shane merupakan tipe gadis yang cukup cerewet. Ia terus berceloteh mengenai kelezatan daging-daging berwarna tak menarik tersebut, seakan-akan tidak ada makanan lain yang melebihi kelezatan isi dari nampan itu. Aku merespons dengan anggukan dan sesekali mendeham. Shane menyodorkan salah satu daging dan membuat mulutku kontan terbuka. Dengan seenaknya, ia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutku tanpa izin dariku. Ketika kupikir rasanya akan sangat hambar—dan hampir bersiap untuk mengoceh—ternyata spekulasiku salah besar. “Sial. Ini kudapan terlezat yang pernah kukonsumsi sepanjang hidupku,” bisikku, tanpa sadar. Seakan-akan mengejek, Shane tertawa menanggapi dan memasukkan potongan daging lain ke mulutnya sendiri. “Itulah yang dapat kausebut sebagai kenikmatan hidup, Candice.”[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD