Pernikahan dadakan, tetapi rencana yang sudah di jadwalkan tidak akan bisa di tunda.
Hari ini Gilang pulang lebih awaldari biasanya. Feya sendiri [ulang seperti biasanya dan tidak curiga dengan apa yang bosnya lakukan.
Sesampainya di rumah, Feya melihat koper di ruang tamu dan Gilang sudah tidak ada. Ssudah seluruh rumah Feya mencari gilang, namun tak kunjung ketemu.
Feya menangis sejadinya di dekat koper. Tangisan haru itu membuat Gilang yang baru sampai rumah langsung berlari masuk.
“Hei, kamu kenapa menangis begini?” tanya Gilang memeluk Feya menenangkan.
“Huhu, pak Gilang mau ninggalin aku gara-gara tadi siang? Pak Gilang mau jadikan aku janda setelah sehari menikah?” tangisan Feya semakin pecah.
“Haha tidak, aku juga tidak marah. Tapi aku akan sangat marah kalau kedepannya kamu masih tetap memanggil ku Pak Gilang pas di rumah.” Gilang menghapus air mata yang saat itu sudah bercampur dengan ingus.
“Terus aku harus panggil apa?” cicit Feya yang malu karena tak ingin di ceraikan oleh Gilang.
“Panggil aku sayang atau nama saja juga boleh.” Gilang mengangkat Feya yang sepertinya lemas karena gadis itu tidak berhenti menangis.
“Sayang? Kalau aku panggil Mas Gilang, boleh?” malu-malu Feya akhirnya mengutarakan pendapatnya.
“Hmm, boleh.” Gilang sudah setuju. Dan Feya langsung bangkit dari duduknya dan menyeret koper yang sudah di siapkan Gilang kembali ke kamar.
“Hey, kamu mau apain kopernya?” tanya Gilang menahan Feya yang membawa masuk kopernya.
“Kamu masih mau meninggalkan aku? Mau menceraikan aku?” Feya terdiam dan kembali menangis.
“Tidak-tidak, aku tidak menceraikan kamu atau meninggalkan kamu. Tapi aku ada perjalanan bisnis berangkat malam ini, sayang.” satu kata sayang meluluhkan Feya dan langsung memeluk Gilang.
“Maaf aku tidak tau.” cicitnya lagi.
“Ya sudah, antar aku ke bendara.”
Feya bersama dengan Gilang ke bandara malam ini. Karena besok pagi sudah melakukan rapat di perusahaan cabang.
“Beneran kamu hanya sendiri?” Feya sepertinya sudah menetapkan Gilang sebagai miliknya. Dengan dia mulai menunjukkan sifat posesifnya.
“Benar, sayang. Kamu di rumah baik-baik ya, jadi gadis baik. Nanti aku bawakan oleh-oleh buat kamu.” bisik Gilang yang lagi-lagi buat Feya seperti tak memiliki tulang untuk berdiri lagi.
“Aduh, kalau terus di panggil sayang, bisa-bisa aku ikut kemana pun kamu pergi.” kata Feya tak bisa lagi di tahan.
“Boleh, sungguh boleh kalau kamu mau. Aku akan pesan tiket sekarang juga buat kamu,” ucapan Feya di sambut bahagia oleh Gilang. “Sayang.”
Feya yang lagi berbunga-bunga tak mimikirkan besok akan kerja, baju tidak membawa dan yang lain juga tidak di siapkan. Yang ada di pikiran Feya sekarang hanya ingin bersama dengan suaminya.
Lagian istri mana yang mau di tinggal perjalanan dinas, tepat di malam pertamanya. Termasuk Feya, dia juga takut kalau suaminya kepincut wanita lain.
Tiket sudah di beli, mereka juga sudah berangkat ke luar negeri. Tujuan Gilang pilih perjalanan dinas sebenarnya kembali menghindari papanya yang mulai mengacau.
Untuk masalah Feya ikut, itu sebuah bonus. Bonus yang sangat di sukai oleh Gilang dari Tuhan.
“Selamat pagi istriku, sayang. Sebentar lagi kita akan mendarat, sekarang kamu sarapan dulu ya.” Gilang membangunkan istrinya yang tidur setelah beberapa saat mengudara.
“Em, Mas…. aku lupa, sekarang kan aku harus kerja. Bagaimana ini?” Feya baru saja ingat dengan tugas dan kewajibannya sebagai seorang karyawan.
“Nanti saja kalau sudah mendarat, langsung hubungi Andra.” dengan lembut Gilang membantu Feya menemukan solusi. Lagian, Feya berada di sini juga karena dia.
Perjalanan hari ini berakhir di hotel yang terletak di pusat kota. Sedangkan Gilang langsung menghadiri pertemuan dengan relasi lain. Meeting di sebuah perusahaan milik klien, mengharuskan Gilang meninggalkan Feya sendirian di kamar hotel.
Selama satu hari penuh Gilang menghabiskan waktunya untuk meeting bersama dengan klien. Sedangkan Feya menghabiskan waktunya di dalam kamar tanpa keluar karena dia tak mampu membuka matanya.
“Sayang, kamu sudah bangun?” Gilang akhirnya pulang ke hotel.
Feya yang baru saja bangun, dia panik karena tak satupun pekerjaan dia kerjakan seharian ini. Tapi setelah melihat senyum Gilang, tiba-tiba saja Feya malah datang ddan memeluknya.
“Kamu kenapa?” Gila merassa aneh, karena sejak pertama kali bertemu dengan Feya. Dia tidak pernah sekali pun melihat betapa manjanya gadis di depannya.
“Maafkan aku, aku benar-bernar tidak berguna, seharian aku cuma tidur saja.”
“Tidak apa-apa. Sekarang kamu mau gimana? Lapar tidak?” tanya Gilang yang begitu penuh kasih.
Semua kebiasaan dan perlakuan Gilang yang awalnya sangat kejam dan suka seenaknya sendiri pada Feya. Kini kebalikannya, Gilang sungguh sangat sabar sekali menghadapi Feya. Bahkan Gilang tidak pernah mengambil keputusan atau bahkan menyuruh Feya sesuka hati lagi.
Sekarang yang ada adalah keputusan Feya. Semua pilihan Gilang sekarang tergantung pada Feya.
Feya Ananta sekarang sudah menjadi batas bagi Gilang. Ya, batasan Gilang adalah Feya. Selama Feya mau, Gilang akan mengusahakan yang terbaik untuk gadis cantik dengan senyum yang di permanis oleh dua lesung pipi kecil di ujung sudut bibirnya.
Malam ini adalah malam kedua setelah mereka berdua menikah. Dan masih belum telat juga kalau mau bermalam pengantin. Mengingat mereka berdua juga masih pengantin baru.
“Feya, apa sesakit itu?” Gilang melihat Feya meneteskan air mata di saat dirinya baru bisa menembus dinding pertahanan itu.
“Sakit sekali, mas. Tuhan kenapa sesakit ini, rasanya kayak mau mati saja.” ucap Feya yang merasa dirinya seperti terbelah dua jiwanya, saking sakitnya yang dia rasakan.
“Kita sudahab saja, aku akan panggilkan dokter kalau kamu merasa begitu sakit.”
Dan
“Akhg.” Feya teriak kesakitan dan berbarengan dengan sebuah napas kelegaan yang keluar dari mulutnya.
“Maafkan keegoisan ku ya sayang.” Gilang benar-benar merasa sangat bersalah sudah sedikit memaksa Feya untuk berhubungan, tadi.
“Tidak apa-apa. Bisa minta tolong bawa aku ke kamar mandi?” Feya ingin membersihkan diri.
Tapi pada saat dia mengambil selimut untuk menutupi dirinya. Pandangan Feya tertuju pada noda merah segar yang ada di atas tempat tidur. Gilang menyadari jika kebohongannya kemarin segera terbongkar. Makanya dia segera menjelaskan.
“Itu… aku….”
“Tidak apa-apa. Artinya aku bisa menjaga untuk suamiku. Aku tidak marah…” Kata Feya yang saat ibu benar-benar menahan sakit.
Gilang langsung mengangkat Feya ke kamar mandi, membantu istrinya untuk membersihkan diri. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan memaksa hal itu lagi. Menunggu kesiapan feya juga sangat penting untuk melakukan hal itu.
Badan Feya langsung hangat, mungkin itu efek dari kejadian tadi. Gilang yang sangat khawatir pun segera memanggil dokter malam itu juga. Kebetulan sekali, dokter itu teman dari Gilang sendiri.
“Tidak apa-apa. Hal ini sudah biasa karena memang badannya kaget menerima serangan dadakan. Lain kali, pelan-pelan dan ingat untuk mendengarkan pacar…”
“Istri.” kata Gilang singkat menyahut perkataan temannya.
“Istri?”
“Ya.”
“Sah?”
“Jelas, memangnya ada tampangku untuk main-main?” Gilang menimpali ucapa selidik dari temannya yang seolah tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan olehnya.
“Bukan, tapi setau aku paman Satrio membawa Milka kemana-mana dan memperkenalkannya sebagai tunanganmu.” Dokter itu mengatakan apa yang dia tau selama ini.
“Aku tidak pernah menerima Alea sebagai tunanganku. Kalau papa ngakui dia sebagai tunanganku, biar dia sendiri yang menikahinya. Lagian kalau ada yang masih segel, kenapa cari yang bekas?” ucap Gilang yang di mengerti temannya yang sudah tau seperti apa kelakuan Alea di luar negeri.
“Kamu memang pandai memilih.”