Pagi itu Feya bangun Gilang sudah tidak ada di sampingnya. Semalam juga dia meninggalkannya tidur duluan. Feya merasa bersalah, jadi dia berniat mencari Gilang dan meminta maaf.
Feya masih belum membeli baju untuk ganti, mengingat dia tidak membawa satupun baju ganti. Jadi dia memutuskan untuk memakai kemeja Gilang yang ada di sofa. Bisa di pastikan kalau kemeja hitam lengan panjang itu sudah dipakai Gilang kemarin.
“Mas Gil…ang.” Feya kaget saat membuka pintu kamar tidur, dia melihat ada Andra dan beberapa staf perusahaan lain tengah mendiskusikan sesuatu.
“Masuklah, aku sudah memeankan makanan. Kalau sudah datang, aku akan membawanya masuk.” Ucap Gilang lembut, berbeda dengan beberapa saat sebelum Feya keluar.
Semua hening, karena tidak percaya. Tapi Andra memberanikan diri untuk mewakili yang lain.
“Feya, bukankah dia izin sakit. Kenapa ada di sini?” tanya Andra pelan.
“Semalam dia sakit. Bisa di lanjut diskusinya?” Gilang kembali dengan nada bicara seperti awal.
Andra tak berani bertanya lebih, karena dia tau Gilang tidak suka kalau privasinya terlalu di korek orang. Diskusinya pun di lanjut hingga lama, jam makan siang pun hampir terlewat. Kalau saja Feya tidak mengiriminya pesan kelaparan.
[Mas, masih belum selesai? Apa aku perlu membantu?] itulah isi pesan yang di kirim Feya.
[Masih belum, kamu istirahat saja biar tidak tambah sakit. Kamu mau di pesankan makan siang apa?] jawab Gilang dengan sedikit senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
“Sepertinya Feya memang orang yang sudah kamu pilih sejak awal. Mataku buta saja yang tidak melihat perlindunganmu selama ini.” Andra membuka suara tentang Feya.
Gilang tersenyum sebelum dia berkata. “Aku tidak pernah melindunginya. Aku juga tidak memilihnya, tapi memang dia memiliki kemampua saja yang layak aku usahakan.”
Jawaban itu cukup mengagetkan Andra dan yang lainnya. Pasalnya, Gilang tidak pernah mau terlibat dengan karyawan yang bekerja di bawahnya.
Dulu Gilang juga pernah berpendapat, kalau ada yang berusaha menggodanya. Itu berarti karyawan itu tidak berniat bekerja. Tetapi Feya ini sepertinya cukup berbeda di mata Gilang.
“Apa dia…. menggodamu?” tebak Andra, meski dia tau Gilang tidak menyukai di goda oleh siapa pun.
“Aku yang menggodanya. Bahkan aku yang menjebaknya sampai bisa dia menikahiku.” jawab Gilang yang sedikit malu sampai dia menunduk. Bahkan senyuman geli juga seolah mengatakan kalau semua yang di katakan itu hal termanis yang pernah dia perbuat untuk mendapatkan pujaan hatinya.
“Yo, besi berkarat ini ruanya bisa juga berbunga. Sofa sebar hadiah atas namaku dengan keterangan berhasil kontrak jangka panjang.” Andra akhirnya ikut bahagia melihat sahabat =nya mendapatkan cintanya.
“Kamu paling lupa, tapi aku mengingat jelas kejadian lima tahun lalu. Di depan sekolahan ada gadis periang yang suka mengganggu temannya. Jahil dan juga tidak takut akan di balas. Aku tidak tau namanya saat itu, tapi sejak saat itu dia menjadi pengganggu dan pacuan ddalam hidupku.” Gilang mengingat kejadian demi kejadian yang dia lewati.
“Aku sempat mencarinya setelah keberhasilan pertama ku dapatkan. Tapi tidak pernah ketemu, aku juga hampir setiap hari datang ke sekolah itu. Sampai akhirnya aku hampir menyerah, tapi mamaku sendiri yang membawanya masuk ke dalam rumahku. Sejak saat itu aku bertekad untuk tidak melepaskannya lagi.” Cerita gilang masih berlanjut.
“Aku juga baru tau kalau dia karyawanku pas ketemu di ruangan meeting saat itu. Aku juga sering menggunakan jabatanku untuk membuatnya terus ada di sampingku. Tapi setelah aku mendapatkannya, aku….”
“Kamu lemah dan tidak bisa sekali pun menggunakan lagi jabatanmu?” tebak Andra yang sangat tau kalau temannya ini sudah bucin tingkat akut.
“Hehe, miris kan?”
“Tidak, itulah cinta.” jawab Sofa asisten pribadi Gilang.
“Kamu benar. Hadiah yang kamu sebar, biar aku yang membayarnya.” Gilang terlihat jauh lebih berseri saat membicarakan Feya dan yang menyangkutnya.
Makanan yang di pesan sudah sampai, Gilang juga membelikan beberapa pasang baju untuk Feya. Sehingga dia bisa makan bersama dengan Gilang dan yang laiinya.
Suasananya cukup canggung, itu karena Gilang terus melayaninya makan. Bukan cuma itu saja, tatapan setiap orang padanya membuatnya sedikit takut dan malu.
“Pak Andra, pak Sofa dan yang lainnya. Bisakah kalian tidak mengatakan apa-apa di kantor? Aku tidak mau ada rumor yang tidak penting mempengaruhi kinerja di kantor.” cicit Feya yang cukup mengagetkan semuanya.
“Kenapa masih di rahasiakan? Apa aku cukup memalukan/” Gilang tampak tidak terima dengan apa yang di munta istrinya.
“Kamu tidak memalukan, tapi posisi aku masih belum kuat dan sebanding dengan kamu. Jangankan dengan kamu, bahkan aku belum sepadan dengan ujung kuku Alea. Jadi akan banyak yang membicarakan kita. Terutama aku yang di anggap tidak tahu diri, terlebih dengan pekerjaan ku. Pasti banyak yang menyangka kalau aku bisa di posisi sekarang ya berkat campur tangan kamu.”
Penjelasan Feya cukup bisa di terima yang ada di kamar presidential. Beruntung sekali yang hadir saat ini adalah orang-orang kepercayaan Gilang dan Andra sendiri. Sehingga tidak semua masih dalam kendali.
Tiga hari sudah berlalu dari kejadian diskusi itu. Kini semua yang perjalanan bisnis sudah kembali ke ibu kota dan ke kantor. Feya juga akhirnya masuk kantor juga.
“Akhirnya kamu masuk kerja juga. Kamu sakit apa, Feya? Sampai lama begini tidak masuk kerja?” Tanya Yuni yang merasa kasihan.
“Anu mbak Yuni. Aku sebenarnya pulang kampung, tapi nggak tau kalau di bilang sakit.” kata Feya sedikit berbohong.
Dia jelas berbohong, kalau tetap mengatakan sakit seperti pesan yang di ketik Gilang untuk Andra. Jelas semua akan curiga, karena hampir satu minggu dia tidak masuk kerja.
“Oalah pantesan lama. Tapi kerjaan kamu sudah banyak yang beres,ya santai aja pulang. Oh ya Feya aku dengar desas desus di luar. Katanya kamu dulunya anak orang kaya ya?” tanya Yuni seketika membuat Feya berubah muka.
“Dari mana Mbak Yuni tau?” Tanya Feya kaget.
“Aku dengar aja banyak yang bilang begitu. Aku sih cuma menanggapi santai, tapi juga penasaran aja benar atau tidaknya.” kata Yuni yang sepertinya dia meperhatikan Feya.
“Iya mbak, tapi papa aku kena tipu rekan bisnis jadinya ya begini. Tapi gak tau gimana berita yang keluar malah papa terlalu menyayangiku sampai-sampai harus merelakan semua aset di jual demi membelikan ku pulau di dekat Solomon.” jawab Feya dengan nada yang cukup menyedihkan.
“Itukan cuma rumir. Lagian kalau benar kamu meminta pulau juga wahar. Itu papa kamu sendiri.” kata Yuni yang sedikit acuh dengan cerita Feya.
Mendengar tanggapan Yuni, Feya sedikit kecewa. Meski dia tidak menginginkan orang lain mengasihaninya. Tapi setidaknya tidak merespon dengan kecuekan yang malah membuat feya merasa tak enak hati. Seolah-oleh membenarkan rumor yang terjadi di luar sana.
Feya diam dan berussaha untuk tidak memikirkan apa yang terjadi saat ini. Rumor akan tetap menjadi rumor, sekuat apa kamu menjelaskan semua itu juga tidak akan ada artinya. Jadi lebih baik diam dan menyimpan energi untuk yang lain.
Pembuktian diri yang paling ampuh ya kerja keras, bukan dengan argumentasi kosong. Tidak kuat.
Feya yang dulunya apa-apa Yuni karena dia adalah mentornya. Kini dia menetapkan diri untuk berusaha sendiri. Bukan karena apa, dia seperti itu. Tapi Feya kecewa ada orang yang sudah dia percayai tapi malah meremehkan. Bahkan Yuni juga lebih percaya rumor dari pada pengakuannya.
Membahas soal kebangkrutan keluarga Feya memang sedikit sensitif baginya. Keingin tahuan orang lain memang tidak bisa di kendalikan oleh Feya. Tapi tidak memberikan kejelasan apapun juga tidak itu hak mutlak bagi Feya.
Dari kejadian ini Feya kembali mengurung dan membatasi diri akan informasi tentang dirinya. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan papanya dan membantu papanya bangkit lagi.
Dengan apa yang sudah di dapatkan Feya selama bekerja di perusahaan GS ini juga sudah sangat membantu pengobatan papanya.