Papa Gilang datang lagi ke perusahaan, tapi kali ini tidak menemui putranya, melainkan Feya.
Bagi Satrio, Feya adalah batu sandungan yang lama-lama sangat mengganggu jalannya. Membawa kembali Gilang selama masih ada Feya , bisa di katakan itu mustahil. Apalagi untuk menikahkan Gilang dengan Alea. Itu sudah seperti mimpi di siang bolong.
“Feya, kamu benar-benar yakin tidak mau meninggalkan Gilang? Uang di kartu ini cukup untuk kembali membangun perusahaan bobrok papa kamu dulu.” Satrio menyodorkan kartu di atas meja.
“Klise ya om, padahal ini bukan di drama. Tapi aku bener-bener dapet uang untuk meninggalkan Gilang.” Feya yang sejak tadi tidak menyentuh kartu itu pun sekarang mengambil dan memasukkannya ke dalam tas tangannya.
“Haha, karena hanya uang yang bisa membuat orang miskin seperti kamu itu silau.” jawab Satrio menertawakan keserakahan Feya.
“Sebenarnya aku tidak silau dengan uang yang sedikit ini, kalau di bandingkan aset yang di miliki Gilang. Tapi aku bukan orang bodoh yang menolak rejeki seperti ini. Kata Tuhan juga tidak boleh di tolak rejeki yang datang. Terima kasih ya om.” Feya ergi meninggalkan Satrio setelah mengucapkan terima kasih.
Satrio berpikir dengan cara ini dia sudah berhasil menyingkirkan Feya selamanya. Padahal yang terjadi malah Feya berfoya-foya dengan uang yang di kasih Satrio.
“Tumben ada makanan sebanyak ini?” Gilang kaget melihat banyaknya makanan ada di ruang kerjanya.
Dia bisa menebak sih siapa yang membawa makanan ke ruangannya. Siapa lagi yang berani selain Feya? Tapi ini di kantor, bukan di rumah. Bagaimana dia berani membawa makanan ini masuk ke dalam ruangannya.
“Feya, masuk.” Gilang dengan nada tegasnya seperti biasa menyuruh Feya masuk ke dalam ruangannya yang ada di lantai atas.
Feya yang tau maksudnya pun tidak tampak curiga. Tapi kalau mendengar nada di sambungan telephon. Banyak yang mengira kalau Feya melakukan kesalahan sehingga dia di panggil oleh atasan yang terkenal kejam.
“Feya, kamu melakukan apa pagi? Kamu tidak melakukan kesalahan penulisan proposal kan? Takutnya kamu melebihkan anggaran untuk memenuhi kebutuhan mewahmu.” kata Yuni meluruhkan senyum Feya yang diam-diam mengembang di saat Gilang menyuruhnya ke kantornya.
“Apa maksud mbak Yuni? Memangnya aku pernah melakukan kesalahan itu?” Ucap Feya tidak percaya dengan tuduhan Yuni.
“Bukan, tapi namanya ketakutan atas kebiasaan kamu yang dulu terulang di sini gak apa-apa kan? Lagian kamu juga tau kalau kebiasaan itu sulit di ubah.” kata Yuni yang tak lagi sama seperti dulu. Entah apa yang membuat Yuni berubah sebegitunya pada Feya.
“Bukan, atas dasar apa mbak Yuni menuduhku seperti itu? Buktikan kalau kamu mampu, dan kalau aku beli barang mewah juga belum tentu itu hasil dari kurupi.” Feya benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang saat ini ada di dalam pikiran Yuni.
Gilang merasa Feya terlalu lama tak datang-datang. Akhirnya dia memutuskan mencari Feya langsung.
“Kalian ngapain?” keputusan Gilang mencari Feya ternyata tidak sia-sia. Kalau tidak melihat sendiri mungkin Feya juga tidak akan mau bilang padanya.
“Pak, jangan di tutupi lagi. Pasti Feya melakukan kesalahan, kan? Pasti untuk keuntungan sendiri….” Yuni belum selesai menuduh Feya, tapi gadis itu malah berlari memeluk Gilang.
“Kalau ada yang aman, kenapa nyari yang beresiko.” semua tercengang dengan apa yang di lakukan oleh Feya, tidak terkecuali dengan Gilang sendiri.
Gilang yang sudah sepakat untuk tidak mempublish hubungan mereka pun dengan sigap langsung menarik kerah baju belakang Feya. Seperti kucing mengangkat anaknya.
“Feya itu berani sekali, dia pasti segera di tendang sama pak Gilang.” kata salah satu staf.
“Memang cari penyakit anak itu.” kata Yuni yang tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Feya.
“Yuni, kamu kan dekat sama Feya, sebenernya dia ada masalah apa sih? Bisa-bisanya dia bunuh diri gitu?” tanya lagi.
“Iya, bisa-bisanya dia nyari dewa pencabut nyawa.”
Feya yang mendengar desas desus itu pun hanya bisa tertawa lepas. Padahal saat ini dia sedang di cangking oleh suaminya.
“Puas, kamu?” tanya Gilang setelah sampai di dalam kantornya.
“Hahaha puas sekali. Siapa suruh menuduhku yang bukan-bukan. Sekalian aja aku goda.” Jawab Feya tetap tidak mengatakan apa yang terjadi sejak dia nyampek kantor.
“Ini kamu yang beli?” tanya Gilang menunjuk makanan yang begitu banyak di meja.
“Iya, siapa lagi? Tapi aku pakai uang dari om Satrio.” Feya tak menyembunyikan apa yang dia alami siang ini. Feya juga memberikan kartu yang sudah di berikan Satrio pada Gilang.
“Papa bilang apa?” tanya Gilang sedikit penasaran.
“Ya klise, beliau memberiku uang untuk meninggalkanmu. Dan menyuruhku merayumu untuk kembali ke kota dan mewarisi perusahaan. Sukur-sukur kalau aku bisa membuat kamu mau menikahi Alea….”
“Kamu setuju?” tanya Gilang memotong ucapan Feya dengan menunjuk kartu yang di kembalikan oleh istrinya itu.
“Aku tidak menjawab. Cuma bilang terima kasih, lagian rejeki kok di tolak. Itung-itung hadiah pernikahan dari mertua, gak ada salahnya.” Jawab Feya menikmati puding dingin yang baru dia ambil dari lemari pendingin yang ada di ruangan Gilang.
“Memang sesuai harapan. Habiskan saja uang di kartu untuk kamu jajan, beli baju juga beli skincare. Tapi jangan pernah berpikir untuk menceraikan ku!” Gilang mencubit pelan hidung Feya.
“Aku tau. Suamiku ya hanya aku pemiliknya.” Feya memeluk lengan Gilang yang duduk di sampingnya.
Gilang merasa puas dengan jawaban Feya. Karena di masa depan dia harus lebih berani lagi untuk mengakui dirinya adalah miliknya. Terutama di depan papanya yang semakin giat mendorong Alea mendekat padanya.
Seperti tadi siang saat pertemuan yang di adakan di perusahaan milik keluarga Alea. Para orang tua benar-benar mengaturnya sedemikian rupa untuk dirinya makan siang dengan Alea.
Karena dia tadi sedang berada di perusahaan keluarga Alea, jadi dengan terpaksa Gilang menerima. Yang tidak dia tau, kesempatan itu di manfaatkan Satrio untuk menemui Feya dan memintanya untuk meningglkan Gilang.
“Dasar orang tua gila.” gumam Gilang yang di dengar oleh Feya samar.
“Kamu ngomong apa?”
“Tidak, nimkati camilanmu dan kembalilah bekerja.” kata Gilang melempar sebuah map yang berisi dokumen.
“proyek baru?”
“Tidak, tapi ini alasan buat kamu ke kantorku. Ini serahkan besok aja, gak usah kamu kerjakan. Jangan lembur, aku ada kejutan buat kamu.” Gilang mewanti-wanti istrinya untuk tidak lembur.
Tapi sepertinya rencana hanya akan menjadi sebuah wacana.
Pasalanya bukan Feya yang lembur, tapi Gilang yang harus pulang ke rumah keluarganya di luar kota.
Di rumah sudah ada keluarga besar Alea . rumah juga sudah menjadi tempat pesta yang meriah. Di depan pintu juga terpampang foto dirinya bersama dengan Alea saat masih kuliah dulu.
Kedekatan mereka berdua sebenarnya hanya sebatas itu, tidak lebih. Itupun juga karena Alea putri dari rekan bisnis papanya.
Sebenarnya saat mereka kecil, Feya juga sering bermain bersama dengan Gilang. Hanya saja memiori anak kecil cepat terhapus. Hingga saat Feya datang dengan membawa pesan dari mamanya untuk tinggal bersama saat itu.
“Ada apa ini?” tanya Gilang saat sudah berada di tengah acara.
“Kak Gilang, ini pesta kejutan buat kamu.” jawab Alea penuh semangat.
“Pesta kejutan?” Gilang tampak jauh lebih syok dengan apa yang di katakan oleh gadis di depannya.
“Iya, pesta pertunangan kalian.” Satrio tak kalah semangat dari Alea.
“Ma?”
Mama Gilang hanya menunduk. Dia tau kalau Gilang tidak akan pernah menerima Alea lebih dari yang saat ini. Satrio selalu lupa dengan apa yang terjadi belakangan. Alasan apa Gilang bisa keluar dari rumah dan membeli rumah milik almarhum neneknya dulu.
Gilang tak bisa berkata-kata. Dia hanya mengembalikan kartu yang di berikan oleh Satrio pada Feya.
“Feya tidak butuh ini, aku punya uang cukup untuk memberinya jajan.” kata Gilang tak sungkan lagi. Dan dia sengaja menunjukkan sikap memberontaknya di dean semua orang. Terutama di hadapan keluarga besar Alea.