Hari senin telah tiba, ini saatnya Feya kembali ke kantor. Dua hari libur kemarin tidak seperti hari libur biasanya. Itu karena Gilang tidak ada di rumah pas siang harinya.
Entah dia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di luar kota atau main bersama tunanganya pun Feya tidak peduli. Yang jelas, hari senin ini Feya jauh lebih cerah dari pada yang lainnya.
Bahkan Gilang sendiri yang biasanya terlihat sangat segar pun, hari ini tampak sedikit lesu.
“Ada apa? Kok tumben kamu keliatan lesu sekali.” Tanya Andra teman Gilang yang bekerja sama sejak awal membuka perusahaan.
“Lihat sendiri.” Gilang melempar dokumen proyek yang belakangan tengah berjalan.
“Memangnya ada masalah?” Tanya Andra sembari melihat lembaran penuh dengan coretan. “Ini kan yang aku berikan ke Manda. Kenapa bisa begini banyak coretan?” Andra merasa herang dengan bawahan yang selama ini menjadi kaki tangannya.
“Lihat ini juga.” Gilang kembali melempar lembaran kertas yang ada di lacinya ke atas meja. “Itu kerjaan dari Feya. Aku harap kamu bisa membuka mata lebar dan kembali memberikan proyek ini pada Feya. Aku tidak mau menghancurkan perusahaan ku pelan-pelan.”
Andra sungguh terbelalak dengan dua dokumen yang di buat oleh dua orang yang berbeda. Andra mengakui kali ini penglihatanya buram oleh kecantikan dan kepandaian bicara dari Manda Abdula.
“Jadi selama semalaman kamu mengerjakan ini di kantor sendirian?” Tanya Andra lagi, karena dia memastikan kalau baju yang di pakai Gilang tidak ada bedanya dengan kemarin.
“Bukan semalaman, tapi dari kemarin malam aku sudah mengecek semua pekerjaan ini.” Gilang menjelaskan dengan sedikit menahan rasa kantuknya.
“Gilang, jangan hanya lima miliar kamu mengorbankan kesehatanmu.” Andra mencoba menasehati teman seperjuangannya.
“Lima miliar matamu! Apa Manda yang bilang kalau ini proyek senilai lima miliar?” Gilang sangat marah dengan apa yang dia dengar.
Gilang tidak menyangka kalau temannya ini begitu bodoh dan sangat buta. “Jangan bilang proyek kemarin juga kamu tidak tau komisinya.” tebak Gilang.
“Tau dong. Proyek kemarin senilai lima belas miliar dengan keuntungan bersih delapan sampai lima miliar. Dan itu sudah masuk ke dalam akun perusahaan sebesar tujuh tujuh sampai delapan miliar….”
“Astaga Andra, sini lihat. Aku tidak pernah lagi mengambil proyek di bawah lima puluh miliar lagi. Dan keuntungan proyek yang sedang berjalan ini sekitar lima puluh miliar. Bagaimana mungkin hanya lima miliar yang kamu tau?” Gilang menunjukkan apa yang terjadi dan arus keluar masuk keuangan. Beserta uang yang masuk dalam akun miliknya sendiri.
Andra terkejut, rupanya selama ini di butakan dengan kepecayaannya sendiri kepada Manda. Sehingga banyak dana yang seharusnya masuk ke dalam akunnya pindah ke akun Manda sendiri.
“Feya, masuk ke ruangan.”
Feya menjelaskan apa yang yang dia tulis berdasarkan survey lapangan dan beberapa informasi yang di berikan padanya dari pihak investor.
Menjelaskan proyek ternyata tak semudah yang di bayangkan. Karena ternyata Gilang menyuruh Feya presentasi di depan mereka berdua secara pribadi. Menyelesaikan kekurangan dan juga masalah yang masih belum bisa di selesaikan oleh Feya sendiri.
Tak terasa, tanpa istirahat sejak pagi hingga kini jam setengah tuju malam mereka bertiga masih mendiskusikan proyek. Tanpa Manda yang menjadi wakil Andra selama ini, rupanya proyek bisa lebih cepat di setujui oleh pihak klien.
“Apa masih belum selesai juga? Aku sudah lapar sekali.” rengek Andra yang baru merasa lelah dan lapar, setelah mendapat persetujuan dari klien.
“Tunggu saja, sebentar lagi juga sampai. Feya, kamu rapikan dan masukkan dalam mobilku. Abis itu sini lagi.” Perintah yang bagi Feya itu hanyalah hal biasa.
Namun tidak bagi Andra yang menganggap Feya sebagai magang baru. Dan kalau proposal buatannya tidak terpilih, maka dia juga tidak akan pernah bertemu dengan petinggi seperti Gilang dan dirinya.
Tapi pikiriran Andra langsung di tepis, mungkin memang karena proyek ini membuat Feya dan Gilang menjadi akrab seperti sekarang.
Setelah beberapa saat menunggu, Feya dan Sofa asisten pribadi dari Gilang datang membawa makanan. Sofa di bantu Feya membawa makanan yang di pesan oleh Gilang, makanan itu cukup banyak.
Tapi kali ini ada dua menu yang tidak bisa di makan oleh Gilang, namun masih di pesan. Salad sayur dan seafood, kenapa makanan yang selama ini di hindari Andra karena Gilang tidak suka bisa muncul di meja?
Netra masih terus tertuju pada dua menu itu, akan tetapi Feya sudah mempersilakan kedua bosnya untuk makan.
“Kamu makan juga.” kata Gilang lembut.
“Terima kasih pak.” Feya langsung mengambil satu dari dua menu yang terus di pandang oleh Andra.
“Feya, kamu pesan seafood sama salad…?” selidik Andra.
“Tidak.” jawab Feya polos dengan menyuapkan udang yang tampak menggoda itu kemulut mungilnya.
“Kok kamu langsung mengambilnya??” Andra masih tidak percaya dengan apa yang dia saksikan saat ini.
“Ini pesanan bapak…?”
“Makan saja, aku yang pesan. Kalau dia mau biar beli sendiri.” Gilang menghalangi Feya saat akan memberikan makanannya pada Andra. “Kalau kamu mau, kenapa gak pesan sendiri? Kamu gak liat Feya sudah kayak tengkorak hidup?” Gilang tanpa alasan marah-marah pada Andra.
Hal yang tidak pernah terjadi, saat ini malah membuat Andra bingung. Tidak dengan Sofa, dia malah terlihat menahan senyum saat melihat bosnya memarahi karibnya.
“Bukan, Feya jangan fitnah. Aku cuma tanya, lagian kenapa kamu bisa sekurus ini sih? Memangnya orang tua kamu….” Lagi-lagi Gilang melakukan hal di luar kebiasaannya dengan menyumpal mulut Andra dengan makanan dari piringnya.
“Tidak bisakah kamu diam dan nikmati makanan kamu? Pantas saja kamu di tipu mentah-mentah Manda. Kelakuan kamu tak pernah pakai otak.”
”Bukan, kenapa kamu sebegitu marahnya? Ini hanya makanan, kenapa kamu sebegitu marahnya? Lagian kamy Feya, tau sekali kalau seafood itu buat kamu?” Andra tak berhenti untuk mencari kebenaran yang terjadi.
“Pak Gilang alergi seafood dan anda juga tidak makan makanan laut ini karena kasihan. Terus untuk siapa lagi seafood ini?” jawaban yang cerdas, ini membuat Gilang semakin terpesona pada gadis di depanya.
“Kamu tau dari mana?”
“Info kalian berdua itu tidak susah kalau mau mencari tau. Tidak usah jauh-jauh, di perusahaan ini juga banyak yang tau kebiasaan kalian. Jadi jangan banyak pikir lagi ya bapak.”
Jawaban yang benar-benar cerdas. Andra tak berani bertanya lagi, sebagai gantinya lelaki yang baru menginjak umur dua puluh enam tahun ini jatuh hati.
Dan malam ini pembahasan proyek berakhir setelah makan malam. Andra dan Gilang yang sudah janjian dengan klien di suatu tempat pun langsung menuju lokasi.
Sedangkan Feya memilih untuk pulang, karena dia juga sudah kenyang. Pekerjaan hari ini memang banyak yang tertunda, tapi yang paling penting sudah selesai dan tinggal menunggu komisi cair.