Malam dan hari berlalu begittu saja, hari ini adalah hari pengangkatan Feya dari pekerja magang menjadi pegawai tetap. Pengangkatan sendiri di hadiri langsung oleh Andra, moment yang sangat langka sekali.
Sedangkan Gilang tengah perjalanan bisnis.
“Feya, rencana kamu apa hari ini? Apa tidak mau mentraktir ku? Komisi proyek juga aku dengar tidak sedikit.” Mbak Yuni yang sudah tau berapa komisi pun meminta traktiran.
“Ya, tapi temani aku cari tempat tinggal juga ya.” Feya ingat akan janjinya pada keluarga Prasetya sebelumnya.
“Lah, selama ini kamu tinggal di mana?” Mbak Yuni kaget dengan apa yang di katakan oleh Feya.
“Ikut saudara, gak nyaman.” Alasan yang singkat, padat dan jelas.
“Okelah.”
Feya dan Yuni pun merayakan keberhasilan proyek pertama Feya sekaligus perubahan status magang menjadi tetap. Namun karena hari itu malam begitu cepat menyambut, membuat mereka mengurungkan niat untuk mencari tempay tinggal.
Kedua gadis yang beda dua tahun itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Satu bulan tinggal di rumah Gilang memang memberikan kenangan walau tak banyak. Jadi Feya juga memiliki rasa sedikit tidak ikhlas meninggalkan rumah. Mengingat selama ini Gilang dan Feya tidak saling menyinggung satu sama lain. Selain keluarga Prasetrya saja yang keberatan akan keberadaan Feya di sekitar Gilang.
“Pak Gilang, kapan sampai?” Tanya Feya kaget melihat atasan yang dia tau tengah perjalanan bisnis dalam seminggu belakangan.
“Baru saja. Itu buat kamu.” Gilang menunjuk kotak kecil di atas meja.
“Wah bagus banget, pasti mahal…” Gelang berlian putih yang terlihat simple, sepertinya memang seperti di buat khusus untuk Feya.
“Murah, itu hadiah kamu sudah membantuku memenangkan tender.” ucap Gilang yang tak mengalingkan pandangannya dari laptop kecil di depannya.
“Kita menang? Kalau gitu aku tidak sungkan lagi menerima gelang ini.” Ucap Feya yang juga fokus pada gelang berlian cantik di tangannya.
Gilang tidak sengaja melihat Feya tampak bahagia dan sekaligus kesusahan memakai gelang darinya.
“Kenapa sungkan? Jangan di lepas ya, besook aku akan mengadakan pesta buat keberhasilan ini. Tapi Andra yang akan mengambil alih semua, Papaku akan datang jadi aku datang. Jadi aku gak mau beliau tau kalau GS milikku.” Gilang menerangkan begitu lembut pada Feya.
Di balik itu juga Gilang seakan memberi peringatan pada Feya untuk tidak mendekatinya dan keluarganya.
“Baiklah saya tau, pak.”
Gelang sudah terpasang, Gilang juga sudah kembali larut pada laporang yang tengah ia kerjakan. Sepertinya memang Gilang type orang yang gila kerja. Buktinya sekarang, bukannya dia baru saja pulang dari perjalanan bisnin. Tapi dia langsung membuka laptop dan kembali bekerja.
Feya membawakan secangkir the hangat isi jahe untuk Gilang. Feya duduk di samping pak bosnya dan mencoba memberanikan diri untuk pamit.
“Pak, aku kan sudah punya uang untuk meny….”
“Tetap di sini. Aku gak mengiinkan kamu keluar dari rumah ini.” Gilang menatap Feya dengan tatapan dingin.
“Tapi pak…”
“Tidak ada tapi. Kamu pilih saja, keluar dari perusahaan atau tetap di rumah ini.”
“Tinggal, aku tetap tinggal.” tak berpikir lagi, Feya tidak berani membalas tatapan tajam Gilang.
Malam ini Feya memutuskan untuk tetap tinggal, dengan membayar sewa kecil di rumah Gilang. Dari pada dia harus kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal sekaligus, lebih baik mengalah saja.
Hari itu Feya dan Gilang berangkat kerja seperti biasanya. Bekerja seperti hari-hari biasa pula. Hanya saja jam kerja yang tidak biasa saja. Karena hari ini ada perta untuk merayakan keberhasilan memenangkan tender besar.
“Feya, kamu sudah punya gaun untuk ke pesta?” Tanya Yuni yang saat itu mau membeli gaun untuk menghadiri pesta.
“Emm, sepertinya aku mau beli satu deh mbak. Kamu sendiri gimana? Sudah punya?” Tanya Feya
“Belum, kita beli bareng aja yuk.”
Yuni dan Feya berencana ke butik yang tak jauh dari perusahaan. Di sana memang terlihat bagus-bagus dari kaca luar. Kalau untuk harga, Feya tidak tau.
Satu gaun yang cukup menarik perhatian Feya. Gaun itu tidak mewah, hanya elegan dan terlihat lebih simpel juga. Warna putih dengan sentuhan warna hijau muda membuatnya terkesan lebih segar.
Di saat Feya ingin mengambil gaun itu, rupanya ada seorang gadis cantik yang juga menginginkannya.
“Saya bayar gaun itu.” kata gadis itu yang membuat Feya tersenyum kecil.
“Maaf Alea, ini gaun aku duluan yang melihatnya.” Kata Feya mencoba mempertahankan gaun impiannya.
“Kamu hanya bisa melihat, tapi akulah yang di takdirkan memilikinya. Gaun ini maupun Gilang.” seketika Feya tersadar siapa dirinya.
Gilang bukanlah orang yang berasal dari dunianya. Begitupun dengan Milka Alea lubis, mereka berdua adalah orang yang tidak seharusnya di singgungnya.
Mungkin jika hal ini terjadi sebelum Feya pasti langsung membantai Alea di tempat. Tapi sekarang keadaanya tidak menguntungkan Feya sama sekali.
Gadis itu sangat menderita sekarang, membutuhkan uang. Sehingga gadis yang dulu selalu melihat dengan sombong. Kini dia harus menahan diri untuk tetap mendapatkan uang.
Seperti sekarang, Feya menahan diri untuk tidak melawan Alea. Itu semua demi pekerjaan dan uang.
“Silakan ambil, saya akan mencari yang lain.” Feya menundukkan kepala dan memilih untuk pergi.
Feya memutuskan tidak ikut pesta, dia membohongi Yuni untuk membeli gaun di toko lain. Padahal dia lebih memilih pergi ke pasar malam untuk berburu makanan enak.
Feya sendirian di pasar malam, Yuni menghadiri pesta dan bertemu dengan Alea. Gilang sebenarnya datang ke acara pesta, namun dia hanya ada di dalam ruangan dan menyaksikan dari balik layar.
“Gilang, bener kamu gak mau keluar? Ada papa kamu juga di luar.” Anddra menemani Gilang minum di dalam ruangan.
“Kamu tau siapa yang ada di samping papa?” Gilang malah dengan santainya bertanya siapa gadis cantik yang ada di samping papanya.
Andra berpikir sejenak sebelum menebak. “Apa….?”
Gilang hanya mengangguk sebelum meletakkan gelas minum dan pergi meninggalkan acara.
Ya, Gilang sudah mencari Feya di setiap sudut ruangan, tetappi dia tidak menemukannya. Jadi Gilang memutuskan untuk pulang saja dan menemaninya di rumah, Kalau saja dia ada di rumah.
Rumah dan perusahaan tidaklah jauh, sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah.
Feya tidak ada di rumah, kondisi rumah masih gelap gulita. Bahkan rumah juga masih hening, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Itu menandakan kalau Feya belum sampai di rumah.
“Kemana anak ini? Kenapa sudah malam tapi belum pulang juga. Kalau sampai berani keluar mencari tempat tinggal baru, sampai rumah akan ku patahkan kakinya!” Geram, Gilang takut kalau sampai Feya berniat meninggalkan rumahnya seperti apa yang dia sampaikan kemarin malam.
Cukup lama Gilang menunggu kepulangan Feya. Gadis nakal yang membuat bos besar tak bisa diam itu akhirnya pulang juga.
“Dari mana saja kamu? Kenapa begitu malam baru samai rumah?” Tanya Gilang langsung menghampiri Feya.
“Hehe, kamu pasti belum makan, kan? Aku belikan kamu camilan enak. Aku tadi dari pasar malam beli camilan-camilan ini buat teman kita lembur. Karena aku tau, kamu pasti duduk di ruang tamu b******u dengan kertas-kertas ini.” Feya menyodorkan banyak bungkusan kresek makanan ke arah Gilang.
Tebakan Feya meleset kali ini, karena Gilang sebenarnya datang ke pesta.