Mentari yang malu-malu muncul di ufuk timur. Sinarnya merayapi gedung-gedung tinggi di jantung kota. Kehidupan mulai berdenyut dengan langkah-langkah yang tergesa. Bunyi gemerisik kopi yang diseduh, bisik-bisik bisnis yang mulai terbentuk. Deru kendaraan juga mulai memenuhi jalan raya. Cahaya lampu-lampu kota meredup perlahan, memberi ruang pada sinar mentari yang semakin menguat, menggambarkan transisi indah dari pagi tenang menjadi awal dari keriuhan kota yang tak pernah mati. Kamar Rawat Bougenvilla Nomor 103. Di dalam kamar rumah sakit yang teduh, cahaya mulai menyusup masuk melalui gorden, memantulkan lembut di retina yang responsif, menyesuaikan diri dengan lingkungan. “Ma … Mama sudah bangun?” ucap satu suara yang membuat Marissa menoleh dan melihat wajah sembab Sania. “San, Ma

