“Kau tahu makna yang tersirat dari ucapanmu, Bang?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya. Kegugupan yang melanda Feri semakin membumbung tinggi. Apalagi angin yang ber-hembus malam ini. Dingin dan tak memahami dirinya yang kini sudah beku. Lidahnya sudah kelu. Tak mampu lagi rasanya walau hanya sekedar bicara sepatah kata. Lalu wanita ini seolah mengujinya. “Aku minta maaf kalau aku lancang meminangmu, Sar,” ucapnya. Tak perlu ia bertanya karena nada bicara Sara yang berubah dingin itu benar-benar membuatnya seperti tersengat listrik. Berkali-kali hingga nyaris mati karena kuatnya arus. Tapi mata jelita itu malah menantang-nya. “Ku rasa Abang sudah tahu jawabannya,” lirih wanita itu. Ucapannya tiba-tiba melembut yang sukses membuat Feri men-dongak. Ada air mata di sana. “Aku tak

