Lelaki itu hanya manusia biasa. Sekali pun ia lelaki. Tentu saja ia boleh menangis bukan? Hatinya bukan terbuat dari tembaga atau besi. Ia mudah rapuh. Ia mudah luruh. Namun ia juga sering lupa. Ketika nestapa melandanya, ia berlari. Ia berlari menghindari kenyataan. Hancur. Hancur hatinya ya Allah. Waktu mengejar. Ia berlari semakin jauh. Menghindari waktu. Atau sekedar berharap waktu akan berhenti. Lalu ia datang menghapus memori sedih yang menimpanya. Tapi sayangnya itu hanya akan terjadi dalam mimpinya. Ia berjalan gamang semalaman. Tak tentu arah melintasi jalan. Tak perduli pada tubuhnya yang basah. Tak perduli pada nyawa. Beberapa kali ia nyaris diterjang kendaraan yang melaju kencang malam itu. Tapi ia tak perduli. Ya Allah.... ia sudah putus asa kini. Ia bertanya-tanya pada diri.

