“Sar...Sar...,” panggilnya tergesa-gesa. Di seberang sana, Sara melirik ponselnya lalu berdeham. Ada degup tak bernyawa yang berdentam keras di dalam sana. Dalam satu detik ada aliran hangat menyapa tubuhnya. Wahai dewi cinta, ternyata engkau datang padanya. Menebar benihmu di dalam sana dan berharap berkembang cepat. “Ada apa, Bang?” Lelaki itu menarik nafasnya dalam-dalam. Tiba-tiba ia gugup. “Kau mau pergi ke Afganistan?” tanyanya pelan dengan rasa yang menyesakan d**a. Kali ini giliran Sara yang merasakan lidahnya kelu. Sulit rasanya untuk menjawab. “Iya.” Hanya itu jawabannya karena detik berikutnya ia menangis dalam diam. Air matanya luruh seketika. Kenapa ia jadi bimbang? Kenapa ia malah tak tega meninggalkan tanah ini? Apa karena lelaki ini? “Kapan?” Sara terdiam. Mengha

