Ibu

1512 Words
“Apa aku salah? Sepertinya dia tidak suka padaku,” keluh Eiko. ketiganya sudah keluar dari café tersebut, memberikan ruang untuk pelayan tadi yang tidak nyaman kehidupan kelamnya ditonton orang lain. "Tidak, dia hanya tidak nyaman, biarkan saja, kita doakan semoga kehidupannya lebih baik. Sama baiknya dengan kita mungkin,” jawab Hikaru cukup bijaksana. “Tunggu! Seblaknya ketinggalan di dalam.” Eiko kembali ke dalam. Seblak yang tadi masih ada di meja. “Eiko… biarkan saja!” teriak Hikaru, namun terlambat, malaikat kecil itu telah hilang dibalik pintu. “Kamu jangan bersedih lagi, ini buatmu. Kalau kamu makan seblak, aku yakin harimu akan menyenangkan,” dengan ceria, Eiko memberikan seblaknya kepada pelayan tadi. Bukanya disambut dan diterima dengan baik, raut wajahnya tidak ramah sama sekali, tidak berkata apa-apa bahkan terimaksih sekalipun. “Ka…kalau begitu aku pergi dulu.” Eiko justru yang merasa tidak enak. Hikaru dan Joshua telah menunggu di luar. Tring… tring… nada dering HP Hikaru berbunyi. “Apa?” ia langsung bertanya tanpa salam begitu melihat siapa yang mendialnya, dari Bilal. “Bisa aku bicara dengan Eiko?” “Ada apa? Bicara saja dengan ku.” “Tidak bisa, aku harus bicara langsung dengannya.” Di waktu yang tepat, Eiko datang. “Nih…” Hikaru menyerahkan HPnya. “Apa?” tanyanya polos. “Bilal ingin bicara denganmu!” Hikaru sedikit kesal menyerahkan HPnya pada Eiko. “Hanya 10 detik, setelah itu matikan!” serunya. “Hallo…” Eiko menyapa. “Apakah bisa kita bertemu disuatu tempat?” Bilal menyebutkan nama tempat dan tujuannya. “Iya, aku ke sana sekarang.” Eiko langusng menutup panggilan dan menyerahkan HP nya pada Hikaru. “Aku pergi dulu ya. Oh iya, nenek menyuruhku belanja. Ini daftar belanjanya. Aku pergi dulu.” “Hei… ma uke mana?” “Mau bertemu payung…” teriaknya sambil berlari. “Cepat sekali larinya, seperti akan bertemu dengan idola saja.” Komentar Joshua. “Apakah kalian terlibat cinta segitiga?” “Ngarang! Ayo kita pergi.” *** Ditempat kamarnya, Bilal sedang memandangi kalung mungil itu. Tiba-tiba ibu sambungnya datang membawa buah-buahan untuknya. “Kamu sedang banyak belajar, jadi kamu harus benyak mengkonsumsi vitamin,” ucapnya dengan penuh kasih sayang pada putra sambungnya. “Tunggu…” Kireina melihat kalung yang sedang dipegang oleh Bilal dan langsung mengambilnya. “Bagaimana bisa kamu memiliki ini?” ia tahu persis bahwa kalung itu hanya ada satu pasang, satu miliknya, dan satu lagi yang sedang di pegang oleh Bilal, yaitu milik Hikaru, anaknya. “Ini punya temanku,” jawabnya datar. “Teman? Teman yang mana?” “Apa sih, kepo.” Bilal berdiri, matanya mendelik, lalu keluar dan meninggalkan ibunya. Eiko sudah menunggu ditempat yang ditentukan oleh Bilal, taman dilingkunan tersebut yang tidak ramai juga tidak sepi. “Apakah kamu sudah menunggu lama?” tanya Bilal, melihat Eiko yang tengok kiri kanan mencari sumber suara. “Tidak,” ia menggeleng. “Mana?” Eiko menagih tanpa basa-basi. “Apa yang mana?” “Kalungnya.” Ia berkata manja. “Kalung?” Eiko menganggukkan kepalanya, membuat Bilal tambah gereget melihat tingkah pujaan hatinya. “Ini yang kamu cari?” ia menggantung kalung tepat di depan wajah Eiko yang imut. Tak ayal membuat wajahnya langsung ceria seketika. “Iya, benar, bagaimana kamu bisa menemukannya?” Eiko memandangi kalungnya dengan seksama. “Aku kerahkan seluruh tenaga untuk menemukannya.” Tambah bilal. “Makasih banget ya udah bantu aku menemukannya.” “Kalau mau berterimakasih, belikan aku sesuatu, minuman, maian, atau es teh, atau makanan,” pinta Bilal. “Banyak sekali yang harus aku beli,” bibir Eiko manyun. “Ekh… tidak-tidak, pilihkan saja salah satu.” Bilal segera mengklarifikasi permintaannya. “Oke, kalau begitu, ayo.” Keduanya pun pergi. Tanpa disangka, di belakang mereka Kireina menyaksikan pertemuan Bilal dengan Eiko untuk memastikan milik siapa kalung itu sebenarnya. Ia mendapatkan kekecewaan, itu bukan anaknya. Anaknya adalah laki-laki. Eiko dan Bilal pergi ke tempat bermain, memainkan motor dan mobil. Tanpa sengaja tangan Bilal menggenggam tangan Eiko, ia salah tingkah, tapi tidak dengan Eiko. Selanjutnya permainan capit mainan, hanya sekali capit Eiko langsung mendapatkan satu miniature mobil lamborgini. Ia berikan pada Bilal. “Ini untukmu sebagai tanda terimakasih karena sudah menemukan kalungnya.” “Aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah menaikan moodku hari ini.” Keduanya diam sejenak. “oh iya, sampai kapan kamu akan tinggal di rumah Hikaru?” “Sampai aku menemukan sesuatu yang hilang.” “Kamu sering sekali kehilangan sesuatu ya.” “Iya.” “Mau ku antarkan pulang?” “Tidak, aku pulang sendiri saja. Aku pulang duluan ya!” Eiko langsung berlari meninggalakn pemuda dingin tersebut. “Cepat sekali.” Ia memandang Eiko sampai benar-benar hilang dari pandanganya. Eiko berlari riang memainkan kalungnya, ia putar-putar sambil tersenyum dan berlari kecil, saking senangnya ia tidak melihat ada sepeda melaju dari arah yang lain dan… Buk… Menabraknya pelan, ia terjatuh, kalung yang ia pegang pun terlepas. “Hah… kalungnya,” ia panik, mencari-cari kalungnya terlepar kemana, dengan berjongkok, ia meraba-raba tanah, mencari kaung yang bentuknya cukup kecil. “Itu dia…” ia melihat kalungnya tergantung di sela-sela besi saluran air. Degnan segera ia mengambilnya perlahan. Byur… Belum ia mendapatkan kalungnya, seseorang dengan tidak sopannya mengguyur dia dengan air kotor dan menyebabkan kalungnya masuk ke dalam saluran air. “Yah masuk… bagaimana ini?” masih beruntung saluran air ini bukan air yang terus mengalir, jadi kalungnya tidak hanyut dan masih bisa untuk diambil. “Tapi bagaimana caranya?” tangannya yang kecil tidak bisa masuk pada sela-sela besi. Ia terus berusaha memasukan tangannya, sampai ia teringat memiliki kekuatan, mungkin tidak apa-apa kalau ia gunakan untuk ini. Matanya fokus pada kalung, telunjuknya berusaha menaikan kalung yang beratnya tidak seberapa, beberapa kali gagal, ia terus fokus dan… “Dapat.” Ia tersenyum puas, namun bersamaan dengan itu ia pingsan di tempat. *** Hikaru dan Joshua membeli semua keperluan yang terdapat dalam kertas yang ditulis Hanan. Sawi, sosis, bakso ikan, bakso sapi, jamur enoki, daun bawang, jeruk limau, kencur, beragam kerupuk, sukro cikur, siomay kering dan lainnya yang berhubungan dengan seblak dan baso aci. “Terakhir bakso tahu,” bersamaan dengan ia mengambil tahu, seseorang juga akan mengambil barang yang sama. “Bu Kireina, maaf bu, silakan ibu dulu yang ambil,” dengan sopan Hikaru mengalah. “Tidak, kamu saja…” masih ada beberapa boks bakso tahu di sana, mereka tidak perlu rebutan, hanya posisinya memang bertumpuk jadi siapa dulu yang mengambil tidak masalah. Hikaru mengambilnya lebih dulu dan memberikan pada sang guru Adab Mulia tersebut. “Terimakasih.” “Sama-sama.” “Hikaru, apakah sudah selesai semua?” teriak Joshua yang baru muncul setelah dari toilet. “Hikaru?” lirih Kireina. “Maaf, siapa tadi namamu?” “Hikaru bu. Maaf bu, saya duluan,” pamitnya menuju kasir. Ini adalah pertemuan ke tiga, namun Kireina baru mengetahui namanya hari ini. Di hari pertama sekolah, Hikaru ditendang dari kelas Kireina karena terlambat masuk, jadi belum sempat berkenalan, apalagi Kireina yang dikenal kiler dan tegas kepada anak-anak yang kurang disiplin. Kireina berdiri termenung, memikirkan sesuatu, apakah dia anaknya? Dari jauh ia memerhatikan Hikaru, sudah lama sekali sejak terakhir ia meninggalkan anak dan suaminya tak pernah melihat bagiamana perkembangan anaknya. Bahkan tak ahu rupa dari anaknya sendiri, kunci mereka bertemu hanya kalung yang kelak akan mempertemukan mereka. Tidak sampai disitu, Kireina mengikuti dua remaja itu sampai di depan toko Hanan. Ia semakin yakin bahwa Hikaru anaknya pada saat melihat mantan ibu mertuanya membantu membereskan semua belanjaan Hikaru. Dari jauh ia memerhatikan, sama sekali tidak berani mendekat, tidak tahu kapan ia akan melakukannya. Di dalam toko, dibantu Joshua mereka membereskan barang-barang sampai selesai. “Hikaru, Eiko kemana? Seharusnya kalian pulang besama bukan?” tanya Hanan. Hari sudah mulai sore, namun Eiko belum datang sejak siang mereka berpisah di café. Hikaru mulai khawatir dan pamit untuk mencari gadis polos itu. Dalam keyakinannya, Eiko yakin tidak akan melenceng dari jalur pulang ke rumah, jadi ia tidak perlu panik menyusuri setiap sudut kota, cukup ikuti jalan yang biasa mereka lalui. Dan benar saja, ia melihat Eiko berjalan sangat lemah dengan memegang dinding-dinding rumah atau pagar yang berada di dekatnya. “Karu…” panggilnya dengan lemas, hendak berlari namun tenaganya telah hilang. “Hei… kamu kemana saja? Kotor bau, bukanya pulang cepat-cepat, malah keluyuran,” bukanya disambut dengan baik, Eiko malah disemprot kemarahan dan kekhawatiran Hikaru. “Ini! Aku menemukan kalungmu,” dengan wajah yang selalu berseri, Eiko menunjukkan kalung milik Hikaru dan memasangkannya. “Jangan dihilangkan lagi, aku capek sekali mencarinya.” “Kamu…” “Kalungnya sudah ketemu, apakah kamu lega sekarang?” potong Eiko, tidak memberikan kesempatan Hikaru bicara. “Tapi Karu…” Tiba-tiba Hikaru mengusap kepala Eiko dan membuatnya hilang kata-kata, “Makasih,” ucap Hikaru sangat tulus. “Tapi kenapa kamu bau? Kamu jatuh dimana?” “Kenapa kamu tahu aku jatuh?” “Katakan, kamu jatuh dimana? Apakah kamu jatuh di lautan cinta?” mata Hikaru menyipit, menelisik. “Apa?” Eiko tidak mengerti. “Kalau kamu jatuh, pasti kamu jatuh di lautan cinta.” “Keyri…” Eiko menyebut nama lain dan melihat ke arah lain. “Keyri?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD