Jadi Mama Dadakan

1013 Words
Tak lama dari itu, Clara berlari entah ke mana. Elvina langsung mengikutinya, khawatir Clara keluar dari rumah itu. Dan benar saja, Clara ingin bermain di taman dengan ayunan di sana. Canda tawa terdengar dari taman yang disadari Rafael. Ia lega, akhirnya Clara menemukan teman barunya tanpa rewel. Sering kali Clara tidak menyukai pengasuhnya dan meminta untuk digantikan. Tanpa Elvina sadari, Rafael memperhatikannya dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua yang menghadap ke taman. Sesuatu terjadi begitu saja di dalam hatinya saat melihat Elvina. Entah ia harus senang, gelisah, marah ataupun sedih. Cukup lama bermain di taman, Elvina segera membawa Clara masuk ke dalam rumah. Ia lalu memeriksa buku-buku milik Clara guna mengetahui aktivitas gadis kecil itu saat belajar. Tak banyak berharap di usianya yang baru 5 tahun, Clara belum dapat membaca tetapi sudah belajar menulis dan mengeja huruf dari A hingga Z dengan nada cadelnya. Hari mulai gelap. Sebenarnya Elvina masih betah bersama gadis kecil itu, tetapi ia tak terbiasa pulang larut Malam sehingga ia harus meninggalkan rumah itu. “Pak, saya permisi pulang,” ucap Elvina saat sudah di dekat Rafael yang sedang berada di sebuah sofa dekat kamar Clara, sedangkan gadis kecil itu terlihat sedang menangis di belakang tubuh Elvina. “Sayang, besok ‘kan Tante ke sini lagi.” Elvina mengusap pipi Clara yang sedikit basah. Melihat kelembutan Elvina, siapapun akan dibuat tersentuh termasuk Rafael. Ah tidak! Ia hanya tak tahu saja bobroknya Elvina seperti apa. “Mama! Janji anterin aku sekolah?! Aku mau teman-teman aku tau kalo aku punya Mama!” Clara berteriak sambil menangis dan mengoreksi panggilannya untuk Elvina adalah ‘mama’. “Clara?” panggil Rafael memperingati. Ia terlihat kesal mendengar ucapan Clara dengan caranya yang membentak Elvina. Clara sering kali tak menyukai pengasuhnya, akan tetapi ia tak pernah mengekspresikannya selain merengek kepada ayahnya untuk meminta digantikan. Tapi apa ini? Clara berani membentak Elvina? Itu hanya akan terjadi jika Clara merasa sudah sangat dekat dengan orang tersebut. “Papa! Aku diejek gak punya Mama! Teman-teman selalu dianterin Mamanya, tapi aku dianterin sama Bibi.” Tangis Clara semakin menjadi membuat Elvina sungguh tak tega. Elvina segera menyela di tengah-tengah keributan ayah dan anak. “Oke, oke. Mama janji ke sini pagi-pagi. Kamu jangan marah-marah gitu dong, nanti Mama gak mau nganter karna kamu galak.” Belaian Elvina di rambut kecoklatan Clara berhasil membuatnya sedikit tenang. “Aku ikut Mama ke rumah Mama, ya?” rengek Clara seraya memegangi tangan Elvina. “Oke, kita anter Tante Elvina pulang. Tapi setelah itu, kamu tidur. Besok harus sekolah.” Rafael beranjak dari tempat duduknya, lalu membawa kunci mobil di atas meja yang berada di hadapannya. “Mama, Pah! Bukan Tante!” koreksi Clara tak suka. Rafael menghela napas kesal, lalu menatap Elvina tak enak hati, akan tetapi Elvina terlihat tak masalah dengan itu. Mereka lalu berjalan keluar rumah menuju garasi yang berada di samping rumah itu. “Tapi … bukannya mau diantar sopir?” kata Elvina saat menyadari jika Rafael lah yang akan mengantarkannya pulang. “Tidak apa, masuk saja,” jawab Rafael acuh, lalu memasuki mobilnya diikuti Elvina yang segera memasuki kursi samping pengemudi dan Clara duduk dipangkuannya. Suara mesin mobil menyala, Rafael lalu menginjak pedal gas dan mulai menyusuri jalanan beraspal. Keluar dari perumahan, perjalanan dilanjutkan di jalan raya. Wajah Rafael mungkin terlihat tenang, tetapi hatinya tidak. Ada rasa tak percaya, penasaran, cemas dan yang lainnya. Namun, ia enggan untuk menyerukan emosional hatinya. “Pah, aku mau tidur di rumah Mama. Besok ‘kan Mama ke rumah kita.” Clara menatap Rafael dengan sungguh-sungguh, berharap ayahnya akan mengizinkannya untuk menginap. “Tapi tempat Mama sempit banget loh. Kamu pasti gak nyaman. Mama Cuma ngekost di sini.” Elvina yang menjawab sambil memeluk Clara yang berada di pangkuannya. “Di mana rumah orangtuamu?” tanya Rafael penasaran. “Di Bandung,” jawab Elvina jujur. Rafael membuang napas lega. Jawaban Elvina membuat hatinya terasa sedikit ringan dari kecemasan yang entah apa penyebabnya. “Hm … boleh saya tanya sesuatu?” tanya Elvina ragu tapi penasaran. “Tentu, ada apa?” Rafael melirik ke arah Elvina sekian detik, lalu kembali meluruskan kepalanya kedepan untuk fokus ke jalanan yang akan ia lalui. “Keluarga Pak Rafa lagi liburan? Saya kok gak liat siapapun lagi kecuali asisten rumah, sop—” “Saya tinggal sendiri, berdua sama Clara dan beberapa asisten dan yang lainnya juga,” jawab Rafael sebelum Elvina selesai bertanya. Elvina hanya mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, Elvina berbincang dengan Clara. Gadis kecil itu membicarakan banyak hal tentang sekolah dan teman-temannya. Sedangkan Rafael, hanya mendengarkan percakapan antara putrinya dan Elvina yang terlihat langsung akrab hanya dalam waktu setengah hari mengenal. Tibanya di kostan yang terlihat kecil juga sedikit kumuh, tapi banyak penghuninya yang sebagian besar mahasiswa juga pekerja rantauan. “Tuh kostan Mama. Jelek, ‘kan? Clara pulang aja. Besok Mama anterin kamu sekolah.” Elvina mencium pipi Clara lalu membuka pintu mobil. Elvina mengangguk hormat saat sudah turun dari mobil. “Terimakasih, Pak.” Setelah itu, ia berjalan meninggalkan mobil. Pagi harinya, Elvina bangun lebih pagi dari biasanya untuk bersiap-siap ke rumah Rafael. Antisipasi takut kesiangan, ia pergi pagi sekali. Ia juga ada kuliah pagi, tapi kebetulan jarak dari rumah Rafael ke kampus tidaklah jauh. Sebelum pergi, Elvina memesan ojek online untuk ke rumah Rafael karena mobilnya dibawa Melia. Sampainya di rumah Rafael, kini Elvina melihat pengasuh lainnya yang bernama Ambar. Ia sudah tidak muda, usianya mungkin sekitar 49 atau mungkin lebih. Elvina juga melihat Rafael yang beranjak dari meja makan setelah sarapan. Jika kemarin Elvina melihat Rafael memakai pakaian santai, kini ia melihat Rafael bersetelan lengkap khas kantor, dasi yang tertata rapi tertutup jas berwarna biru. Pria berusia 33 tahun itu adalah seorang direktur keuangan di perusahaan milik ayahnya. Namun, tentu saja Elvina tidak mengetahui itu. Dengan acuhnya ia hanya mengetahui bahwa Rafael berkerja di perkantoran. Hanya itu. “Asik ... Mama, jadi Mama aku di sekolah, ya?” tanya Clara antusias dan Elvina hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah disertai senyuman manis. Rafael enggan berkomentar apapun seolah bukan hanya Clara yang menginginkan hal itu, tetapi dirinya juga demikian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD