Sayang? “Ian?” Ian masih terpana. Bibirnya mengulas senyuman tipis. Suara Kara terdengar amat jauh dari pendengarannya. Kara menepuk pipi Ian. “Ian!” “Eh?” Ian tersadar. Matanya kembali terfokus pada Kara. “Apa?” “Bagaimana menurutmu?” “Apanya?” “Astaga! Apa kau tidak mendengarku?” Kara mengerucutkan bibirnya, kesal dengan kelakuan Ian. “Coba diulangi lagi.” “Bagaimana menurutmu bila aku mengambil hak asuh Riyu?” Ian menggeleng. “Bukan yang itu!” “Yang mana?” “Yang sebelumnya.” “Memangnya tadi aku bilang apa?” “Kamu memanggilku ‘sayang’,” bisik Ian sembari menggigit bibir bawahnya. “Ah, masa?” Pipinya merona. “Kapan?” Ian berdecak gemas. “Jangan pura-pura lupa!” Kara mengutuk mulutnya yang kelepasan bicara. Rasanya teramat malu ketika Ian memintanya mengulang. Pada

