00 AM. Kara merengut membuka pintu mobilnya diiringi tatapan memelas Ian. Jujur saja, godaan m***m dari pria yang baru saja melamarnya itu membuat benaknya berkelana liar. Tengkuknya meremang seketika. Bibirnya mengulas senyum melihat berlian mewah yang membelit jari manisnya. Rasanya seperti mimpi. Berpacaran sekaligus bertunangan di hari yang sama? Ah, bukankah itu gila? Ia menghidupkan mesin mobilnya. Sedetik kemudian, Kara terkesiap saat menyadari dirinya tak sendirian. Matanya membola ketika melirik ke kaca dashboard dan melihat sesosok pria tersenyum di sana. Sebilah logam dingin menyentuh sisi kiri lehernya. “Hai, Sayang,” sapa pria itu beringsut mendekatinya dari belakang, lalu bicara di tengkuknya. “Bram? Mau apa kau?” tanya Kara waspada. “Jalankan saja mobilnya. Kau tidak

