Sepasang Cincin Untuk Mas Kawin

1162 Words
Hari itu bukan hanya pertemuan dua orang, tapi pertemuan Yunita dengan keluarga Santa, yang disatukan bukan oleh kemewahan, tapi oleh kasih dan niat tulus untuk memperbaiki sesuatu yang nyaris hancur. *** Pagi itu, matahari bersinar hangat menyambut hari Minggu yang tenang. Santa berdiri di teras rumah Yunita, mengenakan jaket tipis dan tas selempang kecil. Ia menunggu Yunita yang sedang berpamitan kepada kedua orangtuanya. Beberapa menit kemudian, Yunita keluar. Wajahnya tampak tenang, meski sorot matanya masih menyimpan sisa kelelahan batin yang belum benar-benar sembuh. “Jadi… kita langsung ke Tangerang?” tanyanya. “Ya, Neng. Saya mau kenalin kamu ke Ibu dan adik-adik,” jawab Santa lembut. Yunita terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Boleh...” Perjalanan dengan dari Banjar menuju Tangerang memakan waktu berjam-jam. Di dalam bus ekonomi yang tidak terlalu penuh, mereka duduk berdampingan. Yunita duduk di dekat jendela, melemparkan pandangannya ke luar, terkadang berbalik menatap Santa. Tak lama kemudian, Yunita tertidur. Santa menatap wajahnya yang tenang. Ia tak ingin berpikir terlalu jauh, tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa berbeda, semacam rasa yang belum ia beri nama. Rumah Santa berdiri sederhana di pinggir perkampungan padat penduduk. Dindingnya bilik bambu, atapnya seng seng, tapi halaman kecilnya bersih dan rapi. “Ini rumah saya,” kata Santa lirih. Yunita tersenyum tulus. “Hangat. Saya suka.” Pintu terbuka sebelum Santa sempat mengetuk. Seorang perempuan setengah baya muncul. Wajahnya teduh, dengan kerudung lusuh dan senyum hangat. Ia adalah Siti, ibunya Santa. “Santa! Alhamdulillah, pulang, Nak!” serunya. Santa langsung mencium tangan ibunya. “Ibu, ini Yunita... emmm... pacar saya, orang Banjarsari…” Bu Rini terkejut, lalu tersenyum lebar. “Masya Allah... cantik sekali. Masuk, Neng. Jangan sungkan, ya.” Di dalam rumah yang sempit tapi rapi, dua gadis remaja muncul dari kamar, memeluk Santa. “A Santa!” teriak mereka sambil bersamaan. Santa memperkenalkan mereka: Lisna, adiknya yang sudah kelas 3 SMA, dan Tika, bungsu yang masih kelas 2 SMP. Yunita menyaksikan semua itu dalam diam. Ia terharu. Melihat bagaimana Santa membagi kasih, memperlakukan ibunya dengan penuh hormat dan kasih sayang, dan mendidik adik-adiknya dengan nasihat-nasihat bijak, membuatnya sadar, bahwa lelaki ini bukan pria biasa. Santa bukan hanya bertanggung jawab, tapi ia juga berhati tulus. Siang itu, Santa duduk bersama ibunya di dapur, sementara Yunita menyiapkan kopi untuk Santa. Dengan lembut, Santa menjelaskan rencananya yang mendadak. “Ibu... saya mau nikah sama Yunita. Secepatnya. Tapi nggak akan ada pesta. Cukup kumpul keluarga aja.” Bu Rini terdiam sejenak, lalu menatap putranya. Khawatir terjadi sesuatu. “Apakah… ibu tidak salah dengar?” “Tidak, Bu. Saya tahu, ibu pasti kaget. Kami tidak ada masalah apapun. Kami hanya ingin segera dihalalkan…” jawab Santa. “Syukurlah kalau begitu, tentu saja ibu merestui dan akan selalu mendoakan kalian… hanya saja, ibu tidak dapat membantu apa-apa.,,” “Bu, saya bukan mau membebani ibu. Saya hanya minta do’a ibu. Itu sudah sangat berarti bagi saya…” jawab Santa. “Dan… insyaAllah uang bulanan buat Ibu sama adik-adik... nggak akan berkurang, Bu. Saya janji,” lanjut Santa cepat. Rini menarik napas panjang, ada kesediah dan keharuan dalam wajahnya. “Santa... Ibu tahu kamu laki-laki yang tangguh. Ibu yakin, Allah akan memberikan jalan terbaik untukmu, dan selalu melindungimu….” Santa memegang tangan ibunya dan mengangkat tangannya. “Aamin yaa Rabb…” Yunita, yang sejak tadi mendengar dari dapur, tak mampu menahan kesedihannya. Ia menghapus air matanya yang memaksa menetes. Ia menghapusnya, lalu melangkah, menghampiri Santa dan ibumua sambil membawa nampan berisi segelas kopi. Ia duduk perlahan di sebelah Rini. Rini tersenyum, lalu mengelus rambut Yunita. “Maafkan kami, ya, Neng... rumah ini sederhana. Anak Ibu juga bukan orang kaya. Dia masih belajar hidup. Kalau nanti ada kekurangan... mohon sabar dan maklum ya...” Yunita menunduk, lalu menggenggam tangan Rini dengan erat. “Bu... saya justru berterima kasih. Saya datang ke sini nggak membawa apa-apa, dan belum bisa memberi apa-apa... Saya janji, saya nggak akan pernah nuntut apa pun dari yang A Santa nggak sanggup.” Bu Rini mengangguk haru, matanya berkaca-kaca. “Semoga pernikahan kalian jadi berkah. Ibu doakan dari hati yang paling dalam.” Hari itu bukan hanya pertemuan dua orang, tapi pertemuan Yunita dengan keluarga Santa, yang disatukan bukan oleh kemewahan, tapi oleh kasih dan niat tulus untuk memperbaiki sesuatu yang nyaris hancur. Dan dalam kesederhanaan rumah bilik bambu itu, Yunita menemukan harapan baru. Santa dan Yunita segera berpamitan kepada Rini, untuk kembali ke Banjarsari. ** Malam hari di Kampung Pasir Endah, angin dusun menyelinap lembut lewat sela-sela pagar balkon kayu rumah Yunita. Dari kejauhan, suara jangkrik dan desir dedaunan menjadi latar sunyi yang melingkupi dua insan yang duduk diam dalam penerangan temaram. Santa duduk di kursi bambu, memandangi langit malam. Di sebelahnya, Yunita duduk bersila di tikar pandan, mengenakan sweater tipis. Wajahnya masih lelah, tapi matanya tetap memancarkan kekuatan yang tak mudah dilihat dari luar. Santa menarik napas dalam, lalu merogoh saku jaketnya. Dengan kedua tangan yang sedikit bergetar, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua dan meletakkannya di hadapan Yunita. “A,” ujar Yunita perlahan. “Apa ini?” Santa menatap Yunita. Napasnya dalam. Ada keraguan dan rasa hormat yang dalam. Lalu perlahan, ia menyerahkannya kotak kecil itu pada Yunita. “Saya… cuma bisa kasih ini,” ucap Santa. Suaranya rendah, seolah malu. “Itu saja yang sanggup Aa beli… untuk nanti mas kawinnya.” Yunita terdiam. Ia membuka kotak itu pelan. Di dalamnya, sepasang cincin kecil yang sederhana, tanpa ukiran, hanya polos dan mengilat dalam cahaya sore. Matanya langsung memanas. Bibirnya gemetar, tapi ia menahan air mata yang hampir tumpah. “Aa, sekali lagi, pernikahan ini untuk menyelamatkan aku dan anakku, tapi… tetap saja hanya sandiwara. Aa tidak perlu memaksakan…” kata Yunita. “Saya tidak memaksakan. Saya ikhlas membeli cincin ini. Jika Neng tidak suka, anggap saja ini bantuan saya untuk lebih meyakinkan sandiwara ini…” jawab Santa. “A…” Yunita menggeleng pelan. “Tapi… waktu aku minta tolong… kita sepakat, Aa nggak perlu mikirin apa-apa. Cukup bantu jaga aib ini, bantu aku jaga harga diri anakku kelak.” Ia mengatupkan bibirnya. “Aku bahkan nggak pernah mimpi akan pakai cincin lagi. Ini cuma… permintaan tolong. Aku yang salah, A. Ini beban hidupku, bukan bebanmu.” Santa mengangkat wajahnya. Sorot matanya tenang, tapi tegas. “Saya tahu, Neng. Tapi saya kita tidak boleh egois. Di antara kita ada keluarga kita. Ada orangtuamu, Neng. Saya hanya berusaha menghormati kedua orangtua..” Yunita menunduk. Tangannya menyentuh kotak itu, ragu. Air matanya menetes diam-diam, jatuh di punggung tangannya sendiri. “A… kamu selalu bisa bikin aku merasa seperti perempuan yang masih pantas dihormati… padahal aku merasa dunia sudah membuang aku.” Santa mengangguk kecil. “Kamu pantas, Yun. Kamu cuma sedang tersesat sebentar, tapi kamu masih punya kesempatan untuk mencari jalan pulang.” Malam itu mereka tak saling menyentuh. Tak ada pelukan, tak ada genggaman tangan. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam tumbuh di antara mereka: rasa hormat, penghargaan, dan niat baik yang mengikat lebih kuat dari sekadar perjanjian di atas kertas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD