Yunita duduk membelakangi pintu, di pojok ranjang, tubuhnya terbungkus selimut hingga bahu. Hanya punggungnya yang terlihat, sedikit membungkuk.
***
Beberapa hari kemudian, pernikahan antara Santa dan Yunita akhirnya terlaksana. Tak ada dekorasi mewah. Tak ada panggung pelaminan berhias emas.
Tak ada dentuman musik organ tunggal atau keramaian pesta seperti di pernikahan-pernikahan yang umum di desa. Tapi justru dalam kesederhanaan itu, pernikahan mereka terasa begitu agung dan khusyuk.
Hanya beberapa rangkaian bunga melati dan kenanga yang dirangkai di sudut-sudut halaman rumah orangtua Yunita. Beberapa tikar pandan dibentangkan di atas tanah yang bersih, diteduhi pohon mangga besar yang menaungi halaman.
Langit cerah. Angin berembus lembut, seolah ikut menjadi saksi dari sebuah janji suci yang sebentar lagi akan terucap.
Santa mengenakan kemeja putih polos, bersih dan disetrika dengan rapi. Celana kain abu-abu gelap membalut kakinya, sederhana tapi pantas. Sepatunya bukan sepatu mahal, hanya sepatu kulit tua yang telah dipoles habis-habisan hingga kembali mengilap.
Tapi cara Santa duduk di depan penghulu, menunduk dengan khidmat, membuatnya terlihat sangat pantas, seperti lelaki sejati yang siap memikul tanggung jawab.
Yunita duduk bersimpuh tak jauh dari sana, mengenakan kebaya krem pucat, dengan brokat sederhana yang dijahit tangan oleh tetangganya. Wajahnya bersih tanpa make-up tebal, hanya polesan bedak tipis dan bibir yang sedikit dipulas warna mawar.
Rambutnya disanggul rapi, dihias setangkai bunga melati. Tapi justru dalam kesederhanaannya itu, Yunita terlihat sangat cantik, seolah mewakili semua keindahan yang lahir dari ketulusan dan luka yang sembuh dengan waktu.
Di sisi lain, ayah Yunita, Pak Darta, duduk di kursi roda, mengenakan sarung dan baju koko putih. Tangannya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia beberapa kali menarik napas dalam-dalam, seperti sedang menahan tangis.
Sakit-sakit yang selama ini ia derita tak lebih menyakitkan daripada perasaan melepas anak perempuannya dalam keadaan yang tak ideal.
Tapi hari ini, ia justru merasa sangat bersyukur karena anaknya tak hanya mendapat suami, tetapi juga pendamping yang terlihat sangat tulus.
Ketika penghulu meminta Santa mengucap ijab kabul, suasana berubah menjadi sangat tenang. Bahkan dedaunan pun seperti berhenti berdesir. Santa menarik napas, lalu dengan suara mantap dan tegas, ia melafalkan akad.
“Saya terima nikahnya Yunita binti Darta, dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram, tunai.”
Beberapa detik setelah itu, hening.
Lalu secara serempak, para saksi dan hadirin berkata pelan namun pasti:
“Sah.”
Dan seperti tersengat gelombang haru yang merambat cepat, beberapa orang langsung menunduk, ada yang mengusap air mata.
Yunita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ayahnya menengadah, mengucap syukur dalam hati yang tak pernah selega ini.
Dari arah depan rumah, sebuah mobil berhenti. Mobil milik Bu Ana, ibu kost mereka di Jakarta. Dari dalam, keluar rombongan kecil yang penuh canda dan suara berisik.
Darto menyetir, mengenakan batik yang masih ada bekas lipatan. Rambutnya terlihat seperti baru dikeringkan setengah jam sebelumnya. Tapi wajahnya sumringah, karena ia benar-benar senang Santa menikah.
Di samping Darto duduk Bu Ana, mengenakan kerudung warna mint, sambil menenteng besek isi oleh-oleh dari Jakarta.
Di bangku tengah, duduk Susan, dengan kebaya biru langit yang pas di tubuh montoknya, dan di sampingnya Rido, suaminya, mengenakan peci hitam.
Tirta duduk di sisi Susan, mengenakan batik merah marun. Dan di bangku belakang, Didit dan Puka sibuk bercanda soal makanan dan pernikahan sambil sesekali mengolok-olok Darto karena bajunya kebesaran.
Saat mereka menyalami pengantin, senyum mengembang di bibir mereka. Mereka mengucapkan selamat, menepuk bahu Santa. Tapi di tengah keramaian itu, Santa menangkap sesuatu yang ganjil.
Beberapa kali lirikan... tatapan yang terlalu lama... terjadi di antara Susan dan Tirta.
Ketika Rido menoleh, Susan cepat-cepat menunduk. Tirta pun memalingkan wajah. Tapi Santa, yang selama ini selalu membaca gerak tubuh orang dari pengalaman hidup di perantauan, tidak bisa dibohongi. Ia melihat. Ia merekam. Dan ia menandainya dalam diam.
Hari ini adalah hari pernikahan, meski berkali-kali Yunita mengatakan hanya sandiwara untuk menyelamatkan kehormatan anaknya kelak. Tapi bagi Santa, pernikahan adalah tetap pernikahan, suatu bangunan yang didirikan diatas adalah janji suci.
Hari itu ditutup dengan senyuman. Karena hari ini, Santa dan Yunita resmi menjadi suami istri. Tak mewah. Tapi sah.
Pada malam harinya, malam pertama yang ditunggu-tunggu oleh sepasang pengantin baru. Tapi malam hari itu sunyi. Angin berembus pelan dari celah jendela kayu, membawa aroma tanah dan bunga kenanga yang dipasang ibunya Yunita siang tadi.
Lampu kamar menyebarkan cahaya kuning yang temaram. Kelambu putih yang tergantung di atas ranjang berkibar pelan, seperti tirai tipis antara kenyataan dan harapan.
Santa membuka pintu kamar perlahan. Derit kecil engsel pintu terdengar di antara keheningan. Kamar pengantin itu tidak luas, hanya ada sebuah ranjang kayu dengan sprei sederhana, meja kecil dengan cermin tua, dan lemari rotan di pojok. Tapi suasananya terasa hangat. Sakral. Terasa seperti ruang suci tempat sepasang manusia belajar menjadi satu.
Yunita duduk membelakangi pintu, di pojok ranjang, tubuhnya terbungkus selimut hingga bahu. Hanya punggungnya yang terlihat, sedikit membungkuk.
Cahaya lampu menyorot sebagian wajahnya dari samping, memperlihatkan garis dagu yang tegang, dan mata yang menatap kosong ke lantai.
Begitu mendengar derap langkah Santa, Yunita membuka suara, pelan tapi mantap, tanpa menoleh.
“Masih ingat, kan... perjanjian kita kan, A?”
Santa menarik napas perlahan. Ia berjalan ke tepi ranjang, melepas kopiah putih dari kepalanya dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan, tapi sarat ketulusan.
“Saya ingat, Neng... Saya nggak akan menyentuhmu. Saya tahu batasnya. Saya masuk kamar ini bukan untuk itu...”
Ia duduk sebentar di pinggir ranjang, tangannya menyentuh lututnya sendiri, lalu menatap lantai.
“Tapi kalau kita tidur terpisah… bisa jadi bahan omongan. Kita tahu, tetangga di kampung ini lebih cepat dari status medsos kalau soal gosip...”
Yunita akhirnya menoleh. Tatapan matanya redup, seperti hujan yang tertahan di langit sore. Ia menatap Santa sejenak, seolah mencoba membaca apakah laki-laki di depannya benar-benar seperti yang terlihat: tulus. Lurus. Tidak punya agenda tersembunyi.
“Lalu... Aa pingin tidur di mana?”
Santa berdiri. Ia tidak menjawab langsung, tapi malah berjalan ke arah kaki ranjang, lalu menarik ujung selimut yang membungkus Yunita. Tentu membuat Yunita terkejut. “A… jangan…”
Tapi Santa membentangkan selimut itu di lantai, lalu merebahkan tubuhnya di atasnya, hanya beralas karpet tipis. Ia meletakkan tangan di belakang kepala dan menatap langit-langit bambu yang gelap.
“Di sini cukup buat saya. Saya nggak akan ganggu Neng. Selamat tidur, istriku…”
Ada jeda panjang. Detak jam tua di ruang depan terdengar pelan. Di luar, suara jangkrik bersahutan. Dan di dalam kamar itu, diam menjadi bahasa paling jujur.
Yunita tak bisa menahan air matanya. Ia menghapusnya cepat-cepat. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Tak disangka, ada lelaki seperti ini yang mau menemaninya di titik terendah hidupnya. Lelaki yang tidak meminta apa-apa, tidak menuntut, tidak memaksa. Hanya hadir, dan membuatnya merasa aman.
Beberapa menit berlalu. Lalu Yunita bangkit perlahan dari kasur, dan menepuk pundak Santa.
“A, naik ke kasur. Nggak enak kalau ada yang lihat kamu tidur di bawah. Nanti orang bilang aku saya jahat…”
Santa membuka mata perlahan. Ia tersenyum, meski lelah masih menggantung di wajahnya. Ia tidak membantah.
Santa bangkit, menepuk-nepuk pakaian yang menempel di karpet, lalu naik ke ranjang dan merebahkan diri di pinggir, membelakangi Yunita. Tidak satu pun jari tangannya berusaha menjangkau wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
Yunita diam. Hatinya penuh gejolak yang sulit dijelaskan.
Tak lama kemudian, Yunita bangun, lalu keluar kamar sebentar. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa nampan kecil berisi sepiring nasi goreng hangat dan dua cangkir kopi hitam dalam gelas bening.
“Ini... saya masak tadi di dapur belakang. Aa pasti lapar, kan?”
Santa bangun dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya menerima piring dan gelas itu seolah menerima sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan.
Tak ada kata romantis. Tidak ada rayuan atau janji-janji cinta manis. Hanya suapan pelan dan tegukan kopi hangat, dalam diam yang penuh rasa saling percaya.