POV Author Pagi-pagi sekali, Davin mengajak Zara ke luar hotel. Untukapa lagi, kalau bukan mengajaknya kelokasi proyek. Sesuai janji sebelumnya. Zara tampak anggun sekali dengan celana hitam dengan atasankemeja peach. Seperti biasanya, ia mengenakan pasmina hitam untuk melengkapipenampilan pagi ini. “Kita sarapan dulu,” ucap Davin sambil menunjuk sebuah kafedalam perjalanan mereka. Tak banyak yang mereka pesan. Hanya dua porsi menu yangsama, lalu teh panas sebagai sandingannya. Selama menikmati sarapan, ponsel Davin berdering tiadahenti. Avril masih sajasibuk meneleponnya, padahal ia sudah mengirim pesan untuk wanita itu, bahwa ia sedang dalam perjalanan. Zara merasa terganggu. Lalu, memerintahkan Davinmengangkat panggilan itu agar Avril berhenti mengubungi lagi. Tetap saja Davinme

