Ke Puncak

1011 Words
POV Davin *** “Aku akan mengabulkan keinginanmu untuk memiliki anak. Tapidengan satu syarat.” “Apa itu?” “Aku tidak ingin melihat Avril di kantor ini.” Zara menuntut lebih, itu sudah pasti. Aku yakin, tak ada yang tulus dari semua yang akan dia lakukan untukku. Bahkan menginginkan seorang anak saja harus ditukar dengan sebuah perjanjian. Dia pikir, dia siapa sehingga bisa seenaknya membuat orang lain pergi dari kantorku? Aku menatapnya heran dengan tajam. Terlalu berlebihan permintaannya itu. Bagiku, Avri adalah aset perusahaan ini. Tanpanya, tidak hanya aku yang akan mengalami kesulitan,tetapi juga beberapa orang yang menggantungkan kecerdasan otaknya. Avril adalah salah satu IT developer terbaik di perusahaan milik oma ini. Tentu saja aku tidak bisa memutuskannya dengan sepihak. “Kamu keberatan, Vin?” Pertanyaannya membuatku terdesak. Dia terlihat memaksa sekali. Apakah dia tahu kalau aku masih mencintai Avril? Sepertinya, ia sudah cemburu sehingga ingin menyingkirkan Avril dari kehidupanku. “Iya,” jawabku jujur. “Oh, rupanya dia lebih berharga dari calon bayi yang akanaku kandung nanti. Kalau begitu, perjanjian kita batalkan.” “Kita akan tetap berangkat ke puncak. Soalperjanjian itu, akan aku pikirkan nanti.” “Baru mau kamu pikirkan?” “Aku butuh waktu untuk memutuskannya, Zara? Lagian, adamasalah apa kamu dengan Avril? Kamu kelihatan tak menyukainya.” “Gak ada alasan,” jawabnya. Bullshit! Dia pasti berbohong. Tak mungkin membenci jika takada alasan. “Kamu cemburu?” tebakanku pasti tak meleset. Aku sering kalimenemukan Zara diam-diam mencuri pandang. Mustahil jika dia tidak menyukaiku,apalagi setelah beratus-ratus hari tinggal satu atap. “Aku? Cemburu? Atas dasar apa kamu bilang begitu?’ Dia melengos, melempar pandangan setelah berucap. Oh, adayang merasa tersentil rupanya. Ya sudahlah, apapun alasannya, terpenting keinginankuuntuk mendapatkan anak darinya akan tercapai. “Nebak aja,” jawabku pasrah. “Terserah, deh! Aku Cuma mengajukan syarat tadi, gakberlebihan kayaknya.” “Iya, aku pikirkan.” * Aku mengajak Zara kembali menemui oma. Sepertinya, sudah lamaaku dan Zara meninggalkannya. Khawatir juga, karena takut oma akan mencari Zara. Sesampainya di depan ruanganku, Zara meminta izin ketoilet. Sedangkan aku menemui oma yang sedang mengobrol dengan om Agung. “Mana Zara?” tanya oma. Sudah kuduga, oma pasti menanyakankeberadaan Zara. Dia 'kan sudah seperti cucu emasnya oma, bukan lagi aku yangcucu kandungnya. “Lagi ke toilet,” jawabku. Sembari menunggu Zara, kami mengobrol santai membicarakanapa saja. Om Agung banyak bercerita tentang perkembangan perusahaan ini. Aku ikut sesekali menimpali ucapan om Agung dan oma. Untuk urusan kantor, Oma akan lebih percaya kepada om Agung.Menurutku wajar saja, karena beliau lebih berpengalaman dan lebih paham selukbeluk tentang perusahaan yang pernah dipegang almarhum papa. Om Agung sudahada di sini sejak papa masih hidup. “Vin, Zara kok lama. Susul, gih!” perintah oma. Aku jugaberpikir demikian. Sudah lima belas menitan Zara izin ke toilet. Aku bergerak ke luar ruangan. Menuju toilet yang terletak diujung ruangan. Apa saja yang dikerjakan Zara di toilet? Masa sampai selamaini. Baru saja memasuki areatoilet, tampak sosok Zara ke luar dengan mengusap pipinya. Di belakangnya, Avril baru saja ke luar bersama dengan seorang karyawan. Zara terkejut melihat kedatanganku. Begitu juga denganAvril. Aku mencurigai sesuatu yang mungkin terjadi antara mereka. Apakah Avril danZara terlibat pertengkaran? Terlihat dari pipi Zara yang memerah. “Oma ngajakin pulang. Lama amat di toilet?” tanyaku. Zara takmenjawab. Ia lebih memilih beranjak mendahuluiku. Fix. Kecurigaanku benar. Telah terjadi sesuatu antara Avrildengan Zara. Pun terlihat dari pipi Zara yang basah. Berarti, mereka terlibatpertengkaran. “Zara!” panggilku. Dia berhenti melangkah, lalu menoleh. “Kenapa?” tanyanya ambigu. “Kok kenapa? Mestinya aku yang tanya kenapa? Kenapa pipimubasah?” “Namanya juga dari toilet. Ya wajarlah kalau basah. Kecualidari pantai, baru penuh dengan pasir.” “Astaga! Jawabanmu bikin aku mual,” keluhku. “Muntah aja sekalian,” jawabnya bernada ketus. “Heh, ada apa, sih?” tanyaku lagi dengan penasaran. “Enggak ada apa-apa, Davin. Aku capek aja, mau cepet pulangterus istirahat buat perjalanan besok,” ucapnya sambil ngeloyor. Ini anak,lama-lama tak ada sopan-sopannya sama suami. “Zara!” panggilku sambil berlari kecil mengejarnya. Beberapakaryawan memergoki kami yang mirip adegan kejar-kejaran di film Korea. “Zara!” “Ya ampun, Davin. Ada apa, sih?” Zara terlihat sangat kesal. “Ada apa sebenarnya?” “Enggak usah nanya-nanya lagi deh. Sekarang, aku cabut syaratyang tadi aku tawarkan.” “Lah, terus? Gak jadi ke puncak, dong?” Zara melotot dengan pandangan geregetan. “Jadi ke puncak, Davin. Apa kamu segitu kebeletnya, hah?” Ya ampun, mulutnya lemes banget. Mana suaranya kencang lagi. Ada oma dan om Agung yang baru saja ke luar dari ruanganku. Pun ada beberapa karyawan yang sedang melewati kami, kemudian menutup bibir dan berbisik-bisik. Merekapasti mengira yang tidak-tidak. Dasar Zara! ** Keesokan paginya, kami benar-benar menyiapkan keberangkatanke puncak. Zara menyiapkan pakaian kami dan aku sibuk mengingatkan Tarjountuk kesiapan mobil. Sejak subuh tadi oma sudah sibuk menelepon, dan bertanyaapakah kami jadi berangkat atau tidak. Dalam hal ini, sepertinya oma lebih exciteddengan liburan kami. Setelah sarapan, Tarjo melajukan mobil. Dia akanmenemani liburan kami selama waktu yang kami butuhkan. Mungkin dua hari, atautiga hari, bahkan bisa jadi satu minggu. Tergantung situasi dan suasana hatisaja. Lagipula, aku dan Zara tidak pernah berlibur seperti ini. “Apa di sana nanti ada pembantu?” tanya Zara tiba-tiba. “Gak ada,” jawabku. Dia mengernyit. Mungkin mau protes. “Kok gak ada?” Benar kan? Zara pasti protes. “Untuk mempermudah urusan kita,” jawabku. Dia kembalimengernyit. “Masih bingung juga? Masih gak ngerti?” rutukku kesal. “Aku benar-benar gak ngerti," ucapnya. Aku mendesah, ikutan kesal juga pada akhirnya. “Zara, Sayang. Aku tau, kamu punya banyak alasan dan banyakcara untuk menolakku. Anggap saja, tanpa kehadiran orang lain, hanya kitaberdua saja di vila itu, maka akan mempermudah kita untuk ... untuk ... ya, know-lah!” Aku menjadi bingung sendiri. Terlihat Tarjo menahan tawa dibalik stir kemudi. Zara mendesah panjang. Dia juga kesal, tapi tak beraniprotes. “Tarjo saja paham, masa kamu gak paham-paham juga.” Zara tak membalas ucapanku, mungkin saja mulai paham. Semoga saja dia tak membuat ulah di sana sampai tujuan kami tercapai. Memiliki anak. Rasanya sudah tak sabar. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD