Penawaran Zara

1015 Words
POV Zara Annisa ** “Zara kepengen kita pergi liburan, Oma. Katanya supaya kita cepat memiliki anak.” What! Davin benar-benar pintar membuat jebakan. Aku melotot saat itu juga. Memberikan isyarat keberatanku atas usulannya. Gila, benar-benar tak waras otaknya. Berkali-kali aku menggeliat, tetapi hanya berani di dalam hati. “Wah, setuju-setuju. Nanti oma atur tempatnya,” ucap oma sangat bersemangat. Oma pasti mendukung. “Davin sudah punya tempat sendiri, Oma.” Tuh, kan! Dia pasti sudah merencanakan jebakan ini sebelumnya. Dia pasti akan menjebakku masuk ke dalam permainan. “Oma 'kan mau ada acara di rumah. Nanti siapa yang akan bantuin kalau Zara pergi.” Aku beralasan. Mudah-mudahan Oma menyelamatkan aku kali ini. “Tenang. Oma punya banyak ajudan,” balas oma. “Nah, cocok. Besok kami berangkat ke puncak.” Hah, besok? Dasar, Davin. “Wah, cocok ini. Kalau begitu, kamu, Davin, atur keberangkatan kalian. Oma mendukung rencana kalian." Kok jadi begini, sih! “Siap, Oma,” jawab Davin tegas. Terlihat sekali rautbahagianya. Dia pasti merasa menang. Tak akan kubiarkan rencananya berjalanmulus. Aku menunjukkan tinju untuk mengancam Davin. Rupanya, itu tak berpengaruh. Dia membalas dengan senyum penuh kemenangan. Davin mengunci rencana dengan mengajak oma mengalihkan pembicaraan. Terlihat sekali bersemangat dari caranya berbincang. “Kamu gantian ajak keliling Zara. Biar tau keadaan kantorkamu.” Tiba-tiba oma berucap di tengah-tengah makan siangnya. “Siap, Oma,” jawab Davin dengan rona bahagia. Sepertinya, dia benar-benar yakin jika rencananya akan berjalan mulus. “Ayo, kita keliling-keliling sebelum pergi liburan,” ucapnya bernada ejekan. Aku membalasnya dengan senyuman sinis. Dasar, Davin cab*l! * Aku mengikuti Davin dari belakang. Ia menunjukkan beberapa tempat sambil menjelaskan fungsi setiap ruangan. Dia juga mengenalkan aku ke beberapa karyawan yang kebetulan kami jumpai. Rata-rata dari mereka adalah karyawan wanita yang penampilannya sangat modis dan seksi. Jadi, seperti ini lingkungan tempat kerja suamiku. Pantas saja, Avril terang-terangan mengolok-olokku. Rupanya, penampilanku saat bertemu dengan Avril saat itu sangat jauh disebut layak sebagai istri seorang Davin, cucu pemilik perusahaan ini. Terakhir, Davin mengiringi langkahku menuju bagian belakang gedung ini. Di sana terlihat sebuah taman kecil dengan beberapa bunga yang sengaja di dusun melingkar di bagian tengah taman. Sebuah meja dan sebuah kursi panjang melengkapi taman mini ini. Sekilas mirip seperti kafe outdoor. “Ini tempat apa?” tanyaku. Davin tak lekas menjawab. Iamalah maju untuk menempati kursi di sana. “Tempat santaiku,” jawabnya. “Bersama Avril?” tebakku Davin langsung menatap tajam ketika kusebut nama itu. Ia terlihat seperti berkeberatan dengan ucapanku. “Apa kamu tak bisa berkata santun sedikit? Pikiranmu selalu negatif saja tentang aku.” Dia tersinggung. Terlihat dari caranya menghela nafas kesal. “Sorry,” balasku. Aku mendekat untuk menjajari duduknya di kursi panjang itu. Selama Davin menjelaskan setiap ruangan tadi, dia memang terlihat lebih santai dan lebih baik dari biasanya. Davin bergeming hingga beberapa saat. Entah karena tersinggung dengan ucapanku tadi, atau karena sedang mencari bahan obrolan. Kami memang tidak pernah terlibat obrolan serius, apalagi bercanda seperti kebanyakan pasangan suami-istri. Peran yang kami jalani hanya sebatas membuat Oma senang, penuh kepura-puraan. Sebab karena itulah, sampai sekarang aku sulit mengenali diri pribadi Davin yang sesungguhnya. Aku hanya mengetahui beberapa hal kecil tentangnya, seperti dia yang tidak menyukai daun bawang, seledri dan beberapa sayuran, atau Davin yang punya kebiasaan mengigau ketika sedang demam. Selebihnya, semua yang kami jalani adalah kepura-puraan belaka. “Zara, soal anak aku benar-benar menginginkannya.” Davin menoleh tepat saat aku memperhatikan dia. Tatapan kami bertemu di satu titik. Aku sulit sekali memahami dan menyelami pribadi Davin. Apakah jika aku terbuka, dia akan mudah aku pahami? “Aku harap, kamu mempertimbangkannya baik-baik,” lanjutnya. Seandainya ada seorang anak yang hadir di antara kami, mungkinkah dia akan bersikap lebih baik padaku? Tapi mana mungkin? Bukankah cinta mungkin datang secepat itu? “Kamu gak berusaha membantah? Tumben,” ucapnya. Entahlah, aku seperti kehilangan kata-kata jika Davin menuntut anak dariku. “Berarti setuju ‘kan?” Dia terus mengulang pertanyaan. Sementara memori di otakku terasa penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. “Aku siapkan keperluan kita ke puncak. Aku juga sudah menghubungi penjaga villa yang akan kita tempati.” “Kenapa mesti jauh-jauh ke puncak?” Tiba-tiba bibir ini tidak bisa menahan pertanyaanku yang malah terdengar konyol. Davin mengernyit. “Supaya kamu kesulitan melarikan diri.” Sialan! Apa aku terlihat seperti tawanan? “Kamu suka beralasan kalau aku menuntut hak. Jadi-“ “Davin!” Sebuah panggilan memotong ucapan Davin. Kami sama-sama menoleh. Seorang gadis sangat cantik datang ke arah aku dan Davin. “Avril!” kejut Davin. Avril datang dengan langkah santai mendekati kami. Di semakin mendekat. Aku membuang pandangan dengan tidak ingin menatapnya. Sejujurnya, aku merasa terganggu dengan Kedatangannya. “Kamu!” Avril terkejut melihat kehadiranku. Dia menelisik dengan pandangan dari atas hingga ke bawah. Kenapa sih, dia? “Hai, Avril. Apa kabar?” tanyaku berbasa-basi. Dia tak menjawab. Mungkin syok dengan kehadiranku di sini. “Baik. Kalian ngapain di sini?” tanyanya dengan sorot tak nyaman. Andai aku dan Davin sudah berbaikan, ingin rasanya aku memamerkan kemesraan di depan Avril. Aku istri Davin, tetapi Avril seakan-akan menguasai Davin. “Aku menunjukkan beberapa tempat. Mungkin Zara nanti bakal sering datang kemari. Maksudnya, biar gak nyasar ketika lain kali datang.” “Oh, oke,” balas Avril seperti mencoba memahami. “Bisa tinggalkan kami berdua,” pintaku. Avril terlonjak dengan permintaanku. Raut wajah terlihat kesal sekali. Begitu jugadengan Davin. Sepertinya, aku butuh berbicara hal pribadi dengan Davin. Untuk itu, kehadiran Avril sangatlah menganggu. sebelumnya, aku tidak pernah bersikap begini pada mereka. Memilih abai meskipun mereka terlihat sangat akrab di hafalanku. Entah kenapa kali ini aku ingin sekali memberikannya peringatan pada Avril, bahwa lelaki yang sering bersamanya adalah suamiku. Davin memberikan isyarat agar Avril meninggalkan tempat ini. “O-oke. Aku pergi, selamat bersenang-senang,” ucapnya sambil berlalu. Aku tau, ucapannya hanya basa-basi saja. Davin menatapmu intens, seperti ingin meminta penjelasan. “Aku akan mengabulkan keinginanmu untuk memiliki anak. Tapi dengan satu syarat.” Davin antusias dengan perkataanku. Dia duduk mengubah duduknya sedikit condong ke arahku. Lalu tatapannya terfokus menatapku. “Apa itu?” tanyanya. “Aku tidak ingin melihat Avril bekerja di sini.” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD