POV Davin
***
Kalau saja Zara bukan istri pilihan oma, mungkin aku sudah meninggalkandia sejak dulu.
Pagi ini, aku ke kantor tanpa sarapan, tanpa berpamitandengan Zara dan tanpa percakapan apa pun yang mengawali pagi. Rasa kesal yangsudah mencapai ubun-ubun membuat mulut ini enggan berbicara. Semalam, aku juga sengajatidur di ruang kerja. Untuk apa satu ranjang, sementara keinginanku takmendapat sambutan darinya?
Sesampainya di kantor, aku mendapatkan sambutan hangat dariAvril. Dia membawakan secangkir capuccino dan memberikan bekalnya untukku.
"Kenapa manyun begitu?" tanya Avri sambilmenyeruput kopinya.
"Enggak pa-pa," jawabku. Seburuk apa pun perangaiZara, aku tidak pernah membicarakannya di hadapan Avril. Hanya saja, akuseringkali keceplosan dengan mengatakan kalau aku tak bahagia.
"Sudah datang terlambat, pakai acara menyun lagi. Adamasalah dengan Zara?" Pancingnya. Aku menggeleng.
"Gak ada."
Avril memang sangat perduli. Terlebih antara aku dengannyaterjalin hubungan yang rumit. Aku mencintainya, begitu juga dengannya. Hubungankami sempat kandas oleh pernikahanku dengan Zara. Tetapi Kemudian, terjalinkembali seiring dengan kedekatan kami di tempat kerja. Kami menjalaninya tanpa ikatan.Entah hubungan semacam apa.
Lagipula, aku tak punya alasan untuk berhenti mencinta Avril.Nyatanya, Avri lebih perhatian dari Zara, lebih mengerti dan lebih ... menarikdalam segala hal.
Hingga sesiang ini, perutku belum juga terisi oleh nasi.Baru saja akan memesan makan siang, Iis datang memberitahu kalau oma akandatang untuk mengajak makan siang.
Suasana hati sedang tak bagus, ditambah kedatangan oma. Sepertinyahari ini akan menjadi hari yang sangat buruk.
Oma pasti akan mengomel tentang Avril, mendadak menjadipenasehat untuk aku dan Zara, kemudian sibuk menuntut adanya anak di antara kami.Semua yang oma katakan terasa menekanku.
Ke mana akumendapatkan kenyamanan? Di rumah pun tak mungkin, apalagi jika harusmengandalkan Zara.
"Pak, oma sudah datang." Iis memberitahukan. Akubergerak untuk menyambut oma. Baru membuka pintu, oma sudah tampak berjalan kearah ruanganku. Tapi ... sebentar, oma datang bersama Zara.
"Ngapain ikut ke sini?" tanyaku setelah berdekatandengannya.
"Heh, oma yang mengajak,” protes oma, seperti keberatandengan pertanyaan yang aku lontarkan untuk Zara.
Oma langsung masuk ke ruanganku. Mengambil duduk di sofa.Zara mengikuti oma. Ia sempat menelisik ke seluruh ruang kerjaku. Maklum, barupertama kali ini dia datang kemari.
Ada yang aneh pada Zara. Penampilannya sedikit berbeda. Dialebih modis dan sedikit lebih cantik. Sepertinya, Zara baru saja merubahpenampilannya. Tapi, bagiku tak ada bedanya. Malah terlihat aneh.
Oma menanyakan perkembangan anak perusahaannya yang kini akutangani. Perihal perkembangan dan semua yang berhubungan langsung denganku.
Aku menjawab sesuai kenyataan. Karena percuma sajaberbohong. Oma lebih percaya dengan anak buahnya yang dikirimkan untukmengawasiku.
Tak berapa lama kemudian, seorang OB datang membawakan paperbag berisi makanan cepat saji yang dipesan oleh oma.
"Zara, kamu temani Davin makan siang. Oma mauberkeliling sebentar."
Aku ternganga. Kenapa jadi Zara?
"Baik, Oma," jawab Zara. Tangannya yang lentiksibuk menyiapkan makanan untukku.
"Davin temani, Oma," ucapku menawarkan diri.
"Enggak usah. Oma mau keliling sama pak Agungsaja."
Lagi-lagi, pak Agung yang selalu mendapat kesempatan. Akumemang tidak pernah dipercayai.
"Sudah siap." Zara menatapku sambil menyodorkansebuah sendok, kemudian menggeser kotak makanan yang sudah terbuka kehadapanku.
Aku menyantap dengan segera, apalagi karena aku sudah laparsekali.
Di satu kesempatan, aku sempat melirik Zara. Timbulkeinginan untuk memulai perbincangan.
"Ngapain ikut kemari?" tanyaku. Dia mengangkatwajah. Tatapan kami bertemu. Aku tak ingin mengalah dengan menunduk lebih dulu.Rupanya dia yang Tidak kuat lam beradu pandang denganku.
"Diajak oma," jawabnya kembali menunduk danmelanjut suapannya.
"Kenapa mau diajak, sementara denganku gak pernahmau?"
Dia kembali mengangkat wajah. Mulutnya penuh dengan makanan membuatnyakesulitan menjawab pertanyaan yang kuajukan. Zara malah terlihat lucu di mataku.
"Memangnya kamu pernah mengajak?"
Skakmat, aku celingukan mencari apa saja untuk mengalihkanperhatian.
"Tolong ambilkan minum," pintaku. Zara menyodorkanbotol air mineral.
Sialan. Pertanyaanku menjadi bumerang. Kenapa sih, dia takbisa berbasa-basi agar aku tidak terpojok?
"Berarti, setelah ini kamu bakal sering kemari?"
"Tergantung oma."
"Maksudnya?"
"Kalau oma yang meminta, kenapa enggak?"
"Oh, jadi kamu bertindak hanya karena permintaanoma?"
Kami mulai berdebat.
"Iyalah. Mau siapa lagi? Menunggumu mengajakku kemarijuga gak akan mungkin."
"Siapa bilang?"
"Buktinya selama ini."
"Itu karena kamu egois."
"Egois kok bilang egois. Gak nyadar."
Haisss, ucapannya itu kenapa tak pernah terdengar enak ditelingaku.
"Kalau kamu bertindak atas permintaan oma, berarti akuperlu meminta pada oma agar kamu menurut padaku."
"Jangan aneh-aneh. Selama ini, aku gak pernah mengadusikap burukmu pada oma."
"Aku juga gak pernah mengadu pada oma, walaupun kamuabai akan nafkah batinku."
"Uhuk-uhuk!" Dia tersedak, berarti mengakuituduhanku. Aku tersenyum sinis melihatnya.
"Apa-apaan, sih! Apa di kepalamu isinya hanya soalselangkangan saja."
Aku hampir tersedak, tapi segera kutahan karena pastinyaakan ditertawakan olehnya.
"Iya. Selama kamu tidak memenuhinya."
Terlanjur basah, sekalian saja mengakui kalau akumenginginkan hak itu. Setidaknya, aku memang butuh anak darinya.
"Aku akan bilang ke oma, kalau kamu tidak pernahmemberikan hakku. Biar sekalian tau, kalau selama ini kita belum memiliki anak itukarena kamu.”
"Jangan macam-macam, Davin!"
"Kamu takut?"
Aku menatapnya tajam. Makanan di hadapan kami sudah terabaikan.
"Oma datang ...."
Kedatangan oma membuyarkan perseteruan di antara kami.
"Hei, ada apa dengan kalian?"
Ternyata oma memergoki ketidakberesan di antara aku danZara.
"Davin!" Panggilan oma membuatku menoleh.Sepertinya, selalu aku yang menjadi tersangka di mata oma. Terlihat daricaranya menatapku seakan-akan menuntut jawaban.
"Tanyakan pada cucu kesayangan oma ini," ucapkusambil meletakkan sendok.
"Ada apa Zara?" Oma berpindah pandang menelisikmenuntut jawaban pada Zara.
"Zara," panggil oma lagi.
"Davin, Oma," jawabnya melemparkan jawaban kepadaku.
"Kalian ini ada apa, sih!"
"Zara kepengen kita pergi liburan, Oma. Katanya supaya kitacepat memiliki anak,” jawabku tegas.
Zara melotot, menunjukkan isyarat memprotes ucapanku. Diapikir aku akan takut.
“Wah, setuju-setuju. Nanti oma atur tempatnya.”
“Davin sudah punya tempat sendiri, Oma,” jawabku sambil menatapnyapenuh kemenangan. Aku yakin, kali ini Zara tidak punya alasan untuk menolak.
“Oma kan mau ada acara di rumah. Nanti siapa yang akan bantuinkalau Zara pergi.” Zara berusaha membuat alasan. Aku jadi ingin tertawa, karena tampak sekaliketakutannya.
“Tenang. Oma punya banyak ajudan,” balas oma.
“Nah, cocok. Besok kami berangkat ke puncak,” ucapku sambil menyodorkanfoto-foto sebuah vila pada oma.
“Wah, cocok ini. Kalau begitu, kamu Davin, atur keberangkatankalian.”
“Siap, Oma!”
Oma terfokus menikmati makan siangnya. Sementara itu, Zara terlihatmengeratkan kepalan tangan yang ditunjukkan kepadaku. Semacam sebuah ancaman karenamembuat keputusan sepihak.
Apa maksudnya? Mau mengancamku, begitu? Hah, lucu sekali ekspresinya. Kita lihat saja nanti. Siapa yang takut siapa di sini.
***