Sebuah sapu tangan sampai seluruhnya basah oleh keringat dan air mata. Zara menelungkupkan wajah ke paha yang sengaja ia tekuk. Rambutnya tergerai mengikuti arah kepalanya yang menunduk. “Aku janji akan segera menjemputmu. Hanya lima tahun. Setelah itu, aku akan mengajakmu pergi dari sini.” Zara menggeleng berulang kali. Tetap menolak kepergian Farhan. “Mas Farhan pasti gak akan pulang,” ucapnya disela-selaisakan. “Pasti pulang. Setelah lima tahun, aku pastimenjemputmu.” Lagi dan lagi, Zara menggeleng. Isakannya kian menjadi, bahkan dadanya sampai terasa sesak. “Jangan pergi ....” “Zara.” “Aku mohon, jangan pergi.” “Hei, aku di sini. Maaf, maaf soal tadi siang. Aku gak akan mengebut lagi.” “Aku takut ....” Zara menangis lagi. “Hei, Sayang. Aku di sini. Maaf, aku janji gak akan m

