13

2136 Words

Amara menarik langkahnya tatkala menangkap gambaran band tenar di negara mereka tengah bernyanyi di atas panggung. Bukan itu yang menarik perhatiannya. Melainkan pada si gitaris kurus, yang tampak berbeda dari sosok sekarang yang jauh lebih sehat. Dilihat dari mana pun, Davion tidak berubah. Garis rahangnya yang habis kini terlihat nampak. Davion benar-benar seperti gambaran pecandu berat yang media beritakan tentangnya dulu. "Oh, astaga." Ana terlonjak. Nyaris tersandung kaki kursi ketika dia melihat Amara yang terpaku, bertopang dagu di atas kubikelnya. Menatap Ana dan pada layar komputer yang membeku. "Selamat siang." "Siang," sapa Amara datar. "Lanjutkan saja, Ana. Ini jam istirahat. Kau bisa bebas lakukan apa pun." Ana menelan ludahnya. Saat Amara melambai, meminta agar gadis it

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD