"Selamat siang!" Amara terpaku di ambang pintu. Saat suara perempuan berkacamata yang menyapa indera pendengarannya. Ketika kafe yang ramai didominasi oleh karyawan kantornya. Selepas Amara melakukan promosi dadakan, kafe ini menjadi laris. Dia tidak ingin menyombongkan diri. Meski sangat yakin bahwa sembilan puluh delapan persen datang untuk si barista tampan yang sekarang menjadi buah bibir. "Oh? Selamat datang pelanggan setia!" Suara Davina yang ramah merebut atensi Amara. Mata gadis itu tanpa sadar berubah, menyipit untuk menatap Davina yang terlihat sehat. "Seperti biasa?" Amara mengangguk tanpa suara. Mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menunggu Davina yang cekatan membuat kopi. "Hari ini kafe sangat ramai. Aku tidak tahu kalau tempat ini mengalami kemajuan setelah aku l

