"Siapa namamu?"
Davion baru saja duduk di kursi lain yang masih tersisa. Saat dia dan Ken pergi ke satu tempat, tempat yang nyaris Davion lupakan karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Davion," balasnya berusaha ramah. Menjabat tangan tim barunya dengan anggukan sopan.
Ken terlihat bebas. Senyum sumringah di wajahnya tidak bisa berbohong. Saat dia memesan minuman dan akan membayar itu nanti, mereka bersorak.
Davion menarik napas panjang sebelum membuangnya perlahan. Menatap pada kumpulan kertas yang tercecer berantakan di atas meja. Seolah-olah tiga meja ini disatukan hanya untuk mereka.
"Ini salah satu contoh desainnya. Mereka mau yang serupa seperti ini," salah satunya menjelaskan pada Davion yang masih tercenung. "Kau punya ide? Karena kami semua tidak bisa membentuk simetris ini sampai serinci mungkin. Sangat sulit."
"Kau punya catatan ukurannya? Sebelum kita memotong garis ini dan ini, kita harus menghitung sisa tanah yang tersisa. Lalu kita bisa membentuk garis dari sisi yang tersisa agar tidak terlalu banyak memakan tempat," jelas Davion pada pria muda di sebelahnya. Meski tampak muda darinya, Davion bisa menangkap kilat perak di jari tengahnya. Pria itu sudah menikah. Dan dia tidak perlu bertanya. Karena mencampuri urusan orang lain bukan hobinya.
Ken mengamati dengan seksama. Davion belum berubah. Meski terkesan dia masuk di jurusan yang salah, pria itu masih saja berbakat seperti masa kuliah dulu. Davion yang sibuk dengan mimpinya, tidak akan pernah lupa darimana dia berasal. Termasuk mengayomi teman-temannya. Dan sayangnya, tidak semua berhati baik sepertinya. Manusia penjilat tidak tahu diri itu akan terus ada sampai kiamat tiba.
Mungkin dari sekian banyak alasan yang membuat Davion menjadi pribadi tertutup adalah ini, karena dia tidak mau lagi terluka dengan masalah yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Davion bukan berasal dari mereka yang beruntung punya kehidupan layak. Tapi dia sama sekali tidak pernah mengeluh walau Ken tahu, Davion punya kesempatan untuk menyalahkan takdir dan keadaan.
"Kau terlihat sangat berbakat. Tuan Kanki akan merasa tersinggung kalau dia melihatmu," salah satunya membuat celetukan dan Davion terdiam, menatap pria itu dengan pandangan sambil lalu.
"Apa kau berkuliah dulu?"
Davion mengangguk tanpa melepaskan tatapannya pada selembar kertas hvs kosong di atas meja. "Ya. Hubungan Internasional."
"Aku merasa kalau kau salah jurusan," sahut yang lain dan Davion hanya mendengus kecil. Tidak lagi membalas.
"Tuan Tamalate, sahabatmu sangat berbakat."
Ken memberi seringai lebar saat dia menepuk bahu Davion dengan tepukan keras. "Benar, kan? Sudahlah. Jangan pedulikan Kanki. Sahabatku juga hebat di bidangnya. Dia ini spesialis untuk urusan satu ini."
"Haha. Yang benar saja!" Semua orang tertawa terkecuali Davion yang masih diam, bertopang dagu setelah mengukur kertas dengan penggaris dan memberi titik kecil dengan pensil.
"Minumannya sudah datang."
Semua orang bersorak. Ketika Ken membayarkan minuman mahal pada setiap orang. Juga pada camilan ringan yang memenuhi meja lain.
"Hanya satu bulan, kan?"
Kepala kuning itu terangguk. "Benar. Hanya satu bulan," dia melirik Davion pias. "Kenapa?"
"Tidak ada. Hanya memastikan," kata Davion singkat. Melirik pada minumannya sendiri dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Berapa usiamu?"
Davion mendongak untuk menatap sepasang manik cokelat yang tampak antusias. "Dua puluh tujuh."
"Wah. Kau seumuran dengan Tuan Tamalate. Aku merasa kalau bos satu itu lebih tua karena dandanannya terlalu formal," ledek salah satunya dan Ken mencibir. Hampir melempar tablet di atas meja ke kepala bawahannya.
"Sudah menikah?"
Davion menggeleng.
Kali ini Ken yang mendesis dingin. "Kau bertanya tentang kehidupan pribadinya? Kalian pikir itu pantas?"
Semua orang terdiam. Tidak biasa mendapat pandangan sinis itu mengarah dari bos mereka yang gemar melucu.
Davion menghela napas. Menatap Ken sebentar lalu pada keempat pria yang duduk di nomor meja sama dengannya. "Tidak apa," ujarnya lamat dan semua orang bernapas lega. Karena sungguh, Davion bicara tanpa ekspresi apa pun selain datar.
"Aku tidak asing dengan wajahnya."
Bahu Davion tanpa sadar menegang. Saat dia melirik pria berkacamata yang sejak tadi sibuk menghitung luas tanah dengan kalkulator.
"Benar. Aku merasa tidak asing. Apa aku pernah melihatmu sebelumnya atau tidak."
Davion mendesah pendek. "Mungkin saja. Aku tinggal di sini. Di Tokyo. Sama seperti kalian."
"Tapi mereka bilang Tokyo sangat luas. Berarti semua itu hanya kebohongan? Dunia itu sempit, aku baru percaya."
Ken menggeleng tak percaya. Ingin tertawa tapi rasanya tidak pantas karena mereka ada di tempat umum. Kedai yang sering menjadi tempat tongkrongan Davion dan dirinya di masa kuliah dulu. Dan Ken yakin, Davion melupakannya. Karena setelah lulus, Davion tidak lagi pernah bermain. Pria itu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Aku sangat yakin. Orang seperti Tuan Davion ini pasti sudah memiliki kekasih."
Davion melirik dalam diam. Sinar matanya berubah ketika dia bertemu tatap dengan mata biru Ken. Saat dia menghela napas, menggeleng dan telah berhasil menyelesaikan satu sketsa. "Belum. Aku belum memiliki kekasih. Dan tolong panggil aku Davion saja. Aku bukan bos kalian."
Semua orang terdiam. Termasuk Ken yang ikut menarik napas panjang. Menggeleng dengan decakan pada anak buahnya. Ketika Davion kembali menunduk, menggambar sesuatu pada kertasnya.
"Jangan bersikap formal padaku. Davion saja cukup," tambahnya sekali lagi tanpa menoleh. Membuat semua orang terpaku. Diam-diam tidak lagi bersuara dan hanya mengangguk.
Tepat saat Davion menghapus garis yang melenceng dari titik, dia mendengar kursi berderit. Dan pada semua orang yang bangun. Davion menoleh, menemukan pria lain yang bergabung ke meja mereka.
"Selamat siang. Maaf kalau aku terlambat."
"Tidak apa," Ken terkesan ramah sekarang. Ketika mereka berjabat tangan, dan tangan itu kemudian berpindah untuk terulur pada Davion yang mematung.
"Lee Rail."
Davion mengangguk singkat. "Davion."
"Hanya Davion?"
"Hanya Davion," jawabnya dan Rail mengangguk dengan senyum tipis.
"Ken memberi kabar hari ini kalau dia sudah menemukan pengganti Tuan Kanki yang harus berobat karena kanker lidah. Jadi aku ingin datang untuk memastikan. Dan ternyata jauh lebih muda," ujar Rail semangat. Raut wajahnya yang keras berbanding terbalik dengan sifat supel pria itu.
Davion hanya diam. Mengamati percakapan di antara keduanya tanpa suara. Saat Rail menatap matanya, dan Davion balas memandangnya datar.
"Aku rasa kita ada di usia yang sama. Benar? Aku dan Ken lahir di tahun yang sama. Bagaimana denganmu?"
Davion membuang napasnya dengan senyum tipis. "Sama denganku."
Seringai Rail melebar.
"Ini menarik. Kita bisa menyatukan isi kepala kita satu sama lain. Senang bekerjasama denganmu, Davion."
Senyum Ken melebar. Saat dia merangkul Davion bersama tawa ledekan Rail yang meluncur.
Davion merasa nyaman diam-diam. Saat dia mengangguk samar dan Rail membalas dengan tatapan ramah tanpa kepalsuan.
***
"Ya Tuhan."
Bola mata seteduh pinus di musim semi itu bergulir. Saat Amara melihat ada perempuan yang kesulitan menata barang belanjaannya karena tercecer di jalan. Dengan segera dia bangun, melingkarkan tali tasnya di bahu dan mendekat. Membantu untuk merapikan barang-barang yang terjatuh karena plastiknya berlubang.
Amara berjongkok. Merapikan sayuran bersama puluhan tomat yang menggelinding. Ketika ada gadis lain yang membantu, membuat wanita paruh baya itu terharu.
"Aku rasa ini tidak akan bertahan lama," ujar Amara pelan. Memeriksa kantung plastik yang kelebihan muatan dengan alis berkerut dalam.
"Aku akan pulang dengan bus. Tidak apa, nak. Terima kasih banyak sudah membantu," balasnya ramah. Meremas tangan Amara yang masih memegang lengannya, agar wanita itu tidak terjatuh karena trotoar yang padat di akhir pekan.
Amara masih belum yakin melepasnya pergi. Ketika tangannya terulur ke arah jalan, memberhentikan taksi yang kosong untuk menepi. Membuat wanita itu terkejut.
"Nak?"
"Tidak apa. Pulanglah dengan taksi," ujarnya ramah. Membukakan pintu dan membantu memasukkan kantung plastik itu ke dalam mobil.
Salura menutup pintu penumpang dengan dorongan keras. Ketika dia mengetuk jendela sang supir. Memberikan tiga lembar uang dengan nominal besar untuknya. "Tolong antar ibu ini pulang. Itu untuk ongkos taksinya."
"Terima kasih banyak," suara dari balik kursi penumpang itu menyapa. Amara mengangguk dengan senyum. Saat bergerak mundur, membiarkan taksi putih itu pergi bersama pengguna jalan lain.
Amara menghela napas panjang. Menatap datar pada padatnya jalanan dan trotoar di akhir pekan sebelum dia menyeka pelipisnya. Merapikan ikatan rambut panjangnya dan memutar badan, menemukan bangku halte itu tidak lagi sepi.
Sepasang manik pekat itu balas menatap matanya datar. Saat pria itu mendesah panjang, membuang muka dengan raut acuh. Bersikap seolah-olah dia tidak melihat Amara ada.
Amara memutar mata. Berjalan mendekati bangku halte karena dia duduk untuk menunggu bis umum lewat.
Orang-orang berlalu begitu saja. Seperti angin yang berhembus di siang hari. Dan mereka beruntung karena sinar matahari tidak seterik biasanya. Berkat awan mendung yang kerap kali melintas, menghalangi pandangan matahari untuk menatap para makhluk di bumi.
Amara tidak lagi peduli saat dia ikut duduk. Menyilangkan kaki dan menyalakan ponselnya. Mencari lagu yang bagus dalam daftar, lalu memutarnya dalam volume rendah.
Samar-samar Amara bisa mendengar suara pria itu berbisik lirih padanya. "Kemana mobilmu?"
"Hm?"
Gadis itu mematikan lagu dalam ponsel dan Davion sempat melirik judul yang terlintas di layar pada kilasan kilat.
"Kau tidak membawa mobil?"
Amara menggeleng dengan raut bingung. "Aku terbiasa berjalan-jalan di akhir pekan."
"Dengan?"
"Transportasi umum," balasnya.
Davion menautkan alisnya ketika mereka bertatapan lalu menarik napas panjang. "Kau terbiasa memakai transportasi publik?"
"Aku menikmatinya setiap akhir pekan," akunya jujur. "Minggu kemarin aku menikmati kereta cepat. Rasanya tidak buruk. Aku juga mencoba kereta antar kota."
"Berlibur?"
Amara menggeleng. "Hanya untuk menikmati sensasinya. Membeli tiket dan duduk. Melihat pemandangan lalu turun untuk membeli minum dan kembali."
Davion memandangnya dengan mimik tak percaya. Hanya beberapa detik berlalu sebelum raut itu berubah datar.
"Terdengar aneh?"
Kepala itu menggeleng. Davion mengalihkan perhatiannya pada sekumpulan orang yang siap menyeberang.
Ketika Amara ikut mengedarkan pandangannya pada sekitar. Menikmati beberapa orang yang berlalu-lalang. Ada yang sendiri, ada yang bersama pasangan dan anak mereka. Pemandangan ini cukup mahal untuk ia lewatkan kala jam sibuk melanda.
"Kau tinggal di dekat sini?"
Davion menggeleng tanpa menoleh. Matanya menyipit ketika melihat barisan mobil yang berhenti karena lampu merah.
"Rumahmu ada di sekitar kafe?"
Davion kembali menggeleng. Dan Amara kembali diam. Memainkan kakinya yang terjulur bebas bersama sepatu keds putih yang melindungi kedua kakinya.
"Kau?"
"Apa?"
"Kau tinggal di mana?"
Amara menatapnya dengan alis mengernyit dalam. "Di salah satu perumahan. Setengah jam dari sini."
Davion tidak lagi bertanya. Saat dia melempar wajahnya untuk memandang pada barisan lain yang masih menunggu sampai lampu berubah merah.
Bis yang mereka tunggu datang. Beberapa orang turun, dan beberapa orang lagi naik dan mengantri untuk mendapat giliran.
Saat Davion bangun, dan Amara masih terpaku. Memandang isi bis yang ramai. Berpikir apakah dia mendapatkan tempat duduk atau tidak. Saat Davion berlalu, dan Amara sontak tersentak. Ikut bangun untuk masuk ke dalam bis.
Amara memberikan uang pas pada kotak yang telah disediakan. Ketika pintu bis tertutup rapat. Dan dia harus berpegangan pada sisi tiang kursi sebagai penopang karena bis mulai melaju.
Saat Amara menoleh, dia melihat pria itu duduk di pinggir dekat pintu belakang yang terkunci rapat. Amara menipiskan bibir, membuang mukanya ke arah lain dan tetap berpegangan. Hanya dia satu-satunya yang berdiri di saat semua penumpang mendapatkan tempat duduk.
Davion menghela napas. Memicing menatap sekitarnya sebelum dia bangun, menatap pada gadis yang masih berdiri dan memandang lurus pada jendela depan yang lebar dan besar.
Davion mengusap lengannya sendiri dengan canggung. Ketika dia bangun, mendekati Amara yang masih memunggunginya. Menarik lengannya pelan dan membuat gadis itu tersentak. Davion tidak bersuara, melainkan hanya mengendik tempat kosong yang semula ia tempati untuknya. Untuk Amara.
Amara duduk dengan perasaan bingung. Ketika dia mengangguk pada perempuan paruh baya di sebelahnya. Yang duduk di dekat jendela. Dan saat dia menoleh, menemukan Davion yang masih berdiri di sebelahnya. Berpegangan pada tiang kursi.
Pria itu memakai topi hitam untuk menutupi rambut dan separuh wajahnya. Saat dia mendongak, menemukan pria itu berdiri dengan tiang kursi sebagai sandaran dan tengah menatap telapak tangannya sendiri. Menyentuhnya dengan usapan ringan.
Amara menarik napas, membuangnya perlahan ketika dia kembali menoleh dan mendapati pria itu juga menatapnya tanpa ekspresi.
"Terima kasih," bisiknya pelan.
Davion hanya mengangguk. Singkat sebagai jawaban dan Amara tidak lagi bersuara. Dia memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela. Menikmati jalan raya Tokyo yang padat di akhir pekan.
Sampai pada halte kelima dan Davion menekan bel, meminta agar supir berhenti di halte berikutnya. Amara mengangkat alis, menemukan pria itu merapatkan ujung topinya sebelum turun.
Bis benar-benar berhenti. Dan Davion tidak sendiri. Ada dua penumpang lain yang ikut turun. Ketika Amara menatap ke luar, melihat sosok itu berdiri di depan pintu. Setelah semuanya turun dan pintu bergerak untuk menutup, Amara merasa kedua kakinya bergerak bangun. Menekan bel terlalu dalam dan sang supir menarik rem cukup keras. Membuat Amara harus membungkuk pada penumpang dan pada supir muda yang mendelik dari spion ke arahnya.
Pintu terbuka lebar. Amara melompat turun dengan segera. Menatap bis bercat biru langit itu sebentar sebelum berpaling. Menatap pada kekosongan yang sempat Davion isi sebelumnya.
Langkahnya terus maju. Sampai Amara berhenti di bibir gang yang menunjukkan ada kehidupan lain dari hingar-bingar kota yang padat dan mewah. Rumah penduduk yang sempit dan terlihat bersih walau padat.
Amara berjalan masuk dengan pandangan mengawasi. Ketika langkahnya semakin masuk, dan ekspresi kerasnya semakin jelas terlihat. Begitu pula remasan pada tali tasnya mengencang.
Langkahnya baru benar-benar berhenti kala matanya melihat sosok yang baru saja keluar dari pagar tua untuk membuang sampah. Amara termangu, menatap pemandangan fisik rumah kecil itu dari depan dan terdiam hingga bermenit-menit berlalu.
Apakah gubuk ini pantas disebut rumah?
Amara tidak mengerti apakah dia menyuarakan isi hatinya terlalu keras atau ini hanya perasaannya saja. Karena dia merasa tatapan tajam Davion kini mengarah padanya. Pada tubuhnya yang masih membeku entah untuk alasan apa.