8

1290 Words
Remasan tangannya mengerat. Amara memindai seluruh ruangan. Saat atensinya terpaku pada dapur yang menyatu bersama ruang makan. Pintu kayu kamar mandi. Amara tidak akan berpikir tentang bathub atau pancuran air. Karena kamar mandi itu empat kali lipat lebih kecil dari kamar mandi kamarnya. Kemudian pada ruang tamu yang disulap menjadi ruang tengah. Pada lima anak tangga dan terdapat pintu kecil di sana. Bisakah Amara menebak kalau itu adalah kamar? Gambaran rumah seorang gitaris terkenal yang kini jatuh benar-benar menyedihkan. Objek gitar usang yang menarik perhatian Amara tidak bisa membuat perasaannya lekas membaik. Sesal itu kini menggunung, sebentar lagi memuntahkan laharnya. "Sudah selesai memenuhi rasa penasaranmu?" Bibirnya mengatup rapat. Jelas sekali bahwa Davion tidak menyukai ide tentang dia yang diam-diam mengikuti dan berakhir di sini. Datang sebagai tamu yang tidak diundang. "Aku—," Davion bangun dari sofa tuanya. Bersamaan dengan telapak tangan Amara yang mengusap tekstur kasar sofa usang ini dalam diam. Lima menit dan Davion kembali dengan dua cangkir cantik berwarna putih s**u. Ada asap yang mengepul. Dan ketika cangkir itu mendarat, Amara bisa melihat cairan cokelat pekat yang membayang matanya. "Tidak ada kopi," ujarnya pelan. Menatap Amara yang masih menunduk mengamati permukaan gelas. "Hanya ada teh." "Tidak apa. Terima kasih." Davion menarik napas. Mencengkram lengan cangkirnya dengan gelengan samar. Saat aroma teh yang pekat bercampur dengan aroma parfum gadis itu, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Amara menghela napas. Mendengar derit pada sofa tua. Saat Davion duduk di depannya, ikut menunduk dalam. "Kau tinggal sendiri?" "Ya." Amara hanya mengangguk. "Hanya ini yang tersisa." Alis itu terangkat satu. "Dari sisa tabunganku selama ini. Aku hanya bisa membeli rumah ini." Amara menatap sekitar dengan ekspresi datar. "Aku rasa sebelum rumah ini menjadi rumah sebenarnya, ini hanya gudang biasa." Davion menatapnya dengan pias. Selintas Amara bisa melihat kesiap yang jelas. Namun pria itu berhasil mengontrol ekspresinya dengan baik. "Ya. Gudang anggur yang tidak terpakai." "Ini tidak buruk," ujarnya tiba-tiba. Merebut cangkir dari meja, mencoba menyesap rasa manis teh yang membasahi tenggorokannya. Davion mendengus dengan tarikan napas kasar. Menatap Amara dengan pandangan dingin. "Kau menyuarakan isi hatimu terlalu keras. Apa gubuk ini pantas disebut rumah? Kau tidak bisa membandingkan rumah ini dengan tempat tinggalmu, bukan?" Davion mengernyit dengan raut bersalah. Saat dia menipiskan bibir, menurunkan cangkir dari tangan. "Kau sepertinya salah paham. Aku hanya terkejut. Maksudku, aku tidak pernah melihat pemandangan yang seperti ini. Dan aku tidak pernah membandingkan apa pun dengan rumahku." Davion hanya diam. "Untuk apa rumah terlalu besar kalau hanya kau yang tinggal sendiri di sana? Hanya kau sendiri yang hidup dan semua yang tersisa berupa kenangan?" Amara terdiam selama beberapa menit. Mengatupkan bibirnya dengan desisan pelan ketika dia membuang muka. Tidak ada lagi percakapan yang mengarah ke topik serius. Ini terlalu sensitif. Amara tidak ingin terbuka dan Davion pun sama. Mereka hanyalah dua orang asing yang tidak sengaja bertemu. Tapi di dalam sini jelas tidak ada potret kenangan apa pun. Baik itu berupa keluarga Davion mau pun bersama masa lalunya. Amara tidak tahu arti rumah ini untuk pria itu apa. Dan yang jelas dia tidak akan bertanya. "Aku akan melupakan ini. Kau tenang saja." Amara kembali bersuara. Selesai menghabiskan tehnya dengan bermaksud sopan. Memandang Davion yang terpaku, balas menatap matanya tanpa arti. "Aku juga sebenarnya merasa bersalah. Ini konyol karena aku tidak pernah lakukan hal memalukan ini sebelumnya," akunya jujur. Dan lagi-lagi Davion diam. Pada satu tarikan napas yang berhasil membawa batas waras Amara kembali. Gadis itu bangun, memperbaiki tali tas di bahunya dan tersenyum samar. "Aku harus kembali. Terima kasih untuk tehnya." Pintu kayu itu terbuka. Amara menuruni dua undakan anak tangga. Sebelum menghela napas, menemukan Davion berdiri di ambang pintu. Menatapnya datar. "Maaf," bisik Amara sekali lagi. Membungkuk untuk berpamitan sebelum dia berbalik, berjalan membelah jalan setapak yang berkerikil, kemudian membuka gerbang kayu itu dengan hati-hati. Berjalan pergi kembali ke halte sebelumnya untuk menunggu bis yang akan membawanya kembali pulang. *** "Nona Amara butuh sesuatu?" Amara menoleh dengan raut datarnya sebagai balasan. "Tidak, Elana. Terima kasih." "Baiklah kalau begitu." Kepalanya kembali bersandar. Saat ayunan ini bergoyang seiring pijakan telapak kaki kanannya menyentuh permukaan rumput pendek yang kasar. Amara merasakan semilir angin malam membawa anak rambutnya pergi. Tergerai indah setelah seharian dia mengikatnya dan meninggalkan puluhan delapan rambut rontok di telapak tangan. Selepas Elana pergi, tidak ada lagi suara yang bisa Amara dengar selain detak jantungnya sendiri. Pada suara hewan malam yang bersahut-sahutan dari taman belakang. Amara sama sekali tidak merasa terintimidasi. Dia menyukai sensasi saat-saat dia sendiri, memeluk malam dan sepi hingga terlelap. Tidak seperti malam sebelumnya yang dilewati dengan hujan deras, malam ini langit Tokyo sangat cerah. Karena bulan bersinar terang. Ditemani barisan para bintang yang membuat penduduk bumi merasa lebih damai. Iris teduhnya menyapu pantulan lampu taman yang tergambar di permukaan kolam renang. Nampak tenang dan tidak tersentuh apa pun. Amara bahkan tidak peduli dengan pakaian tidurnya yang tersingkap karena hembusan angin. Saat dia bangun, melihat Elana yang tersentak dan seakan ingin memberitahu sesuatu. Tetapi sebelum gadis itu bicara, Amara tahu siapa yang bertamu malam ini. Elana mundur, memberi ruang bagi majikannya untuk lewat. Ketika Amara masuk melalui pintu dapur, menatap sosok yang duduk di sofa, menunggu dalam diam. "Buatkan dia minum," pinta Amara dan Elana mengangguk. Saat Amara berjalan, menatap Rail yang duduk membisu. Ekspresi pria itu tampak lelah, dan Amara tahu kalau Rail sudah bekerja keras hanya agar membuat ibu dan ayahnya bangga. "Selamat malam. Apa aku mengganggumu?" Amara menggeleng tanpa ekspresi ketika dia mengambil tempat di depan pria itu. Duduk di sofa lain dan memangku bantal. "Tidak. Ada apa?" "Aku hanya tiba-tiba ingin mampir dan melihatmu." Amara merespon dengan anggukan kecil. "Sudah kuduga." Rail menyipit dengan raut jenaka. "Kau sepertinya tidak suka kalau aku datang?" "Ini jam malam. Kau seharusnya pergi ke rumah dan beristirahat di kamar. Bukannya datang untuk melihatku," timpal Amara dan Rail hanya terkekeh. Terkesan kalau kalimat yang baru saja meluncur adalah lelucon. "Aku ingin membagikan kabar baik." Amara menautkan alisnya dalam diam. "Kau tahu perusahaan yang memenangkan tender? Kemarin mereka sempat mengajukan keberatan karena kepala tim pergi untuk berobat. Alasan kesehatan. Dan sekarang mereka menemukan penggantinya." "Itu bagus," respon Amara santai. Tidak banyak yang berubah dari air mukanya. "Proyek ini akan tetap berjalan?" "Tentu! Sebelumnya Tuan Kanki berjarak enam tahun lebih tua dariku. Tapi sekarang kami menemukan kepala tim cadangan yang baru. Dia terlihat sangat berkompeten. Dan yang jelas, dia bagus. Hanya saja, dia minim ekspresi. Tidak banyak bicara." Amara mendengus dengan senyum tipis. "Bukankah seharusnya begitu? Orang-orang yang banyak bicara tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya, bukan?" "Kau benar," sahut Rail setuju. "Dia terlihat baik dan bagus. Menerima masukan dengan tangan terbuka. Dia sahabat Ken, pemilik perusahaan yang memenangkan tender proyek pemerintah kemarin." Amara mengangkat bahu. "Kau sudah bicara itu beberapa minggu sebelumnya. Aku hampir melupakan nama itu kalau kau tidak mengingatkannya." Rail tertawa kali ini. Bersama Elana yang masuk ke tengah-tengah mereka, memberikan Rail minum sesuai perintah Amara dan pamit untuk pergi. "Bagaimana dengan apartemen yang kau beli?" "Menempati rumah ini jauh lebih baik dibanding aku menyendiri di apartemen," ujar Amara datar dan Rail menarik napas panjang. "Tidak ada bedanya, kan?" Amara menatapnya tanpa ekspresi berarti. Ketika pria itu berdeham, mengusap sudut bibirnya dan Amara membuang muka dingin. "Kau benar. Tidak ada yang berbeda jika aku tetap di sini atau pindah." "Kau menyukai rumah ini." Amara menunduk dalam. "Rumah ini bagian dari diriku," katanya lamat. Mendongak untuk menatap Rail dan tampak jelas kalau Amara tidak nyaman dengan percakapan ini. "Bagaimana kabar kakakmu?" "Tanara? Dia baik," balas Rail sendu. "Proses perceraian masih berlangsung. Hanya butuh sekali sidang dan semua selesai. Aku harap masalah ini cepat berakhir dan kehidupan kakakku segera membaik." Amara ikut mengangguk. Memeluk kedua lengannya sendiri dengan ekspresi lirih. "Sampaikan salamku padanya. Dia perempuan tangguh. Aku bisa melihatnya jelas dari kedua sinar matanya yang keras." Rail terkekeh. "Aku merasa dia jauh lebih tangguh dari aku." Amara hanya mengulum satu senyuman tipis. Ketika Rail menghabiskan minumannya dan melirik jam di pergelangan tangan. Matanya menatap Amara sebentar, menikmati wajah polos tanpa riasan itu dalam diam. "Kalau begitu, aku pamit." Amara bangun ketika Rail beranjak pergi. Menemani pria itu sampai ke pintu utama dan Amara bisa melihat sedan mahal yang terparkir di jalan garasi rumahnya. "Selamat malam." Amara mengangguk dengan senyum formal. Selamat malam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD