KIARA Aku menatap wajahku di cermin. Bertanya pada diriku sendiri. Kalau nanti aku sudah jadi istri Kak Sena, apa aku masih malu seperti tadi? Aku menggeleng kuat. Beralih mengambil sikat gigi untuk segera memulai membersihkan diri. Saat aku keluar dari kamar mandi, Kak Sena tengah mengecek ponselnya. Wajahnya tampak khawatir dan beberapa kali berdecak saat nomor yang ia hubungi sepertinya tidak menjawab. “Siapa?” “Khayana. Dia nelpon lebih dari sepuluh kali semalem. Tapi sekarang aku coba telepon nggak diangkat,” katanya dengan nada cemas. Tepat saat aku naik ke tempat tidur, terdengar nada pesan masuk. “Ah, ini anaknya nge-chat!” pekiknya. “Apa katanya?” “Cuma bilang nggak apa-apa.” Kak Sena men

