Sesampainya di rumah, Inka segera masuk. Sebentar lagi Aldi pulang dan dia harus menyambutnya dalam keadaan yang baik. "Bi, di mana Raffa?" tanya Inka pada Pembantu rumah yang sedang membereskan ruang tamu.
"Oh, Den Raffa ada di kamarnya, Nya. Sehabis makan siang Den Raffa tidak keluar lagi," jawab Surti.
Inka mengangguk. "Oh, ya sudah, saya ke atas dulu," pamit Inka, dan Surti pun mengangguk seraya tersenyum.
Inka berjalan menaiki anak tangga lantas segera masuk kamar, dilemparnya tas tangan bermerk yang ia tenteng sejak tadi ke atas kasur lantas ia duduk di tepian ranjang. "Oh, ya ampun, aku tak menyangka kehidupan Sella begitu berat, dibanding dengan kehidupanku ini tidak apa-apanya, aku harus pandai bersyukur."
Inka menghela napas, mencoba melegakan dadanya yang sesak. Meski hal buruk itu dialami oleh sahabatnya, ia pun ikut merasa sesak napas karenanya.
"udah jam segini, sebaiknya aku segera mandi sebelum mas Aldi pulang." Dengan segera wanita itu beranjak dari duduk dan berjalan ke arah kamar mandi.
***
Di depan rumah, mobil Aldi ternyata sudah sampai. Pria tampan itu keluar dan segera masuk rumah, Surti menoleh kala mendengar langkah kaki memasuki ruang tamu. "Tuan, sudah pulang. Tadi nyonya juga baru saja pulang," kata Surti sekalian memberi info.
"Oya? Kenapa Inka pulang begitu sore? Ya sudah saya ke atas dulu," pamit Aldi.
"Baik, Tuan," jawab Surti seraya mengangguk kecil.
Aldi segera menaiki anak tangga dengan sedikit berlari kecil, dia sudah rindu dan ingin segera bertemu dengan istrinya. Pintu kamar seperti biasa tidak dikunci sehingga pria itu bisa langsung masuk.
Dilihatnya Inka tidak ada di kamar, pria itu lantas menoleh ke arah pintu kamar mandi dan memberi senyum nakal. "Dia pasti masih mandi, akan aku kejutkan dia nanti."
Aldi meletakan tas kerjanya di atas tempat tidur, melepaskan sepatu, dasi dan jasnya lalu ia segera berjalan ke arah pintu kamar mandi. Perlahan ia menekan handle pintu, sementara Inka yang di dalam masih fokus menikmati guyuran air yang turun dari shower.
Pintu dibuka, tapi Inka tidak mendengarnya karena ia berada di ruangan berkaca buram. Terlihat seluet tubuh indah milik Inka dari sana membuat smirk di wajah tampan Aldi muncul untuk menjahili istrinya.
Pria itu berjalan perlahan ke arah ruangan mandi seraya membuka tiga kancing teratas kemeja putihnya, tangan kirinya menggeser pintu kaca buram dan segera menerobos masuk hingga membuat Inka terkejut.
"Aaah! Mas Aldi!" pekiknya saat Aldi tiba-tiba memeluknya dari belakang. Aldi tertawa melihat istrinya sangat kaget lalu mencium pipi kanan Inka sangat gemas. "Ih, Mas Aldi jahil banget, sih!" protesnya.
"Mandi bareng," kata Aldi di telinga sang istri.
Deru napas hangat terasa di leher Inka meski air yang mengguyur tubuhnya bersuhu dingin. Inka tersenyum, ia tahu Aldi selalu seperti ini. Sikapnya yang lembut dan menggoda tanpa ia bisa sangkal membuat gairahnya memuncak.
Aldi berjalan ke depan, merangkum wajah cantik Inka dan mencium bibir wanita itu penuh gairah. "Kamu ke mana saja, kata Bi Surti kamu pulang sore?"
"Oh, aku seharian nemenin Sella di rumahnya," jawab Inka seraya menatap kedua netra Aldi yang sudah berkabut.
"Jangan nakal, Sayang," ucap Aldi.
Inka menggeleng. "Enggak, Mas. Aku enggak ngapa-ngapain, cuma nemenin Sella aja," jelas Inka pada suaminya yang sedikit cemburuan itu.
Aldi kembali mencium mesra istrinya. Di bawah guyuran air membuat tubuh keduanya basah, kemeja putih yang dikenakan Aldi pun mencetak indah tubuh gagahnya.
Jari-jari lentik Inka bergerak melepaskan sisa-sisa kancing yang masih belum terbuka seluruhnya, dengan penuh pengertian Aldi segera membantu istrinya untuk meloloskan kemeja dari tubuhnya sendiri dan melemparkannya ke samping begitu saja.
Tautan bibir mereka terlepas saat Inka berusaha melepaskan kepala belt yang melingkar di pinggang suaminya, sementara Aldi tersenyum dan terus melancarkan cumbuannya pada ceruk leher Inka. Dengan susah payah Inka berhasil meloloskan celana bahan suaminya dan segala apa pun yang menempel di tubuh pria itu.
Kini sudah tiada penghalang lagi di antara mereka, kulit mereka saling bersentuhan sehingga hawa dingin sekitar kini berubah menjadi memanas. Seluet keduanya yang tengah bercinta dengan posisi berdiri terlihat jelas dari luar ruangan.
Gemericik air air yang jatuh ke lantai menjadi musik indah yang mengalun mengiringi desah dan deruan napas penuh gairah keduanya.
***
Raffa kali ini sudah lebih dulu menunggu di meja makan, semua menu masakan juga sudah tersedia di meja. Namun, Aldi dan Inka belum juga datang ke ruang meja makan untuk makan malam.
"Kok, Mama dan Papa lama ya, Bi?" tanya Raffa pada Surti yang sedang meletakan teko bening berisi air di atas meja.
Surti tersenyum, tentu saja sebagai orang dewasa dia tahu apa yang terjadi, setidaknya itulah kemungkinan besarnya. "Mungkin Mama sama papanya Den Raffa masih sibuk, masih ada yang harus dikerjakan di dalam kamar," sahut Surti seraya tertawa kecil.
Raffa yang polos hanya mengangguk saja lantas kembali menatapi makanan di atas meja, Surti pun merasa kasihan pada Raffa sepertinya anak itu sudah kelaparan. "Den Raffa kalau sudah laper makan duluan aja, Den. Nanti bibi siapin."
"Tidak usah, Bi. Raffa nunggu Mama sama Papa aja dulu," cegah Raffa.
Surti pun mengangguk. "Oh, ya sudah kalau begitu bibi tinggal ke dapur ya, Den. Bibi mau beres-beres."
"Iya, Bi," jawab Raffa seraya mengangguk.
Surti pun meninggalkan Raffa di ruang makan sendirian, sementara dirinya kembali mengerjakan tugasnya mencuci alat bekas masak-masak tadi.
***
Aldi yang sudah siap sejak tadi menoleh pada pintu kamar mandi yang masih tertutup, hatinya bertanya-tanya entah kenapa istrinya begitu lama melanjutkan mandinya semenjak beberapa waktu lalu mereka habis bercinta di dalam ruangan itu.
Ya, sudah beberapa waktu mereka sudah selesai, lantas Aldi segera mandi dan keluar untuk bersiap. Sementara Inka berkata kalau dia akan melanjutkan mandi, sehingga Aldi lebih dulu keluar.
Namun, sudah hampir setengah jam Inka tidak juga keluar membuat Aldi sedikit merasa khawatir. Segera ia bangkit dari sofa dan menghampiri kamar mandi, diketuknya pintu itu beberapa kali. "Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali? Raffa pasti sudah menunggu kita untuk makan malam!"
Inka yang kini ternyata tengah duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya itu segera tersadar dari lamunannya saat mendengar nama Raffa disebut. Segera ia mengusap wajah dan dengan tubuh polosnya segera bangkit dari duduk dan mengambil handuk untuk ia lilitkan ke tubuhnya yang sudah sedikit mengering.
Segera ia keluar dari ruangan mandi dan membuka pintu, di saat itu Aldi sedikit terkejut saat melihat keadaan Inka. "Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kamu seperti--" Aldi khawatir karena melihat Inka seperti tidak baik-baik saja, istrinya seperti kedinginan hingga membuat wajahnya pucat.
Inka tersenyum berusaha menutupi kesedihannya terus. "Tidak apa-apa, Mas. Memangnya aku kenapa?" tanya Inka seraya melenggang menuju ruangan lain untuk berpakaian.
Aldi dengan segera mengikutinya di belakang. "Enggak, soalnya kamu kelihatan pucat, Sayang."
Inka tersenyum tipis. "Aku enggak sakit, Mas. Namanya juga mandinya terlalu lama jadi keliatan pucat," jawab Inka sekenanya.
Kini wanita itu masuk ruangan dan akan menutup pintu. "Udah, Mas turun aja temuin Raffa, suruh dia makan lebih dulu, atau tunggu mama sebentar lagi akan turun," kata Inka.
Meski Aldi masih merasa kalau istrinya tidak sedang baik-baik saja pada akhirnya ia pun mengangguk saja lantas pergi, sementara Inka hanya memberi senyuman kesedihan lalu menutup pintu kamar ganti.