Egoisnya Lelaki

1067 Words
Setelah semua orang akhirnya meninggalkan rumah Sella, kini hanya ada mereka berdua yang tersisa. "Bi, tolong ini bereskan semua, ya!" seru Sella pada pembantu rumahnya. Tak lama seorang wanita paruh baya datang dari belakang dengan membawa lap. "Permisi, Nyonya," kata Pembantu rumah itu. "Iya, Bi. Tolong bereskan semua, tapi nanti bawakan lagi minuman dan camilan yang baru, ya. Oh ya, In, kita pindah di kamarku aja, yuk!" ajak Sella setelahnya. "Terserah kamu aja, Sell," jawab Inka seraya tersenyum. "Oke, Bi, nanti minuman dan camilannya bawa kamar ajalah, ya," pinta wanita itu lagi. Pembantu rumah lantas mengangguk. "Baik, Nyonya." "Ya udah, yuk!" Sella berdiri dan mengajak Inka pergi, mereka pun lantas melangkah menuju lantai atas. *** Kini keduanya berada di dalam kamar pribadi Sella dan suaminya, mereka duduk di atas kasur menghadap televisi besar di hadapan mereka. Namun, Inka lebih tertarik memperhatikan dekorasi kamar sahabatnya ini yang terkesan simple, tapi elegan. Pandangannya lantas tertuju pada figura besar yang menyimpan foto pernikahan Sella bersama Arta. "Bener-bener ya nih para artis-artis, udah punya pasangan yang sah cantik ganteng setia, eh masih aja selingkuh." Komentar Sella, tapi Inka sama sekali tak ikut menimpali. Sella yang sejak tadi fokus pada televisi yang menayangkan acara gosip pun pada akhirnya menyadari bahwa sahabatnya tidak berada pada frekuensi yang sama dengannya dan dia tahu kalau Inka kini sedang memperhatikan foto pernikahannya dengan sang suami yang terlihat bahagia saat itu. "Gue bahagia banget bisa menikah dengan mas Arta, In. Pria yang gue cintai sejak SMA, siapa sangka mas Arta juga punya perasaan yang sama ke gue dan akhirnya lamar gue." Sella tersenyum mengingat masa lalu, meski saat ini senyuman manis itu terasa begitu pahit hingga membuatnya hampir menangis. Inka juga tersenyum, ia juga bisa merasakan aura kebahagiaan dari dalam foto itu. Sella dan Arta saling mencintai dan akhirnya Tuhan mempersatukan mereka dalam kehidupan berumah tangga. Setelah sekian lama puas memperhatikan kebahagiaan Sella di dalam foto, lantas ia pun beralih menoleh kepada Sella yang duduk di sampingnya, tapi saat melihatnya Inka jadi memperkecil garis senyum di wajahnya. "Sell, kenapa?" tanya Inka cemas kala melihat Sella bersedih. "Namun, pada kenyataannya, cinta kami ternoda karena mas Arta berani main gila di belakang gue, In." Tanpa diduga Sella benar-benar menangis. Hati wanita mana yang tak sakit jika dikhianati? Apalagi oleh seseorang yang sangat ia cintai dan sangat ia percayai. Inka pun tak tahan melihat kesedihan Sella yang selama ini selalu wanita itu simpan dari siapa pun. "Apa kamu sudah memastikannya, Sell? Aku pikir perkataanmu kemarin hanya dugaan belaka," kata Inka. Sella menggeleng seraya mengusap air mata di pipinya. "Gue tahu chat mesra mereka, In. Pas aku hubungi wanitanya, wanita itu mengaku kalau mereka sudah sering tidur bersama, mereka sering menghabiskan waktu berdua di tempat mas Arta dinas. Sungguh, hati gue sakit banget, In. Kala gue minta cerai, mas Arta menolak menceraikan gue." Mendengar cerita Sella yang baru ia ketahui, Inka benar-benar merasa sangat sedih. Wanita itu mendekap sahabatnya agar merasa lebih tenang. "Ya ampun, Sell. Aku baru tahu kalau mas Arta benar-benar berselingkuh. Padahal apa sih kurangnya kamu? Kamu itu sudah sangat sempurna sebagai seorang wanita." Mendengar kata-kata Inka, Sella segera mengurai pelukan mereka, wanita itu menggeleng sedih. "Enggak, In. Gue enggak sempurna, gue banyak kurangnya." Sella terisak. Inka merangkum wajah Sella yang basah air mata lantas mengusapnya. "Enggak, Sell. Kamu sempurna, mas Arta saja yang tidak pandai bersyukur." Sella menepis pelan tangan sahabatnya dari wajah membuat Inka merasa bingung dengan sikap sahabatnya. "Pada kenyataannya gue memang tidak sempurna, In. Enam tahun pernikahan gue belum juga dikasih momongan. Jadi, mungkin karena hal ini alasan mas Arta berselingkuh dan menikahi selingkuhannya hingga kini mereka punya anak usia satu tahun." Tangis Sella semakin pecah tak tertahan. Perkataan Sella pun tak dapat membuat Inka berkata-kata, wanita itu juga shock dan menutup bibirnya tak percaya. "Astagfirullahaladzim. Yang sabar, Sell. Please, kamu harus kuat." Inka kembali memeluk Sella, dan kini sahabatnya itu membalas pelukan Inka dengan erat dan menumpahkan segala kesedihan, kesakitan, kekecewaan dengan bentuk air mata. Inka mengelus punggung Sella dengan lembut, membuat wanita cantik yang biasanya terlihat bar-bar itu ternyata begitu rapuh di dalamnya. "Gue memang wanita yang enggak sempurna, in. Pantas jika mas Arta mencari wanita lain, dia pantas mendapatkan yang terbaik dibanding gue. Tapi, kenapa mas Arta mempertahankan gue seperti ini ...." "Itu karena mas Arta masih sayang sama kamu, Sell. Dia ingin kamu masih berada di sisinya meski ia sudah punya yang lain," balas Inka. Sella mengurai pelukan mereka lalu mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. "Itu sangat egois, gue hanya ingin hidup damai dan tenang meski tanpa cinta." "Bukankah sifat lelaki memang kebanyakan begitu, Sell? Sudahlah, kamu wanita yang hebat, aku saja kagum padamu setelah ini, karena kamu benar-benar mampu menutupi setiap rasa sakitmu." Inka tersenyum bangga. Sella juga tersenyum tipis lalu menatap wajah Inka. "Lalu lu sendiri gimana, In? Enggak mungkin hidup lu sama sekali tanpa masalah, setidaknya pasti ada lah ...." Inka tertawa kecil. "Ya pasti ada lah ... namanya juga manusia hidup, kalau enggak ada masalah ya namanya orang mati, tapi aku dan mas Aldi tidak terlalu membesar-besarkan, karena memang masalah kami tidak ada yang terlalu serius." "Syukurlah, gue turut bahagia mendengarnya. Oya, aku tadi lihat gosip terpanas di kalangan artis-artis. Maraknya perselingkuhan di mana-mana coba. Yang lebih kasihan lagi ini, istrinya lagi hamil, gila! Lah lakinya ...." Sella malah kembali ke topik utama, dia seolah melupakan kesedihannya tadi dan kini tergantikan dengan hal lain. Inka juga ikut memperhatikan televisi yang sudah berganti tayangan, tapi pembahasan soal perselingkuhan masih jadi topik utama mereka saat ini. "Susah, Sell. Kalau kita tidak pintar bersyukur, mau pasangan kita cantik atau ganteng, mau sebaik apapun tetap saja tidak ada puasnya." Sella setuju, wanita itu pun mengangguk lantas memakan camilannya terus. "Ih, bagi dong, sendirian aja." Inka merebut snack dari tangan Sella lantas mereka tertawa bersama seolah tak punya masalah masing-masing di hidup mereka. *** Hari sudah sore, Inka memutuskan pamitan pada Sella setelah seharian ini menemani sahabatnya di rumah. "Lo hati-hati di jalan, In," pesan Sella sebelum Inka masuk mobil. "Iya, Beb. Kamu juga baik-baik di rumah, besok weekend aku mau off HP," kata Inka memberi tahu. "Ya ya, habiskan waktu bahagia bareng ayang," seloroh Sella. "Kamu juga bisa sama ayank," balas Inka seraya tersenyum nakal. "Dasar, tahu aja lu." Sella tersenyum malu, karena ia paham ayang yang dimaksud Inka itu ayank, seseorang yang bukan semestinya. "Tahu lah ... udah kelihatan." Inka tertawa sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Sella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD