Alara terus bergerak gelisah di atas karpet bulu yang terpasang di ruang khusus penjaga pasien ICU. Ia yang tadinya sangat mengantuk menjadi susah tidur. Penyebabnya adalah keberadaan Selim yang bersikeras ingin menjaganya. "Tidurlah, Lara! Aku di sini hanya menjagamu." Alara mendengus kesal. "Kenapa Anda tidak pulang saja, Pak?" geramnya. "Kenapa kamu malah ingin sekali saya pergi dari sini?" Selim melipat tangannya di depan dadanya. Ia tak terima bila gadis itu sampai mengusirnya. "Ya ... ya karena saya tidak ingin merepotkan Anda. Lagi pula nanti Anda bisa sakit karena kedinginan. Selimut cuma ada satu." "Gampang saja! Kita bisa berbagi selimut. Jadi, kita bisa berbagi kehangatan malam ini," celetuk Selim santai. "Jangan macam-macam!" pekik Alara. Selim tersenyum jahil. "Saya tid

