15

1112 Words
Saat sudah puas menangis, Lexa memaksakan dirinya untuk mandi dan merapikan dirinya. Dia tidak mau saat Colin pulang dan menemukannya seperti ini. Biarlah ini menjadi rahasianya karena dia tidak bisa mengatakannya pada Colin. Colin pasti akan melarangnya bekerja jika tahu. Tapi ternyata Colin baru bisa pulang satu minggu kemudian. Setidaknya setiap malam Colin selalu meneleponnya dan Lexa memakluminya karena bagaimana pun sebenarnya harusnya Colin hanya satu minggu berada di kota ini tapi sekarang dia malah sudah enam bulan di sini. Sejak hari itu Lexa juga selalu bermimpi buruk tanpa Colin di sisinya dan apa yang di alaminya memicu mimpi buruk itu. "Tidak! Aku mohon jangan!" jerit Lexa di dalam mimpinya. "Jangan!" lirih Lexa. Colin bergegas masuk ke kamar saat mendengar Lexa berteriak. Saat sampai di kamar dia melihat Lexa sedang tidur dan tampak begitu gelisah. "Lexa," panggil Colin pelan sambil menyentuh pipi istrinya lembut. "Aku mohon jangan!" isak Lexa. "Ssst... Lexa ini aku. Bangun, Sayang. Kamu hanya mimpi buruk." Lexa membuka matanya dan ketakutan saat melihat seseorang berada di dekatnya dan menyentuhnya. "Tidak!" jeritnya dan menutup matanya dengan kedua tangannya. "Lexa, ini aku, Colin." Dengan pelan Lexa membuka tangannya dan melihat dengan lebih jelas. "Colin!" jerit Lexa dan dengan cepat masuk ke dalam pelukan suaminya. "Maafkan aku karena meninggalkanmu selama satu minggu," ucap Colin sambil membelai kepala Lexa lembut. "Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi." "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku janji." Dengan lembut Colin memagut bibir istrinya, istri yang begitu di rindukannya. Seminggu menjauh dari Lexa hampir membuatnya gila. Colin kemudian menyusuri sudut mulut Lexa menuju pipinya dan terus turun menghisap leher Lexa. "Please... bercintalah denganku," pinta Lexa. Dia ingin menghilangkan mimpi buruknya. Mimpi di mana dia hampir di perkosa oleh laki-laki asing dan dia ingin percintaannya dengan Colin menghilangkan hal itu. Dengan lembut Colin membaringkan Lexa sambil terus menciumnya. Kemudian bibirnya terus turun menuju p******a Lexa yang masih tertutup pakaiannya dan memagut putingnya yang timbul karena Lexa tidak memakai branya. Colin memagutnya pelan dan bergantian di antara keduanya hingga baju yang di pakai Lexa basah karenanya. Dengan tidak sabar Lexa membuka atasannya dan dirinya mendesah saat akhirnya mulut basah Colin menghisap payudaranya dan mengigitnya pelan. "Colin..." desah Lexa pelan saat gairahnya semakin memuncak. Dengan perlahan Colin turun menyusuri perut Lexa yang membuncit dirinya mengecupnya secara perlahan sambil tangannya menuju kewanitaan Lexa. Colin memainkan jarinya di sana, menyentuh inti Lexa dengan pelan dan terus mempermainkannya. "Colin!" jerit Lexa tidak tahan lagi dan bergerak-gerak gelisah di atas ranjang sambil kedua tangannya meremas sprei. Colin terus mempermainkan Lexa dengan jari-jarinya sedangkan mulutnya kembali mempermainkan kedua p****g Lexa secara bergantian. Kali ini jari-jari Colin berusaha menerobos kehangatan Lexa yang basah karenanya. Refleks Lexa menekuk pahanya dan melebarkannya hingga dia bisa merasakan jari Colin yang memasuki dirinya dan bergerak keluar masuk di gua kenikmatannya. "Colin, aku mohon jangan siksa aku lagi!" jerit Lexa tertahan. Colin bergegas turun dari ranjang dan membuka pakaiannya. Gairahnya memuncak saat menatap tubuh Lexa yang tanpa sehelai benang pun terbaring pasrah di atas ranjang dan rambut Lexa yang berantakan semakin membuat gairahnya meningkat. Colin segera naik ke atas ranjang saat semua pakaiannya sudah lepas dan dirinya mengarahkan kejantanannya pada kewanitaan Lexa. Dengan perlahan dia masuk dan terus mendorong hingga akhirnya miliknya masuk sepenuhnya dan Colin mulai bergerak pelan dan berirama. "Colin..." desah Lexa dan berusaha ikut bergerak mengikuti irama gerakan Colin. Colin terus bergerak pelan dan dirinya menunduk di atas Lexa, memagut bibirnya dengan rakus sambil kedua tangannya mempermainkan p******a Lexa yang p****g-putingnya masih mengeras. Colin mencium leher Lexa dan berkonsentrasi bergerak keluar masuk dari dalam tubuh Lexa. "Colin!" jerit Lexa mencengkram bahu Colin dan mencakar punggungnya saat o*****e akhirnya datang menghampirinya dan Lexa tahu jika Colin juga sudah mendapatkan pelepasannya saat laki-laki itu menggeram di leher Lexa dan menghisap lehernya dengan perlahan. Hingga akhirnya badai itu reda, baru Colin bangun dan berbaring di samping Lexa. Lexa memejamkan mata merasa begitu puas. "Apa aku menyakitimu? Apa anak kita baik-baik saja?" tanya Colin cemas karena sesaat tadi dia lupa diri. "Aku baik-baik saja dan anak kita juga baik-baik saja," ucap Lexa tersenyum bahagia. "Maafkan aku, aku begitu merindukanmu hingga lupa diri." "Aku senang dan aku sangat menyukainya." Colin menarik Lexa ke dalam pelukannya dan mengecup kepalanya pelan. Walau pun hari sudah malam, Colin sengaja tetap bergegas kembali ke Malbourne hanya untuk bertemu dengan Lexa. Dirinya tidak sanggup lagi berpisah terlalu lama. *** Colin terbangun keesokan harinya dan kembali mengusap-usap pelan perut Lexa dan dia semakin senang melakukannya saat anaknya terus bergerak karenanya. "Apa ini hanya perasaanku saja atau kalian memang berkomplot untuk membangunkan aku?" tanya Lexa saat terbangun karena merasakan gerakan di perutnya. Colin tersenyum dengan sedikit salah tingkah karena tertangkap basah oleh Lexa begitu senang mengusap perutnya. Lexa tersenyum lembut saat Colin terlihat salah tingkah. Dengan perlahan dia mengambil tangan Colin dan meletakkannya kembali di perutnya. "Sepertinya dia begitu meyayangimu padahal bahkan masih di dalam perut," ujar Lexa saat di rasakannya perutnya langsung kembali terasa gerakan saat tangan Colin menyentuhnya. Colin tersenyum begitu senang mendengarnya tapi kemudian dirinya kembali muram. "Ada apa?" tanya Lexa sambil memandang wajah suaminya. "Jika dokter itu melakukan apa yang aku perintahkan, saat ini aku sudah kehilangannya. Aku sungguh menyesal dan minta maaf kepada kalian berdua."  Lexa menyentuh pipi Colin dan mengusapnya lembut. "Itu semua hanya masa lalu, saat ini yang penting kamu sudah mau menerimanya." "Ya, aku tidak akan pernah melepaskan kalian lagi." Lexa tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini, dia harap kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya. "Aku mencintaimu, Colin." Tiba-tiba Colin bangun dari ranjang dan menjauh dari Lexa. "Jangan ucapkan kata itu lagi, Lexa. Dulu kamu pernah mengatakan hal yang sama tapi __ , sudahlah," ucap Colin dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Air mata mengalir di pipi Lexa dan dia menghembuskan napas pelan.  Terima saja apa yang dia berikan Lexa dan jangan berharap lebih. Simpan saja cinta itu di dalam hatimu. Lexa turun dari ranjang dan menyusul Colin yang berada di dalam kamar mandi. Dirinya bisa melihat tubuh Colin yang menegang kaku saat tahu dia ikut masuk ke dalam. Lexa memeluk Colin dari belakang dan mencium tubuh Colin perlahan sambil mengigit-gigitnya. Hingga akhirnya Colin tidak bisa menahan diri dan kemudian mengambil alih. Dengan perlahan Colin bercinta dengan Lexa hingga mereka mendapatkan pelepasan mereka. "Apa masalah perusahaanmu sudah selesai di Sydney?" tanya Lexa saat mereka sudah selesai mandi dan berpakaian. "Ya," ujar Colin. Mereka kemudian keluar kamar untuk makan. "Apa hari ini kamu akan pergi bekerja?" tanya Colin pada Lexa. "Tidak, aku akan bersamamu saja. Aku masih merindukan dirimu," ucap Lexa sambil menatap kedua mata Colin. "Ya, aku juga merindukanmu." Seulas senyum tersungging di bibir Lexa. Setidaknya dia juga merindukan aku walau pun tidak mencintaiku lagi. Hari-hari terus berlalu dan sesekali Colin masih harus terbang ke Sydney walau pun tidak sampai menginap dan Lexa akan bekerja jika Colin tidak ada. Colin sempat tidak mengizinkannya bekerja kembali saat tahu Sienna mengundurkan diri tapi akhirnya dia menyerah saat Lexa tidak mau bicara padanya jika Colin tidak mengizinkannya bekerja tapi sejak kejadian hari itu Lexa akan selalu bersama seseorang jika dia harus memeriksa sebuah kamar karena dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD