Lexa terbangun saat merasakan sebuah tangan mengusap-usap perutnya sejak tadi dan bagaimana bayinya terus bergerak hingga dia merasa sangat ingin buang air kecil.
Lexa mengangkat tangan Colin yang masih terus berada di perutnya dengan perlahan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Colin dengan suara serak khasnya.
"Hmmm, maaf aku tidak tahan lagi," ucap Lexa dan bergegas bangun menuju kamar mandi. Lexa sekalian mandi hingga membuat Colin cemas kenapa dirinya berada begitu lama di dalam sana.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Colin saat Lexa sudah keluar.
"Ya, aku hanya tidak tahan lagi ingin buang air kecil."
Colin bangun dan mendekat pada Lexa kemudian menarik Lexa ke dalam pelukannya. Colin mencium bibir Lexa dengan perlahan dan semakin turun menuju lehernya.
"Aku suka wangimu."
Lexa hanya tertawa renyah mendengarnya.
"Aku mandi dulu," ucap Colin dan melepaskan pelukannya.
Sesaat Lexa merasa kehilangan dan dengan sedih dia menatap pada Colin.
Apakah ini akan bertahan selamanya? Ataukah aku akan kembali kehilangannya? Ia tidak yakin. Walaupun mengandung anak Colin tapi kemungkinan ia akan kembali kehilangan Colin sangatlah besar.
"Colin," panggil Lexa saat suaminya sudah keluar dari kamar mandi.
"Kenapa? Apa kamu menginginkan sesuatu?"
"Aku—
"Apa kamu ingin kembali bercinta?" tanya Colin dengan senyum jahilnya. Sesaat Lexa terpaku di tempatnya karena akhirnya senyum itu kembali hingga tanpa ia sadari matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Colin cemas.
"Ya," jawab Lexa tersenyum menenangkan suaminya.
"Apa kamu ingin sesuatu?"
"Bolehkah aku kembali ke pekerjaanku yang dulu?" tanya Lexa pelan.
"Tidak!"
"Aku mohon," pinta Lexa memelas.
"Ini bukan hanya rencanamu untuk kabur, ‘kan?" tanya Colin dengan pandangan tajam.
"Tentu saja tidak. Aku bosan terus berada di kamar ini dan aku ingin kembali bekerja. Aku janji aku tidak akan kabur lagi."
"Baiklah. Tapi aku tidak mau kamu terlalu lelah nantinya."
"Ya, tentu saja," ucap Lexa gembira dan dengan refleks memeluk Colin.
"Sekarang ayo kita makan."
"Ya."
"Hari ini aku harus kembali ke Sydney. Apa kamu mau ikut?"
Lexa menegang mendengar kata Sydney disebutkan karena kota itu membawa banyak kenangan buruk untuknya walaupun di sanalah dia bertemu dengan Colin untuk pertama kalinya.
"Maaf, aku di sini saja."
"Baiklah jika seperti itu."
Selesai makan Colin kemudian berangkat untuk kembali ke Sydney dan Lexa sempat merasa kehilangan. Kemudian dirinya turun ke bawah untuk mulai kembali bekerja. Sebagian senang melihatnya dan sebagian lagi was-was melihatnya.
"Lexa, akhirnya kamu keluar juga dari sangkar emasmu," ucap Sienna saat Lexa masuk ke ruangan miliknya dulu yang di tempati Sienna sekarang.
"Ya."
"Apa kamu akan kembali bekerja?"
"Ya."
"Terima kasih, Tuhan!" seru Sienna merasa begitu senang. Sejak tidak ada Lexa dan dia yang harus menggantikannya, dirinya sungguh merasa lelah dan hampir gila karena harus menangani semuanya sendirian saja. Dia bahkan tidak bisa mengundurkan diri karena tidak ingin berada jauh dari Lexa. Sekarang Lexa sudah baik-baik saja dan Sienna memutuskan dia akan mengundurkan diri.
"Tapi Colin memintaku jangan terlalu lelah."
"Tentu saja, kamu sedang hamil. Aku ikut berbahagia untukmu," ucap Sienna sendu karena dirinya kembali mengingat seseorang yang begitu dirindukannya.
"Sienna," panggil Lexa.
"Ya."
"Maafkan aku, semua kesedihanmu ini pasti disebabkan olehku. Apakah Jordan memerkosamu?" tanya Lexa pelan.
Sienna tertawa mendengarnya, dirinya sungguh tidak bisa menjawab hal itu.
"Tenang saja aku baik-baik saja. Aku sedih bukan karena hal itu tapi karena patah hati. Sekarang aku tahu apa yang kamu rasakan dulu, mencintai seseorang yang berada jauh dari kita itu sungguh melelahkan.”
"Maafkan aku."
"Sudahlah, Lexa, ini benar-benar bukan salahmu. Sekarang karena kamu sudah di sini, aku akan mengundurkan diri sebab berada di hotel ini terus menerus membuatku semakin merindukannya."
"Maafkan aku, Sienna. Aku harap kamu akan menemukan kebahagianmu."
"Ya, terima kasih. Aku pergi dulu, Lexa. Jaga dirimu baik-baik."
"Ya, tentu."
Lexa kemudian kembali memulai harinya seperti dulu saat Colin belum menemukannya. Malam akhirnya tiba dan dengan sedikit lelah ia naik ke kamarnya. Saat sampai di suite, telepon berbunyi dan ia segera mengangkatnya. Colin sudah kembali menyambungkan telepon itu setelah mereka menikah karena sebelumnya Colin memutus saluran telepon agar ia tidak bisa menghubungi siapa pun.
"Halo."
"Lexa."
"Colin."
"Maaf hari ini aku tidak pulang karena ternyata masalahnya tidak bisa langsung teratasi dan aku akan menginap di rumah Mama. Apa kamu tidak apa-apa sendirian? Atau mungkin kamu bisa meminta Sienna menemanimu?"
"Ya, aku tidak apa-apa."
Lexa tidak berani memberitahu Colin jika Sienna sudah mengundurkan diri jadi ia hanya diam saja tentang hal itu.
Saat panggilan telepon sudah diputus dengan sedih Lexa menatap telepon itu dan entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak. Tapi karena sedang merasa lelah, setelah mandi dia segera tidur.
***
Colin merasa begitu berat membiarkan istrinya sendirian malam ini. Baru kemarin mereka menikah tapi dia sudah meninggalkan istrinya sendiri.
Dia kemudian turun untuk makan malam dan dirinya begitu terkejut karena saat ini ada tamu di rumah mereka yaitu wanita yang dulu akan dijodohkan dengannya.
"Mama."
"Colin, ayo makan, Sayang. Mama mengundang Linda dua hari lalu untuk makan di sini. Maaf Mama tidak tahu jika kamu akan pulang hari ini."
"Halo, Colin," sapa Linda dengan suara menggoda dan tidak mengalihkan tatapannya dari Colin.
"Tidak apa-apa, Ma," ucap Colin tidak menggubris sapaan Linda dan dirinya duduk dan mulai makan.
Walau Scarlet terus mengobrol bersama Linda tapi Colin bersikap seolah wanita itu tak ada di sana. Dia benar-benar mengabaikan kehadiran wanita itu yang membuatnya tentu saja sangat kesal sebab dia berharap bisa menggoda Colin malam ini. Selesai makan malam dengan bergegas Colin pergi dari meja makan menuju ruang kerjanya.
"Colin, tolong kamu antar Linda pulang ya,” pinta Scarlet saat Colin melewati mereka setelah dari ruang kerjanya.
"Tapi, Ma—"
"Mama mohon, Sayang. Mama tidak enak sama kedua orang tuanya jika membiarkannya pulang sendirian."
"Tidak apa-apa, Tante. Aku akan naik taksi saja."
"Tidak Linda! Tolong, Mama ya, Colin. Kali ini saja."
"Ya, Ma," ucap Colin dingin. Dirinya memang tidak pernah bisa menolak permintaan mamanya.
Dengan langkah panjang Colin berjalan keluar dengan Linda yang mengikuti di belakangnya.
"Matthew akan mengantarmu, Linda. Selamat malam," ucap Colin. "Matthew antarkan dia hingga selamat sampai rumah."
"Ya, Tuan."
"Tapi, Colin—"
Colin bergegas masuk kembali ke dalam rumah dan tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan Linda.
Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya, ucap Linda di dalam hatinya sambil menatap punggung Colin dan kemudian dirinya masuk ke dalam mobil. Saat sampai di rumah dia menelepon seseorang untuk mulai menjalankan rencananya.
***
Lexa terbangun pagi ini, saat dia meraba samping tempat tidurnya dan tidak ada Colin di sana, dia merasa begitu kesepian.
Kemudian ia mulai kembali bekerja dan Devon mengatakan jika ada seorang tamu yang mengeluh jika kamarnya tidak sesuai keinginannya. Orang itu ingin ia memeriksanya sebelum dia kembali dari rapatnya.
Sambil membawa kartu cadangan Lexa naik ke atas menuju kamar itu dan saat sampai ia masuk dengan menggunakan kartu. Ia memeriksa semuanya dan merasa aneh karena tidak ada kesalahan apa pun yang ditemukannya. Saat ia baru akan keluar tiba-tiba pintu terbuka dan masuk dua orang laki-laki dari sana.
"Maafkan aku, aku Manajer di sini. Aku hanya sedang memeriksa keluhan kalian dan maaf aku tidak menemukan apa itu."
"Jadi kamu yang bernama Lexandre?"
Sesaat Lexa sempat curiga karena bagaimana caranya mereka bisa tahu nama aslinya karena di hotel ini ia hanya dikenal sebagai Lexa.
"Dari mana Anda tahu nama saya?"
Tiba-tiba laki-laki yang berbicara padanya memeluknya sedangkan laki-laki satunya sibuk memotret.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Lexa saat dirinya bisa lepas. Kemudian laki-laki itu menariknya ke dalam pelukan dan mencium paksa bibirnya.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong serta melepaskan diri dari pelukan dan ciuman laki-laki itu tapi laki-laki itu memegang erat kepalanya.
"Pegang dia, kita harus membuka bajunya," ucap laki-laki itu dan kemudian laki-laki yang memegang kamera beralih menangkap lengan Lexa.
"Lepaskan aku!" jerit Lexa tapi tidak ada yang bisa dilakukannya sampai akhirnya atasannya lepas dan bra tampak. Laki-laki yang memegang kamera melepaskannya sedangkan laki-laki yang tadi menciumnya kembali merangkul Lexa dan mencium leher serta p******a Lexa yang tampak.
"Kamu membuatku b*******h," ucapnya.
"Tidak! Aku mohon jangan," ucap Lexa saat laki-laki itu berusaha melepaskan branya.
"Vicky, hentikan! Kita sudah mendapatkan apa yang kita mau."
"Jika kamu tidak mau menikmatinya, jangan halangi aku," ucap Vicky.
"Aku mohon jangan," pinta Lexa menangis dan begitu ketakutan saat laki-laki itu kembali berusaha membuka branya.
"Hentikan!" bentak laki-laki yang memegang kamera sambil menarik temannya menjauh dari Lexa dan terus memegangnya.
"Apa kamu tidak lihat? Dia sedang hamil. Pakai pakaianmu Nona dan pergilah dari sini."
Dengan cepat Lexa memakai pakaiannya dan bergegas pergi dari sana secepat mungkin.
Lexa memutuskan kembali ke suite-nya dan dirinya menangis tersedu-sedu.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^