13

1003 Words
Saat ini Lexa sedang bersiap-siap dan berdandan untuk pernikahannya. Sejak tadi Colin sudah pergi dari kamar ini entah ke mana karena dia tidak mengatakannya. Gaun pengantin yang Colin siapkan begitu indah dan bahkan bisa menutupi kehamilannya. Sejak tadi Lexa tidak bisa menghilangkan senyum bodoh di wajahnya karena akhirnya dia bisa menikah dengan Colin walaupun hanya demi anaknya. Setelah pulang dari rumah sakit Lexa begitu gembira, walaupun Colin tidak akan pernah mencintainya lagi tapi setidaknya Colin akan menerima anaknya nanti. *** Colin menunggu di landasan untuk menyambut mamanya karena sebentar lagi helikopter akan mendarat. "Mama," sapa Colin saat Scarlet sudah turun dari helikopter. "Colin," sapa Scarlet bahagia. "Katakan siapa yang akan kamu nikahi? Kenapa begitu mendadak?" "Ayo, aku antar Mama ke kamar dulu dan setelah itu aku akan memberitahu Mama.” Bersama-sama mereka turun ke bawah menuju lantai di mana Colin menempatkan Scarlet selama berada di hotel ini. "Katakan," ucap Scarlet tidak sabar saat mereka sudah tiba di kamarnya. "Aku akan menikahi Lexa." "Lexa?! Wanita yang sudah mengkhianatimu itu?!” "Ya, Mama." "Kenapa dia? Bukankah dia sudah mengkhianatimu? Katakan kenapa, Colin?! Apa tidak ada wanita lain lagi?!" "Dia mengandung anakku." "Apa?!" jerit Scarlet histeris. Aku benci sekali wanita itu. "Dan aku ingin Mama menerima keputusanku." "Apa kamu yakin itu anakmu?" "Ya, karena akulah yang pertama untuknya." "Baiklah, jika seperti itu. Mama akan menerimanya kembali demi dirimu." "Terima kasih, Ma," ucap Colin sambil memeluk mamanya erat. Setelah itu Colin pamit untuk menjemput calon mertuanya. Acara akhirnya akan di mulai, Lexa diantarkan ke bawah menuju ruangan di mana pernikahan dilangsungkan di hotel ini. Saat pintu membuka sudah menunggu Colin di sana. Dengan gembira Lexa menatap laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lexa tidak mengalihkan tatapannya dari Colin dan akhirnya saat dirinya sampai di depan Colin, mereka segera mengucapkan sumpah pernikahan dan Colin menciumnya dengan lembut saat pernikahan mereka sudah sah. Saat itulah Lexa baru menatap para tamunya dan dirinya terpaku saat melihat kedua orang tuanya. Sejak dia memutuskan pertunangannya dengan Colin tanpa bisa memberitahukan alasannya, kedua orang tuanya sangat marah dan tidak ingin melihat wajahnya sebelum dia mengatakan sebabnya. Dengan pelan dan sedikit takut Lexa turun ingin menghampiri orang tuanya. Dirinya mengangkat tangan ingin menggapai mereka tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. "Mama, Papa," bisik Lexa lirih dan air mata mengalir dari kedua matanya. "Lexa," panggil Christie Audree pada putrinya dan memeluknya erat saat putrinya masuk ke dalam pelukannya. "Aku sangat merindukan kalian," isak Lexa. "Papa, maafkan Lexa," ucap Lexa pada Daniel Audree. Dengan cepat Daniel menarik putrinya dan memeluknya erat serta membelai kepalanya. Setelah puas menumpahkan kesedihannya, Lexa mengikuti Colin yang sejak tadi hanya melihatnya dan tidak berani menganggunya. Colin kemudian membawa Lexa menemui seseorang dan saat ia menatap wajah orang itu seketika dirinya membeku. "Tante," sapa Lexa kaku. "Selamat, Sayang, akhirnya kamu menikah juga dengan Colin walaupun kamu mengkhianatinya." Tubuh Lexa semakin membeku dan tidak membalas pelukan Scarlet padanya. "Terima kasih, Tante," ucap Lexa masih dengan kaku. "Mama dong, Sayang, kamu  sudah menikah dengan Colin jadi sekarang aku juga sudah menjadi mamamu.” "Maaf, Ma," ucap Lexa dan berbalik kepada Colin. "Aku lapar," ucap Lexa berbisik pada Colin. "Ayo...kita makan." "Tapi aku juga lelah. Bolehkah aku ke kamar saja?" "Baiklah. Aku akan menemanimu." "Jangan, Colin! Tidak enak jika kita berdua pergi karena masih banyak tamu di sini." "Baiklah, aku akan kembali setelah mengantarkanmu." "Tidak perlu, aku akan meminta Sienna yang mengantarkanku," ucap Lexa dan ingin beranjak dari sana tapi Colin tidak melepaskan pegangannya pada tangan Lexa. "Colin, aku janji tidak akan kabur lagi,” ujar Lexa mendekat pada Colin dan mencium bibirnya lembut. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." "Baiklah," ucap Colin dan akhirnya melepaskan tangan Lexa. Lexa tersenyum lembut pada suaminya dan bergegas mencari Sienna setelah pamit pada kedua orang tuanya. "Sienna." "Lexa, aku mencarimu ke mana-mana. Selamat ya," ucap Sienna memeluk Lexa erat. "Terima kasih. Sienna, maukah kamu menemaniku ke atas?" "Dengan senang hati." "Lexa, apa kamu akan ke atas?" Tubuh Lexa kembali membeku saat mendengar suara itu. "Kebetulan Mama juga mau ke atas. Mama temani ya?” "Tidak perlu," ucap Lexa kaku dan bergegas menarik Sienna bersamanya. "Apa dia mama mertuamu, Lexa?" tanya Sienna saat mereka sudah di dalam lift. "Ya," ucap Lexa. Sienna hanya bisa menatap Lexa heran tapi dia tidak berani bertanya. "Ayo..." ujar Lexa senang sambil menarik Sienna bersamanya. "Sabar, Lexa. Kamu harusnya menyeret suamimu saat ini jika kamu tidak sabar lagi ingin ditelanjangi, bukan malah menyeretku." "Sienna!" teriak Lexa sebal. "Maafkan aku," ucap Sienna pura-pura menyesal sambil tersenyum simpul. Saat sampai di suite tidak lama kemudian makanan Lexa datang dan dirinya makan dengan lahap. Dia sudah berganti baju biasa setelah dibantu Sienna tadi. Setelah itu mereka mengobrol hingga akhirnya Colin sudah naik ke atas dan Sienna pamit sambil mengedipkan matanya pada Lexa. Seketika wajah Lexa merona malu karenanya tapi Lexa tahu di balik keceriaan yang Sienna tunjukkan padanya terdapat kesedihan di sana dan ia tahu itu semua salahnya. "Apa kamu sudah makan?" "Ya." "Aku akan mandi dulu." "Ya." Lexa meneguk salivanya dengan susah payah saat Colin keluar dari kamar mandi hanya memakai celana saja. "Ayo, kita tidur, kamu pasti lelah." "Ya." "Kenapa dari tadi hanya jawaban itu saja yang kamu berikan? Jangan katakan jika kamu gugup." "Tidak," ujar Lexa menyangkalnya dengan cepat. Colin tertawa saat menyadari jika pengantinnya memang gugup. Dengan cepat dia menghampiri Lexa dan menggendongnya ke kamar mereka. Saat sampai di ranjang, dia membaringkannya dan kemudian berbaring di sebelah Lexa. Beberapa saat Lexa menunggu tapi Colin tidak melakukan apa pun padahal ini adalah malam pengantin mereka. Ia membalikkan badannya menghadap Colin dan menelusuri jarinya di d**a telanjang Colin. "Lexa, tidurlah!" geram Colin. Bukannya berhenti ia bahkan terus menyentuh Colin dan semakin turun hingga ia menemukan bukti gairah Colin yang sudah mengeras. Lexa mengusap-usapnya pelan dan dirinya bisa mendengar geraman Colin karena apa yang dilakukannya. "Bercintalah denganku, Colin," pinta Lexa pelan. Malam ini ia sudah menjadi milik Colin dan ia ingin menyerahkan dirinya seutuhnya menjadi milik Colin seperti janjinya dulu. "Apa kamu yakin?" "Ya. Aku ingin menyerahkan diriku seutuhnya padamu." Colin menatap Lexa muram karena hal itu mengingatkannya akan cerita mereka dulu, saat Lexa memintanya bersabar sampai mereka menikah tapi ternyata wanita itu malah meninggalkannya. Colin menepis ingatan itu dan meraih tubuh Lexa. Dengan perlahan dia mengecup bibir wanita yang sudah menjadi istrinya. Kemudian dengan lembut dia mulai bercinta untuk pertama kalinya dengan Lexa yang sudah menjadi istrinya. Dia bercinta dengan Lexa secara perlahan karena tidak ingin menyakiti istrinya dan anak mereka. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD