12

1699 Words
Setelah Colin pergi dengan cepat Lexa mengemas barang-barangnya. Dia akan menunggu pelayan datang kembali mengambil piring-piring kosong kemudian mungkin dia akan mengurung pelayan itu di kamar agar dia bisa kabur. Lexa tahu jika dia sudah egois tapi setidaknya pelayan itu tidak mungkin akan dibunuh Colin sedangkan jika Colin tahu dia masih hamil, maka Colin akan berusaha membunuh bayi mereka lagi. Ia tidak ingin meminta bantuan Sienna lagi karena Sienna sudah cukup menderita karena dirinya. Ting...tong...ting...tong... Pintu terbuka dan seorang pelayan masuk. "Nona Lexa, aku datang mengambil piring kosong." "Ya, masuklah dan bisakah kamu sekalian membersihkan kamarku?" "Baik, Nona." Saat pelayan itu masuk ke kamar, Lexa segera menguncinya di dalam. "Nona, apa yang Anda lakukan?" "Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini," ucap Lexa dan bergegas keluar dari suite itu tidak memedulikan teriakan pelayan itu. Lexa sudah menghapal namanya jika dia dipecat karenanya. Ia akan meminta seorang kenalannya untuk memberikan pekerjaan pada pelayan itu. Bekerja di hotel ini selama ini membuat Lexa lumayan mengenal banyak orang. Lexa bergegas menuju lift dan memencet tombol kemudian menunggu dengan cemas. Akhirnya denting suara lift terdengar dan Lexa merasa senang. Saat pintu lift terbuka dirinya hanya bisa terbelalak ngeri karena di sana sudah berdiri Colin di dalam lift dan menatap marah padanya. Ia memundurkan langkahnya ketakutan dan dirinya berusaha berjalan menjauh dari Colin. "Kamu mau ke mana, Lexa?!" geram Colin marah dan bergegas mengejarnya. Saat akhirnya berhasil menangkap Lexa, Colin mengendongnya dan membawanya kembali ke suite. "Tidak!" jerit Lexa dan berusaha memberontak. "Aku mohon lepaskan aku, Colin. Biarkan aku pergi," "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, selamanya kamu akan menjadi milikku." Saat berada di depan pintu, Colin menurunkan Lexa untuk membuka pintu dan dirinya terus memeluk erat pinggang Lexa agar tidak kabur. "Masuk!" perintah Colin dan menarik tangan Lexa saat Lexa tidak menurutinya. Colin menatap Lexa dan berjalan mondar mandir, sesekali matanya menatap perut Lexa yang saat ini lebih terlihat karena pakaiannya tidak seperti biasanya. "Apa kamu hamil?" Wajah Lexa memucat dan dirinya diam tidak menjawab. "Jawab aku!" bentak Colin marah. Lexa bergeming dan hanya berjengit mendengar suara Colin. "Baiklah jika kamu tidak mau menjawabnya, aku akan membawamu ke rumah sakit." "Tidak!" jerit Lexa semakin memucat dan menjauh dari Colin sambil menyentuh perutnya melindungi. "Berapa bulan?" tanya Colin tajam. "Enam," cicit Lexa pelan. "Bagaimana mungkin?!" "Aku mohon Colin biarkan aku melahirkannya," pinta Lexa memelas. "Katakan bagaimana mungkin?!" "Dokter tidak membunuhnya karena merasa kasihan padaku." "Jadi kalian semua membodohi aku?!" tanya Colin menggelegar. "Aku mohon jangan sakiti anakku. Kamu boleh melakukan apa pun padaku tapi jangan menyakitinya." "Baiklah. Kamu boleh melahirkannya, dengan satu syarat." "Apa itu?" "Aku mau kita menikah." "Apa? Tidak...tidak...tidak!" jerit Lexa menggelengkan kepalanya. "Kamu bisa memilih Lexa, menikah denganku dan kamu boleh melahirkannya. Atau menolak tawaranku dan kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi." "Aku_" Lexa memikirkan semuanya. "Kenapa? Kenapa kamu ingin menikahiku?" "Karena jika kita menikah, selamanya kamu akan jadi milikku dan aku tidak mau anakku terlahir sebagai anak haram." Lexa menatap Colin dan menilai apakah laki-laki itu jujur atau sebenarnya malah merencanakan sesuatu untuk menyakitinya. "Baiklah," ucap Lexa setuju karena dia memang tidak punya pilihan lain. "Istirahatlah. Aku akan menyiapkan semuanya. Besok kita akan menikah." "Hmmm," ujar Lexa dan beranjak pergi ke kamar membuka pintu untuk pelayan yang dikurungnya. "Maafkan aku," ucap Lexa saat pelayan itu akhirnya keluar. "Tidak apa-apa, Nona. Maafkan aku tidak bisa membantu Anda selama ini," bisiknya. "Terima kasih," ucap Lexa. Saat pelayan itu bergegas pergi dari kamar, Lexa kemudian masuk ke dalam kamar. *** Saat Lexa meninggalkannya, Colin tersenyum dengan gembira. Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuknya. Semalam dia begitu putus asa dan menyesal karena sudah membunuh anaknya dan dia bahkan berharap bisa mengulang waktu. Tapi ternyata sejak pertama anaknya masih hidup. Sekarang Lexa sudah mau berbicara dengannya dan dirinya merasa sangat senang. Dia sangat ingin membuat Lexa kembali tersenyum padanya dan dia akan melakukan apa pun agar itu semua bisa terjadi. Colin beruntung tadi berkas yang di butuhkannya tertinggal, jika tidak mungkin dia akan kembali kehilangan Lexa dan bahkan mungkin kali ini selamanya. Dia kemudian keluar dan menemui stafnya untuk menyiapkan pernikahan mereka besok. Mulai besok Lexa akan menjadi istrinya dan dia sungguh tidak sabar lagi. Dia baru kembali ke kamar saat malam tiba. Selesai mandi dia membaringkan tubuh lelahnya di samping Lexa dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Colin tahu jika Lexa masih tertidur hingga dia mengusap-ngusap perut wanita itu. Tendangan kembali dirasakannya dan dia merasa sangat gembira. Maafkan Papa yang pernah ingin membunuhmu. Setelah memikirkan hal itu, Colin bisa tidur dengan tenang dan nyaman. Dirinya juga sudah menghubungi mamanya tadi agar hadir di pernikahannya. *** Keesokan harinya perlahan Lexa membuka matanya dan merasakan sebuah lengan yang memeluk tubuhnya. Dengan pelan tangan itu terus mengusap perutnya dan terus turun menuju kewanitaannya. "Selamat pagi," bisik Colin dengan suara serak. Lexa menangkap tangan Colin yang terus turun ke bawah merayapi perutnya. "Hentikan!" bisik Lexa. "Kenapa?" "Aku lapar," ucap Lexa sedikit malu. "Baiklah," ujar Colin bangun dan memesan makanan untuk mereka berdua. "Sebentar lagi makanan akan datang dan kita bisa___" "Aku mandi dulu," ucap Lexa dan bergegas kabur dari sana sebelum Colin menyelesaikan ucapannya. Colin hanya bisa tersenyum simpul melihat Lexa yang bergegas kabur darinya. Dengan santai dirinya berbaring di ranjang dan menunggu Lexa keluar. Saat wanita itu keluar dengan rambut dan kulitnya yang masih basah, Colin terpesona melihatnya dan gairahnya langsung bangkit. Bersabarlah, Colin. Bergantian dengan Lexa yang keluar, Colin segera masuk ke dalam untuk mandi dan saat dirinya keluar bel berbunyi dan makanan mereka tiba. "Ayo...makan, Lexa." "Hmmm," ucap Lexa dan duduk di meja makan. Saat aroma makanan hinggap di hidungnya, rasa mual Lexa langsung timbul kembali dan bergegas dirinya berlari ke kamar mandi. "Apa kamu baik-baik saja?" "Aku tidak suka bawang," rengek Lexa manja. "Maafkan aku, aku akan meminta mereka membuatkan yang baru dan tanpa bawang." Colin lupa jika kemarin dirinya sempat meminta koki menggunakan bawang untuk mencari tahu apakah Lexa memang hamil. "Ya," ucap Lexa. Dengan sigap Colin menggendongnya dan membawanya kembali ke sofa. Lexa membaringkan kepalanya di bahu Colin dan menikmati bermanja-manja di sana. Perpaduan bau kulit dan wangi sabun Colin membuat Lexa merasa tenang dan perutnya tidak bergejolak lagi hingga dia semakin menyurukkan wajahnya di leher Colin. "Lexa!" geram Colin. "Hmmm..." "Hentikan!" "Tapi aku suka wangimu, mualku jadi hilang," ucap Lexa di leher Colin. Colin hanya bisa pasrah saat Lexa terus menciumi lehernya. Bahkan dia bisa merasakan jika kejantanannya sudah sangat menegang saat ini. Dia tidak bisa seenaknya lagi mengajak Lexa bercinta saat tahu jika wanita itu hamil. Dia tidak mau sesuatu terjadi pada bayi mereka karena dia tidak ingin kehilangan diri Lexa lagi. Walau beberapa bulan ini tubuh Lexa bersamanya tapi jiwa wanita itu begitu jauh darinya. Sekarang Colin sadar jika Lexa pasti takut dia mengetahui tentang bayi mereka. Colin selama ini mengira jika Lexa selama ini membencinya karena membunuh anak mereka. Colin mengalihkan pikirannya kembali pada Lexa yang masih mencium lehernya. Dirinya menghembuskan napas lega saat bel kembali berbunyi, pertanda jika makanan Lexa datang. Jadi dia bisa melepaskan Lexa dari lehernya, membawa Lexa kembali ke meja makan dan membuka pintu. "Ayo...makan." Dengan bersemangat Lexa makan makanan di depannya karena dirinya memang merasa sangat lapar sekali. "Gendong," ucap Lexa pada Colin saat mereka sudah selesai makan. Colin menatap heran pada Lexa karena tidak biasanya wanita ini bersikap begitu manja padanya tapi dia bahagia karena Lexa tidak mendiamkannya lagi seperti biasanya. Dirinya bersyukur karena kali ini memilih pilihan yang tepat. "Gendong, Colin," ucap Lexa lagi. Mau tidak mau Colin menurutinya dan menggendongnya. Saat sampai di sofa Lexa tidak mau turun dari pangkuannya dan kembali mencium leher Colin dengan perlahan. Bahkan kali ini dia duduk mengangkang di pangkuan Colin. "Bercintalah denganku," pinta Lexa dan mulai mencium bibir Colin. Lexa terus mencium laki-laki itu hingga Colin merasa akan meledak karena gairah. Dengan tergesa-gesa Lexa membuka celana Colin dan mengeluarkan kejantanannya, kemudian ia memasukkannya ke dalam kewanitaannya dan saat milik Colin masuk ke dalam dirinya sepenuhnya, Lexa mulai bergerak naik turun dan menjadikan bahu Colin sebagai pegangannya. Sampai akhirnya geraman terdengar dari mulut Colin dan rintihan kenikmatan keluar dari mulut Lexa dan dirinya hanya bisa berbaring lemas di atas Colin. Lexa tidak tahu apa yang terjadi padanya. Setelah Colin tahu tentang kehamilannya dan dia tidak perlu ketakutan lagi, dirinya seketika berubah jadi manja dan tidak tahu malu seperti ini. "Ayo...kita harus segera ke rumah sakit." Sesaat Lexa terpukul mendengarnya. "Kamu sudah berjanji," lirih Lexa dan air mata seketika muncul di kedua matanya. "Ssst...aku mau memeriksakan bayi kita, bukan mau membunuhnya," ujar Colin menangkup wajah Lexa dan menghapus air matanya dengan lembut. Lexa terdiam dan menatap mata Colin dan dia tahu jika laki-laki itu mengatakan yang sebenarnya. "Maafkan aku karena sudah salah paham tapi bagaimana dengan pernikahan kita?" "Kita akan tetap menikah tapi nanti malam." "Baiklah." Dengan bersemangat Lexa berganti baju dan saat selesai mereka segera berangkat ke rumah sakit. Lexa sudah tidak sabar lagi ingin melihat anaknya karena selama ini dia tidak pernah melihatnya. "Mr. Donovan," panggil dokter yang kemarin menolong Lexa dengan wajah pucat saat mereka kembali muncul di hadapannya. "Jadi kamu menipuku?!" geram Colin. Seketika wajah dokter itu semakin memucat. "Apakah kali ini__?" "Tidak, Dokter," ucap Lexa bahagia karena tahu apa yang dipikirkan dokter itu. "Kami ingin memeriksanya kali ini dan Colin sudah mengizinkan aku melahirkannya. Aku sangat berterima kasih kepada Anda," ucap Lexa dan tersenyum sangat bahagia hingga Colin terpukau melihatnya bahkan dokter juga seketika ikut tersenyum melihat kebahagiaan Lexa. "Ayo...kita lihat bayi kalian." Lexa kemudian berbaring di ranjang dan suster mengoleskan gel pada perutnya. Lexa menangis bahagia saat pertama kali melihat bayinya di layar USG saat kehamilannya sudah besar. Dulu bayinya hanya berbentuk sebuah titik saja, sekarang semua organ tubuhnya sudah berbentuk. "Itu bayiku?" "Iya, ini bayi Anda." Dokter kemudian menjelaskan bagian-bagian tubuh bayinya dan saat memperlihatkan semua itu, anaknya bergerak dan Lexa begitu bahagia hingga menangis. Ia memberanikan diri menatap Colin dan dia bisa melihat jika Colin juga menatap terpaku di layar bahkan Lexa melihat jika mata laki-laki itu berkaca-kaca sebelum dia memalingkan wajahnya. "Bayi kalian sehat sekali dan sangat aktif. Aku akan memberikan tambahan vitamin karena Anda sepertinya sangat kurus sedangkan bayi Anda begitu sehat." "Terima kasih, Dokter," ucap Lexa dan menerima resep yang dokter berikan padanya. Lexa berjalan pergi dengan cepat meninggalkan Colin. "Mr. Donovan," panggil dokter tersebut. Colin menghentikan langkahnya dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan dokter itu. "Jagalah dia baik-baik, aku tahu Anda mencintainya dan aku tidak menyesal sudah membohongi Anda. Aku bahkan rela jika Anda menghancurkanku karena pengorbananku tidak akan sia-sia hingga bisa membuat Nona itu tersenyum begitu indah dan bahagia." Colin melangkah pergi setelah mendengarkan apa yang ingin dikatakan dokter itu. Dirinya menyusul Lexa yang sejak tadi terus tersenyum dengan gembira sambil mengusap perutnya. Satu jam kemudian mereka sampai kembali di suite dan Colin membiarkan Lexa beristirahat karena malam ini mereka akan menikah. Colin sudah mengirimkan helikopter untuk menjemput orang tua Lexa dan juga menjemput mamanya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD