Saat sampai di suite, Lexa langsung pergi ke kamar dan tidur, ia tak peduli akan keberadaan Colin, dirinya lega karena laki-laki itu tak datang menghampirinya.
Keesokan harinya ia terbangun memikirkan bagaimana caranya agar ia tak perlu makan karena jika ia makan dan mencium bau bawang mungkin dia akan mual lagi. Jika sampai itu terjadi maka Colin akan tahu jika dia masih hamil.
Lexa tersentak kaget saat Colin membuka pintu dan menatapnya.
"Makanan untukmu sudah di antarkan, aku harus kembali ke Sydney karena ada yang harus aku lakukan. Nanti malam baru aku akan pulang," ujar Colin dan menghampiri Lexa.
Lexa tak menggubris ucapan Colin. Ia menatap Colin tajam dan dengan cepat ia menghindar saat melihat laki-laki itu menghampirinya hingga Colin menghentikan langkahnya dan berbalik meninggalkannya. Dirinya lega saat laki-laki itu pergi.
Sewaktu terdengar suara pintu depan ditutup , dengan bergegas ia menghubungi Sienna menggunakan telepon genggam yang dibelinya juga sebelum kembali kepada Colin.
"Sienna."
"Lexa! Apa kamu baik-baik saja?"
"Ya, Sienna. Maaf, aku kembali butuh bantuanmu tapi jika kamu tidak bisa membantuku, aku akan mengerti."
"Jangan pernah katakan hal itu lagi padaku, Lexa! Atau aku akan benar-benar marah padamu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menolak membantumu. Sekarang katakan apa yang bisa aku bantu?"
"Maaf. Apa kamu masih bekerja di hotel ini?"
"Ya, aku sangat ingin keluar tapi jika aku keluar aku tidak bisa menjagamu walau tidak banyak yang bisa aku lakukan."
"Terima kasih, Sienna. Jika Colin memesan makanan untukku lagi dapatkah kamu memastikan tidak ada bawang di sana? Karena aku akan mual seketika saat mencium bau bawang."
"Apa kamu masih hamil? Aku dengar dia sudah membawamu ke rumah sakit tadi."
"Ya, seorang dokter dan suster membantuku. Mereka berbohong pada Colin bahwa aku sudah kehilangan anakku. Jadi Colin tidak akan memaksaku mengugurkannya lagi."
"Baiklah. Aku akan memberitahu bagian dapur."
"Terima kasih, Sienna. Aku harus segera menutup telepon karena aku takut Colin akan segera kembali dan tolong kirimkan makanan untukku sekarang karena aku tak mungkin bisa memakan makanan dari Colin atau dia akan tahu jika aku masih hamil."
"Baiklah, aku akan segera meminta seseorang membawakan makanan untukmu. Jaga dirimu baik-baik, Lexa."
"Ya, Sienna. Aku berhutang banyak padamu."
Setelah menelepon Sienna, Lexa lega karena sementara dia bisa terlepas dari satu masalah. Dia hanya harus mencari cara agar bisa menjaga anak ini sampai lahir ke dunia.
"Mama, akan menjagamu, Sayang," ucap Lexa mengusap perutnya dan memiliki semangat baru.
***
Colin baru kembali dari Sydney dan saat jauh dari Lexa dia sempat merindukan wanita itu.
Colin masuk ke dalam kamar dan menemukan Lexa sedang terpaku tidak menyadari kehadirannya.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Colin saat sampai dan menemukan makanannya tidak tersentuh.
Lexa mengalihkan tatapannya pada Colin tapi tidak menjawabnya. Dia tidak mau berbicara dengan Colin lagi.
"Aku akan memesan makanan untuk kita."
Lexa masih tidak menggubris perkataan Colin dan saat Colin memintanya makan dia langsung menurutinya dan ia bersyukur karena tidak ada aroma bawang di makanannya. Sepertinya Sienna sudah menjalankan permintaannya. Air mata Lexa mengalir karena begitu lega.
Dengan refleks Colin menghapus air mata Lexa tapi ia menghindari sentuhannya dan memandangnya tajam.
Sesaat tadi Colin terpaku melihat air mata menuruni mata Lexa dan tanpa di sadarinya dengan refleksdia sudah menghapus air mata itu. Dia bisa merasakan jika Lexa terasa berbeda tapi dia yakin tidak lama lagi wanita itu akan melupakan semuanya dan seks pasti akan mengembalikan Lexa seperti dulu lagi.
"Ayo...kita tidur," ucap Colin.
Tubuh Lexa kaku saat mendengarnya tapi mau tidak mau dia mengikuti Colin ke kamar. Saat laki-laki itu membaringkannya di ranjang dia hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Saat Colin menciumnya, dia tidak membalas atau pun menolak. Dirinya hanya diam saja dan tidak peduli.
Hingga akhirnya Colin menyerah dan hanya berbaring diam memeluk tubuh Lexa yang kaku di dalam pelukannya.
Akhirnya setelah tengah malam, Lexa bisa tidur juga.
Keesokan harinya Lexa merasakan Colin kembali menyentuhnya dan menciumnya dengan perlahan. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak merespon sentuhan laki-laki itu dan mengigit bibirnya agar tidak mendesah. Hingga darah mengucur dari bibirnya dan walau pun mencapai o*****e, Lexa berusaha tidak memperlihatkannya walaupun harus sekuat tenaga mengigit bibirnya.
Lima bulan berlalu dan Lexa masih belum menemukan cara agar Colin melepaskannya pergi. Dirinya padahal tidak mengubris Colin dan menganggapnya tidak ada. Bahkan dia sama sekali tidak berbicara dengan laki-laki itu lagi sejak dari rumah sakit karena dia tidak mau Colin tahu jika dia masih hamil.
Saat Colin bercinta dengannya ia akan berusaha tidak bereaksi tapi suatu hari dia akhirnya menyerah dan tidak bisa menahan desahannya atau pun jeritannya saat mendapatkan o*****e tapi walau pun dia menikmatinya ia tidak membiarkan Colin mendekatinya, hanya saat mereka bercinta saja Lexa akan membiarkan Colin dekat tapi jika tidak bercinta Lexa akan menganggap Colin tidak ada dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Kadang-kadang Lexa menangkap tatapan yang Colin berikan padanya. Sejak hari itu ia memang tidak pernah melawan atau pun memperlihatkan emosinya pada Colin. Dia tidak tahu apa yang mungkin akan Colin lakukan saat tahu dia masih hamil. Jadi ia memilih menutup rapat-rapat hatinya bahkan mulutnya.
Karena postur tubuhnya yang kurus dan kecil hingga bahkan ketika usia kandungannya enam bulan, Colin tidak menyadarinya. Lexa sangat bersyukur karenanya.
Saat ini Lexa sedang duduk di ruang tamu bersama Colin dan dirinya membuka majalah yang ada di meja. Setidaknya Colin menyediakan majalah, jika tidak, mungkin dia akan gila. Dirinya seperti tahanan saja, hanya saja dengan penjara yang sangat mewah.
Lexa tersenyum gembira saat melihat foto bayi yang lucu. Dirinya tidak sabar lagi menantikan kelahiran bayinya. Tapi seketika dia merasa cemas takut jika Colin akan mengetahuinya.
Ia benar-benar kehabisan waktu dan dia tidak bisa meminta tolong Sienna karena dia tidak mau temannya itu terkena masalah lagi karenanya. Tapi dirinya sungguh kehabisan ide. Saat membalik-balikkan kembali majalah itu dia kembali menemukan produk-produk bayi dan mata Lexa berbinar-binar melihatnya. Seulas senyum kembali tersungging di bibir Lexa dan seketika dia kembali sedih karena seharusnya sebentar lagi dia sudah bisa mempersiapkan kelahiran bayinya tapi hal itu tidak mungkin.
Ia terus membolak-balikkan majalah itu dan matanya kembali berbinar-binar saat terpampang kembali foto-foto bayi-bayi dengan berbagai pose. Dirinya kembali tersenyum bahagia melihatnya dan akhirnya ia merasakan jika dia diperhatikan dan dia mengangkat tatapannya menatap Colin yang menatapnya dengan serius. Seketika senyum menghilang dari wajah Lexa dan dirinya bahkan memucat.
Semoga dia tidak tahu penyebab aku tersenyum. Kenapa kamu bodoh sekali, Lexa?
Lexa menutup majalah itu dan beranjak pergi dari sana untuk masuk ke dalam kamar. Dirinya memang gampang kelelahan sekarang ini dan dia bahkan tidak boleh menolak jika Colin ingin bercinta dengannya karena ia tidak ingin laki-laki itu curiga karena hal apa pun. Bahkan Lexa selalu mengenakan pakaian longgar agar perutnya tidak tampak.
Lexa berbaring di ranjang dengan tegang karena ingat tatapan Colin padanya tadi. Aku sungguh ceroboh.
Lexa menegang saat pintu dibuka dan dia tahu jika Colin juga sudah menyusulnya masuk. Sepertinya sekarang saatnya dia harus melayani Colin kembali.
Lexa bisa merasakan ranjang yang bergerak pertanda jika Colin sudah naik ke atasnya. Dengan perlahan Colin meraihnya agar menghadapnya dan Colin menatapnya tajam. Lexa hanya bisa terdiam di tempatnya dan tidak berani memalingkan wajahnya.
Apa yang dia inginkan sebenarnya? Apa dia tahu?
"Apa kamu tidak akan berbicara padaku selamanya, Lexa?" tanya Colin menatap kedua mata Lexa.
Lexa hanya menatap Colin dalam diam. Dirinya begitu ingin jika Colin kembali seperti dulu tapi dia tahu itu mustahil dan selama Colin masih merupakan laki-laki yang tidak dikenalnya maka ia tidak ingin berbicara dengannya.
Ia memejamkan mata dan memilih tidak menjawab pertanyaan Colin. Ia bisa merasakan bibir Colin yang menyentuhnya dengan perlahan dan begitu lembut. Seketika air mata mengalir di kedua mata Lexa. Ia begitu merindukan Colin yang bersikap lembut padanya tapi ia tahu jika saat ini Colin hanya berpura-pura karena keesokan harinya laki-laki itu akan kembali bersikap dingin.
Colin menghentikan ciumannya dan menempelkan kepalanya pada kepala Lexa.
"Aku merindukan suaramu, aku merindukan senyummu dan aku begitu merindukan keceriaanmu. Bahkan aku merindukan caci makimu padaku. Apa yang harus aku lakukan agar semua itu bisa kembali padamu?"
Lexa ingin menjawabnya tapi dia sudah terlalu sering dikecewakan oleh Colin dan dia sama sekali tidak ingin kecewa lagi, lagi pula dia harus berakting membenci Colin hingga laki-laki itu tidak akan curiga.
Tanpa Lexa sadari setetes air mata mengalir di kedua matanya, ia mengangkat tangannya ingin menyentuh Colin tapi kemudian dia membatalkannya.
Tidak, aku tidak boleh membiarkannya mendekat.
Akhirnya Lexa berpaling dan membelakangi Colin kembali. Dirinya menegang saat Colin meraihnya dari belakang dan secepat mungkin Lexa menutup perutnya untuk menghalangi tangan Colin yang akan menyentuh perutnya. Saat Colin diam saja dan hanya memeluknya, dengan berdebar-debar Lexa menunggu apakah Colin akan bercinta dengannya? Saat menunggu beberapa saat dan Colin hanya diam saja sambil terus memeluknya. Lexa akhirnya bisa rileks dan kemudian mereka tidur.
Colin terbangun saat merasakan sesuatu bergerak di tangannya. Dia membuka matanya dan terus merasakan gerakan itu.
Apakah Lexa yang sedang menyentuh tanganku?
Saat Colin merabanya dia menyadari jika bukan tangan Lexa yang disentuhnya melainkan perut Lexa.
Kemudian Lexa berbalik dan tidur terlentang. Dia menatap perut Lexa yang terus bergerak dan kadang-kadang berhenti. Dia merasa bingung kenapa perut Lexa bisa bergerak. Dia terus menatapnya dan saat ini perut Lexa kembali diam, sama sekali tidak bergerak lagi. Dengan penasaran dirinya kembali meletakkan tangannya di sana dan perut Lexa kembali bergerak. Saat itulah Colin menyadari jika perut Lexa tampak sedikit membuncit. Dia terkejut saat tiba-tiba Lexa menepis tangannya dan bergegas bangun menuju ke kamar mandi.
Dia masih berusaha mencernanya.
Apa Lexa hamil lagi? Tapi bukankah dia sudah minum pil? Tapi_
Colin menepis pikirannya dan kemudian keluar kamar untuk mandi di kamar mandi lain dan kemudian memesan makanan mereka.
Saat dia selesai mandi sudah menunggu Lexa di sofa dan tampak begitu pucat. Colin terus menatap pada perut Lexa tapi kemudian ia menutupnya dengan bantal menghalangi pandangannya.
Bel pertanda makanan mereka sudah tiba dan bergegas Colin membuka pintunya. Saat makanan tiba Colin mencium bau makanan Lexa dan dia tahu jika tidak terdapat aroma bawang di sana tapi dia masih tidak ingin percaya karena dokter sudah mengatakan jika semuanya sudah dituntaskan.
Selesai makan Colin berganti baju kerja karena hari ini dia harus hadir di sebuah pertemuan.
"Aku harus pergi sebentar."
Lexa hanya menganggukkan kepala menanggapinya dan dia merasa lega saat Colin tidak mengatakan apa pun tapi dia tahu jika Colin sudah mulai curiga.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^