Perlahan Lexa membuka matanya dan saat kesadaran menghinggapinya dia sadar semua sudah terjadi dan dia sudah kehilangan anaknya.
Hiks...hiks...hiks...
"Tidak!"
Lexa menangis tersedu-sedu dan air mata mengalir dengan deras di pipinya.
"Kamu sudah bangun?"
"Aku membencimu!" teriak Lexa saat memandang wajah Colin.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Colin Akiva Donovan dan aku akan membuatmu menyesali semuanya!" jerit Lexa histeris.
"Aku tidak peduli," ucap Colin dan kemudian berlalu pergi dari sana.
Lexa menangis tersedu-sedu saat Colin meninggalkannya. Dirinya berusaha turun dari ranjang mengambil ransel yang untungnya diletakkan di kamarnya. Dia sengaja membawanya tadi saat Colin membawanya ke rumah sakit ini.
Lexa mengambil pisau lipat yang di belinya sebelum bertemu Colin tadi. Dengan berurai air mata dia mengambil pisau itu dan menatapnya hampa.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Colin saat hatinya merasa tidak tenang dan dia kembali melihat Lexa.
"Jangan mendekat!" jerit Lexa.
"Aku mengabulkan keinginanmu Colin Akiva Donovan. Ini bukan yang kamu inginkan? Melihat aku mati hingga kamu berhasil membalaskan dendammu padaku. Selamat kamu berhasil menghancurkan aku dan aku harap kamu tidak akan menyesal saat mengetahui kebenarannya," sambung Lexa saat Colin berhenti dan ia terus terisak serta mulai mengarahkan pisau pada lengannya.
"Jika kamu mati, aku akan menghancurkan orang-orang yang kamu pedulikan."
"Aku tidak akan tahu jika aku sudah mati," ujar Lexa hampa.
Colin semakin ketakutan melihatnya dan saat Lexa lengah dia perlahan mendekati Lexa.
Lexa begitu terkejut saat pisau itu sudah direbut darinya dan dirinya hanya mengeluarkan sedikit darah saja.
"Tidak!" jerit Lexa berusaha memberontak dari dekapan Colin yang saat ini berteriak memanggil dokter. Lexa memukul d**a Colin dengan membabi buta karena dia membenci sentuhan laki-laki yang sudah membunuh anaknya.
Setelah dokter datang dan menangani Lexa, akhirnya Lexa kembali tenang.
Colin menatap Lexa yang saat ini kembali tidak sadarkan diri.
Colin menatap Lexa yang terlihat begitu pucat dan hati Colin tidak merasa senang sama sekali atau pun puas melihat kehancuran Lexa. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini tapi dia sama sekali tidak merasa bahagia.
"Jaga dia! Jika sesuatu terjadi padanya, kalian tahu akibatnya," ancam Colin dan melangkah pergi dari ruangan itu meninggalkan Lexa di tangan dokter dan suster yang menanganinya.
***
Lexa terbangun dan menemukan dirinya sendirian saja. Tangisnya kembali pecah saat kembali mengingat semuanya. Tangis sedu sedan kembali keluar dari bibir pucatnya. Erangan tangis penderitaan karena kehilangan yang dirasakannya membuat orang yang mendengarnya bisa ikut merasakan penderitaannya.
Saat rasa sakit itu terus meningkat walau pun air mata yang ditumpahkannya begitu banyak tetap tidak bisa membuat ia merasa lebih baik. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang hingga sebuah pikiran gila terlintas di benaknya. Cara agar dia bisa menyusul bayinya tercinta.
Lexa berusaha turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar menuju ke bagian atap gedung rumah sakit ini.
"Dokter... nona tadi berjalan ke atap gedung," ucap suster yang menangani Lexa tadi.
"Kenapa kalian tidak mencegahnya?"
"Karena dia membawa pisau yang di ambilnya dari peralatan kita."
"Ayo...cepat kita harus mencegahnya."
"Aku sudah menelepon Mr. Donovan untuk datang."
***
Ponsel Colin berbunyi dan dengan cepat dia mengangkatnya saat tahu jika rumah sakit yang menghubunginya.
"Mr. Donovan segera datang ke rumah sakit, saat ini Ms. Audree berada di atap rumah sakit. Dia ingin kembali bunuh diri."
Colin bergegas berlari keluar dari ruang rapat yang saat ini sedang di pimpinnya hingga membuat semua orang terkejut melihatnya.
Saat sampai di rumah sakit dia bergegas berlari ke atas rumah sakit tapi di sana sudah sepi jadi dia kembali berlari ke ruang rawat Lexa. Dirinya lega saat melihat Lexa masih berbaring di sana. Colin mendekat untuk mengecek Lexa dan dia semakin lega saat Lexa masih hidup.
Dengan derap langkah kesal Colin mendatangi ruangan dokter yang merawat Lexa.
"Apa kalian mempermainkan aku?!" raung Colin saat sampai di hadapan dokter yang merawat Lexa.
"Kami tidak bermain-main dengan nyawa orang lain, Mr. Donovan!" ucap dokter itu marah.
"Ms. Audree memang berusaha bunuh diri dengan terjun dari atap gedung ini tadi tapi kami berhasil membujuknya," sambung Dokter lagi.
"Aku harap Anda menjaganya baik-baik dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya jika Anda tidak ingin menyesal kemudian, maaf saya ada pasien lain yang harus saya periksa," ucap Dokter itu merasa marah dan bergegas meninggalkan Colin di sana sendirian untuk memikirkan semuanya.
Colin segera menuju kamar Lexa dan menunggunya di sana. Kali ini dia tidak akan membiarkan Lexa sendirian lagi, jika perlu dia akan menjaganya setiap saat.
"Aku mau pulang," ucap Lexa saat terbangun dan melihat Colin berada di dekatnya.
"Apa dokter sudah mengizinkanmu pulang?"
"Ya."
"Baiklah."
Dengan perlahan Lexa berusaha bangun dan turun dari ranjang. Dia menolak saat Colin ingin membantunya. Lexa kemudian berjalan perlahan keluar dari kamar dengan Colin yang mengikutinya di belakang. Saat Colin berusaha menyentuhnya lagi, maka dia akan terus menghindarinya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Lexa marah akhirnya karena sudah lelah menghindari Colin yang terus berusaha menyentuhnya.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^