Lima hari sudah berlalu tapi Colin masih belum mendapatkan kabar apa pun tentang keberadaan Lexa. Semakin hari dia semakin marah dan melampiaskan semuanya pada karyawannya. Bahkan Sienna masih tidak mau mengatakan di mana Lexa berada dan orang-orang yang dia minta mencari Lexa tidak lebih baik.
***
Lexa saat ini sedang sibuk membantu di toko bunga milik Camellia. Tokonya lumayan besar dan ramai hingga mereka lumayan sibuk. Sudah lima hari dia berada di sini dan tidak mendengar kabar apa pun dari Sienna.
"Kak, apa Sienna menelepon?"
"Tidak! Kenapa?"
"Entahlah aku mencemaskannya," ujar Lexa.
"Maukah Kakak meneleponnya dan menanyakan apa terjadi sesuatu karena dia tidak akan memberitahuku jika aku yang bertanya," sambung Lexa kemudian.
"Baiklah," ucap Camellia dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sienna dan saat sambungan telepon terhubung, Camellia menyalakan loudspekernya.
"Halo, Kakak. Apa terjadi sesuatu pada Lexa?"
"Lexa baik-baik saja dan apakah kamu juga baik-baik saja karena sudah lima hari kamu tidak memberikan kabar?"
"Maaf Kak, aku sedang sibuk bekerja."
"Sienna apa kamu baik-baik saja?"
"Aku_, tidak! Jangan ambil itu dariku, aku mohon Jordan!"
"Sienna! Sienna!" teriak Camellia panik mendengar entah apa yang terjadi pada adiknya itu.
Seketika wajah Lexa memucat saat mendengar teriakan Sienna. Apa yang sudah Colin lakukan pada Sienna? Jordan? Bukankah Jordan pengawal Colin yang datang bersamanya?
"Lexa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Camellia semakin cemas saat melihat wajah Lexa yang pucat.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Hati kakak tidak tenang. Kakak, harus mencari Sienna."
"Kak, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku butuh menelepon seseorang."
"Ya, tentu."
Dengan cepat Lexa menerima ponsel itu dan menekan nomor seseorang yang sudah di hapalnya.
"Halo, siapa ini?" Jawab suara seorang laki-laki di seberang.
"Mr. Devon," panggil Lexa.
"Lexa, kamukah itu?"
"Ya."
"Kenapa kamu menelepon?"
"Aku hanya ingin tahu, apakah Sienna baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu. Sejak Mr. Donovan memanggilnya ke suitenya, aku tidak bertemu dengannya lagi karena yang aku dengar Mr. Donovan mengirimnya ke Sydney untuk bekerja di hotelnya yang ada di sana. Tanpa kalian berdua aku sungguh kerepotan."
"Terima kasih untuk infonya, Mr. Devon. Maaf karena sudah menyusahkan Anda," ucap Lexa dan menutup sambungan telepon.
Hari itu Lexa tidak bisa berkonsentrasi dan tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
"Lexa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Camellia cemas karena Lexa kembali tidak bisa makan dan dirinya juga begitu mencemaskan Sienna karena ponsel Sienna tidak aktif lagi setelah tadi.
"Kakak, aku akan pergi mencari Sienna besok dan mungkin tidak akan kembali ke sini. Kakak di rumah saja."
"Tapi, Sienna memintaku menjagamu."
"Tidak, Kak. Aku takut sesuatu terjadi pada Sienna dan aku rasa itu karena dia menolongku dan jika memang seperti itu, hanya aku yang bisa menolongnya."
Karena Lexa tahu jika tidak mungkin tiba-tiba Colin mengirim Sienna ke Sydney tanpa Sienna berpamitan atau mengatakan apa pun padanya dan Camellia.
"Baiklah, jika seperti itu."
"Terima kasih, Kak," ucap Lexa dan permisi untuk kembali ke kamarnya.
Hingga malam Lexa tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling gelisah di kamarnya karena memikirkan hari esok.
"Kakak, terima kasih karena sudah menerimaku selama enam hari ini. Aku bahagia bisa menjadi adikmu walau hanya enam hari," ucap Lexa berpamitan pada Camellia keesokan harinya.
Camellia menarik Lexa ke dalam pelukannya.
"Selamanya kamu akan menjadi adikku. Datanglah kembali ke sini jika kamu butuh sesuatu."
"Terima kasih," ucap Lexa dan pergi dari rumah Camellia mencari taksi.
Sebelum sampai di hotel, Lexa membeli sesuatu yang dibutuhkannya dan setelah itu dia segera menuju hotel.
"Lexa," sapa semua orang saat melihatnya.
"Lexa!" panggil Devon terkejut saat melihat Lexa yang muncul di hotel ini.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" sambungnya lagi.
"Aku harus menemui Mr. Donovan, apa dia masih berada di suitenya?"
"Ya, dia masih di sana. Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Aku merasa sesuatu terjadi pada Sienna walau pun aku tidak yakin. Jadi aku harus bertemu Mr. Donovan untuk memastikannya," ucap Lexa.
"Mr. Devon, jika nanti Sienna muncul katakan padanya maafkan aku karena aku dia jadi ikut terkena akibatnya dan sampaikan padanya dia adalah teman terbaikku," sambung Sienna.
Devon sedikit merasa ketakutan mendengarnya seolah-olah Lexa sudah siap jika sesuatu akan terjadi padanya.
"Pergilah dari sini Lexa. Sienna pasti baik-baik saja, Mr. Donovan bisa melakukan sesuatu padamu jika kamu nekat bertemu dengannya karena sejak enam hari lalu dia terus mencarimu. Walau pun aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan, tapi aku mencemaskanmu."
"Tidak, Mr. Devon! Aku sudah cukup melarikan diri darinya, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian karena diriku."
"Lexa, jangan pergi!" cegah Devon saat Lexa menuju lift.
"Terima kasih, Mr. Devon karena sudah menerimaku bekerja di sini dulu," Lexa bergegas masuk ke dalam lift setelah mengucapkan hal itu.
Devon semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi tapi tidak ada yang bisa diperbuatnya karena itu adalah keputusan Lexa.
Saat sampai di suite Colin, Lexa mempersiapakan dirinya sebelum menekan bel. Setelah siap dia menekan bel dan menunggu.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Lexa menatap Colin yang tampak kacau di hadapannya.
"Sepertinya kamu akhirnya tahu nasib temanmu karena sudah membantumu," ucap Colin dingin dan membuka pintu dengan lebar agar Lexa bisa masuk tapi Lexa tetap berdiri di tempatnya.
"Sekarang aku sudah di sini, Colin. Di mana Sienna?"
"Aku meminta Jordan menginterogasinya sejak enam hari lalu mengenai keberadaanmu tapi dirinya tetap bungkam hingga hari ini dan aku tidak tahu apa yang sudah Jordan lakukan padanya."
"Lepaskan dia!"
"Tidak akan! Aku akan membiarkan Jordan melakukan apa pun padanya sesuka hati Jordan."
"Jika kamu tidak melepaskannya, aku akan pergi dari sini."
"Kamu tidak akan bisa pergi, Lexa."
"Apa kamu yakin? Karena aku sudah pernah pergi dua kali darimu."
Colin mengeretakkan giginya mendengar ancaman Lexa.
"Baiklah," ucap Colin sambil masuk dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Jordan.
"Lepaskan dia!" perintah Colin.
"Aku akan tetap di sini sampai Sienna keluar dari kamar itu," ucap Lexa terus berdiri di depan pintu kamar Colin sambil menatap pintu kamar Jordan.
Kemudian Lexa mendengar pintu yang terbuka dan Sienna keluar dari sana menatap padanya.
"Tidak, Lexa!" jerit Sienna dan bergegas berlari ke suite Colin.
"Maafkan aku, Sienna!" teriak Lexa kembali yang saat itu sudah ditarik masuk ke dalam kamar oleh Colin.
Pintu suite Colin terdengar digedor dari luar saat Sienna sampai di sana.
"Lexa, tidak! Kamu tidak boleh kembali pada laki-laki kejam itu," isak Sienna.
"Ingat Lexa kamu sudah berjanji, jika kamu ingkar aku akan kembali menyakiti sahabatmu itu," ancam Colin berbisik di telinga Lexa.
Lexa hanya diam dan tidak menjawab apa pun. Air mata terus mengalir di matanya tanpa bisa dia bendung. Apalagi Sienna terus menggedor pintu itu dan tidak mau menyerah hingga Colin menelepon orang-orang suruhannya dan meminta mereka membawa Sienna dari sana. Baru gedoran itu berhenti sepenuhnya.
"Sekarang saatnya kamu menerima hukumanmu," ucap Colin setelah Sienna sudah pergi.
Colin kemudian menggendong Lexa ke kamar dan membuka bajunya dengan tergesa-gesa. Lexa hanya bisa pasrah menerima perlakuan Colin padanya. Dirinya tidak bisa menahan jeritan saat o*****e menghampirinya dan Colin juga mendapatkan kenikmatannya.
"Sekarang pakai bajumu, kita akan ke rumah sakit. Aku ingin segera menyingkirkan anak itu."
"Tidak!" jerit Lexa dan segera bangun dan menjauh dari Colin.
"Aku mohon biarkan aku melahirkannya," pinta Lexa.
"Tidak! Aku tidak mau kamu yang melahirkan darah daging dan pewarisku. Sekarang berpakaianlah."
"Kenapa kamu begitu kejam, Colin?"
"Kamulah yang membuatku seperti ini."
"Baiklah jika kamu ingin membunuh anak ini," ucap Lexa segera berpakaian dan dirinya benar-benar sudah menyerah.
Dengan paksa Colin menyeret Lexa sepanjang jalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan dirinya hanya bisa menangis dan terus mengusap perutnya.
Saat mereka sampai di rumah sakit, Lexa terus menangis terisak dan dia tidak peduli jika semua orang menatapnya.
"Singkirkan bayi di dalam kandungannya!" perintah Colin saat mereka masuk ke dalam ruang dokter.
"Apa kalian sudah memikirkannya?"
"Ya."
Lexa hanya semakin terisak dengan keras mendengarnya. Jika Colin merengut anak ini darinya, dia tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu dan lebih baik dia juga mati.
"Oh...baiklah. Apa Anda yakin, Mr. Donovan?"
"Apa aku terlihat bercanda?!"
"Baiklah. Suster bawa nona ini."
"Tidak! Tidak!" lirih Lexa dan menatap Colin dengan memelas yang tetap tidak peduli akan permohonan Lexa.
"Dokter aku punya permintaan," ucap Lexa pelan.
"Apa?" tanya Dokter itu sedikit merasa iba.
"Tolong sekalian singkirkan aku di dalam prosesnya, jangan selamatkan aku!"
"Jika dia mati, kalian akan kehilangan pekerjaan," ucap Colin marah.
"Jika aku kehilangan anak ini, maka kamu hanya akan membawa pulang mayatku saja Colin, aku bersumpah!" teriak Lexa penuh kebencian. Laki-laki ini bukanlah laki-laki yang dulu dicintainya dan ia tahu jika itu adalah kesalahannya.
"Ayo, Dokter," ucap Lexa berusaha tegar karena dia sudah siap untuk mati saat anaknya juga mati.
Lexa berbaring di ranjang dan dokter memberikan obat bius untuknya.
"Aku mohon biarkan aku juga mati," ucap Lexa dan kemudian tidak sadarkan diri.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^