8

1230 Words
Lexa perlahan membuka matanya dan menyadari jika saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Colin sedang berdiri di depan jendela menatap keluar. Ia bisa melihat raut keras dan dingin di wajah Colin. Dia pasti sudah tahu jika aku hamil. Aku harus melarikan diri. Dengan cepat Lexa kembali berpura-pura tidur saat ponsel Colin berbunyi dan dirinya bisa mendengar jika Colin di minta menghadiri sebuah rapat. Ia tetap berpura-pura tidur saat Colin menghampirinya. "Aku akan kembali nanti," ucap Colin dan mengecup kepala Lexa pelan. Saat Colin sudah pergi, Lexa membuka matanya dan hatinya pedih karena kelembutan yang baru saja Colin berikan padanya tapi dia tahu jika itu mustahil karena Colin masih membencinya. Saat ia yakin Colin sudah pergi dari rumah sakit ini. Dengan perlahan ia turun dan mengintip situasi di luar kamarnya. Sewaktu dirasakannya aman, ia berjalan perlahan dari kamarnya untuk keluar dan menuju telepon di rumah sakit itu. "Suster, apa aku boleh menghubungi keluargaku? Mereka tidak tahu aku di sini." "Ya, tentu." Lexa bergegas menghubungi Sienna untuk menjemputnya di sini. "Halo." "Sienna." "Lexa." "Maukah kamu datang ke rumah sakit xxx untuk menjemputku." "Tentu." Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Sienna datang. "Terima kasih, Sienna karena sudah mau datang." "Apa yang terjadi, Lexa? Kenapa kamu bisa berada di sini?" "Aku hamil dan aku harus bersembunyi dari Colin, aku tidak akan mengugurkan anak ini. Tolong bantu aku, Sienna." "Tentu. Ayo kita segera pergi dari sini sebelum dia kembali." "Kamu benar." Dengan cepat Lexa dan Sienna membayar biaya rumah sakit dan segera pergi dari sana. Lexa meminta Sienna membawanya ke apartemennya. Di sana Lexa mengemas semua barang-barangnya dan juga tabungannya yang lumayan untuk menghidupinya selama beberapa tahun. Saat sudah selesai, ia menatap apartemennya untuk terakhir kalinya dan segera pergi dari sana. "Ayo...Sienna," ucap Lexa saat masuk ke dalam mobil Sienna. "Kita akan ke mana?" tanya Sienna. "Aku tidak tahu," ucap Lexa karena dia memang tidak punya tempat tujuan. Dia tidak mungkin kembali ke rumah orang tuanya karena Colin akan menemukannya jika dia di sana dan kedua orang tuanya tidak akan menerimanya. Sontak hati Lexa kembali merasakan perasaan pedih di dalam hatinya. "Aku akan membawamu ke rumah kakak perempuanku." "Apa aku tidak merepotkan, Sienna?" "Tentu saja tidak, kakakku pasti akan senang sekali." "Baiklah. Terima kasih, Sienna. Maaf jika menyusahkanmu." Setelah berkendara selama satu jam akhirnya mereka tiba di rumah kakak Sienna. "Ayo...Lexa." "Baik." Sienna menekan bel dan tampak seorang wanita yang sedikit lebih tua dari Sienna membuka pintu. "Sienna, apa yang kamu lakukan di sini?" "Kakak," panggil Sienna dan memeluk kakaknya erat. "Kakak, perkenalkan ini temanku, Lexa." Lexa mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya saat kakak Sienna menjabat tangannya dan Lexa tahu jika nama kakak Sienna adalah Camellia. "Masuklah." Mereka semua masuk dan kemudian duduk menunggu saat Camellia mengambilkan minuman. "Ada apa, Sienna? Tidak biasanya kamu datang di hari seperti ini." "Temanku membutuhkan tempat tinggal. Apa boleh dia tinggal di sini?" Camellia menatap Lexa dan dirinya bisa melihat jika Lexa tampak pucat. "Aku akan membayar sewa," ujar Lexa karena tidak ingin tampak seperti orang tidak tahu diri. Camellia tersenyum mendengarnya. "Tidak perlu, kamu boleh tinggal di sini sampai kapan pun, kamu hanya perlu membantuku di toko bunga saja. Apa tidak apa-apa? Tentu saja aku akan mengajimu." "Dengan senang hati aku akan membantu tidak perlu digaji karena aku tidak mau jadi beban dengan tinggal di sini secara gratis." "Teman Sienna adalah temanku juga." "Terima kasih, Ms. Everleigh." "Panggil aku Camellia." "Tapi itu nampak tidak sopan. Jika boleh aku akan memanggil Anda kakak seperti Sienna." "Ya, tentu," ujar Camellia tersenyum. "Terima kasih, Kak. Kamu memang Kakak terbaik sedunia," ucap Sienna tersenyum. Tawa renyah keluar dari bibir Camellia dan Sienna kemudian pamit karena dia harus segera kembali bekerja. Setelah kepergian Sienna, Camellia membawa Lexa ke kamar yang akan ditempatinya. "Ini kamarmu dan saat kamu sudah selesai membereskan barang-barangmu, turunlah untuk makan." "Terima kasih, Kak," ucap Lexa. Setelah ditinggal sendirian, Lexa mulai membereskan barang-barangnya, saat sudah selesai dirinya kembali teringat akan Colin. Dia tahu laki-laki itu pasti akan sangat marah. Jadi Lexa memutuskan dia harus terus bersembunyi. Lexa kemudian turun ke bawah dan menuju ke dapur. "Makanlah, Lexa." "Ya, terima kasih," ucap Lexa sambil mulai duduk di meja. Saat bau makanan hinggap di hidungnya, seketika rasa mual menghampirinya. Dengan cepat ia bangun dan berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. "Apa kamu hamil, Lexa?" tanya Camellia saat Lexa kembali. "Ya," jawab Lexa memilih jujur walau pun Camellia mungkin akan memandang rendah dirinya. "Hmmm...Kakak lihat bayimu tidak menyukai makanan ini. Apa ada yang kamu inginkan?" Mata Lexa berkaca-kaca mendengarnya karena ternyata Camellia tidak memandang rendah padanya. "Aku akan makan, aku hanya tidak suka aroma bawang saja." "Ini, tidak terdapat bawang di dalamnya," ujar Camellia menyodorkan makanan lain pada Lexa. Dan ia bisa mencium jika itu memang benar. Dengan pelan ia makan dan tanpa ia memuntahkannya. "Istirahatlah, besok kamu bisa mulai bekerja." "Terima kasih, Kak." "Hmmm..." Lexa kemudian segera pergi dan masuk ke kamarnya. *** Colin meraung marah saat sampai di ruang rawat Lexa dan tidak bisa menemukannya di sana. Dirinya semakin marah saat semua orang tidak bisa menemukan Lexa di rumah sakit itu. "Jika kalian tidak bisa menemukan istriku, aku akan menuntut kalian," raung Colin di hadapan CEO rumah sakit itu. Colin sengaja tidak membantah ucapan dokter jika Lexa adalah istrinya karena dia tidak ingin orang-orang bertanya. "Kami akan segera menemukannya, Mr. Donovan," ucap pria itu mencoba menenangkan Colin. "Aku beri kalian waktu satu jam." Dengan cepat CEO itu mengirim semua orang untuk mencari tahu tentang Lexa dan tiga puluh menit kemudian mereka berhasil mencari tahu. "Bagaimana?" tanya Colin saat CEO rumah sakit itu mendatanginya kembali. "Istri Anda sudah keluar dari rumah sakit ini dijemput oleh salah satu keluarganya." "Keluarga?" tanya Colin marah. "Dia tidak punya keluarga di sini!" bentak Colin. "Maaf, Mr. Donovan hanya itu yang kami tahu dan yang kami tahu sebelum dirinya dijemput, dia sempat menelepon ke hotel Anda," ujar CEO itu ketakutan karena dia sering mendengar kekejaman Colin walaupun dirinya sedikit heran kapan Colin menikah tapi dia sama sekali tidak ingin ikut campur jika tidak ingin kemarahan Colin semakin menjadi-jadi. "Jika aku tidak bisa menemukannya dalam waktu satu minggu, maka akan aku pastikan rumah sakit ini hancur," ucap Colin dingin dan berlalu pergi dari sana. Sepanjang perjalanan kembali ke hotelnya Colin begitu marah karena Lexa kembali meninggalkannya dan kali ini bahkan tidak meninggalkan apa pun. Colin sedikit cemas karena bisa melihat betapa pucat Lexa tapi Colin menepis rasa cemas itu. Saat ini dia harus fokus menemukan Lexa terlebih dahulu dan dia tahu jika seseorang di hotelnya pasti yang membantu Lexa. Saat sampai di hotel, Colin segera memanggil pengawalnya, Jordan, dan meminta dia menyelidiki siapa orang yang paling dekat dengan Lexa di hotel ini. Saat menemukan jika Sienna adalah teman baik Lexa. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil Sienna untuk datang ke kamarnya. Dia juga meminta Jordan untuk datang ke kamarnya. "Mr. Donovan," panggil Sienna saat sampai di suite atasannya yang sudah menunggunya bersama Jordan. "Apakah kamu yang membantu Lexa kabur dari rumah sakit?" "Aku tidak mengerti apa maksud Anda," ucap Sienna pura-pura bingung. "Tidak usah berpura-pura, Sienna. Aku tahu pasti jika kamulah yang sudah membantunya karena hanya dirimu saja teman baiknya di hotel ini," ucap Colin dingin. "Baiklah jika kamu tidak ingin mengakuinya dan mengatakan di mana Lexa berada, aku akan membuatmu mengatakannya," sambung Colin dingin. "Jordan!" "Ya, Mr. Donovan." "Bawa dia ke kamarmu dan buat dia mengatakan di mana Lexa berada terserah dirimu akan mendapatkannya dengan cara apa, aku tidak peduli." Jordan tersenyum mendengarnya. "Tidak!" jerit Sienna mencoba untuk kabur karena dia bisa melihat apa yang akan Jordan lakukan padanya. Jordan kemudian menangkap Sienna, memanggulnya di bahunya dan membawanya keluar dari suite itu. Colin hanya tersenyum melihatnya. Colin tahu jika Jordan tertarik dengan Sienna dan dia tidak peduli apa yang akan Jordan lakukan pada gadis itu. Setelah kepergian Jordan dan Sienna. Colin meminta orang-orangnya untuk mencari tahu keberadaan Lexa. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD