Cahaya matahari membangunkan Lexa dari tidurnya dan dengan cepat dirinya duduk tegak, melihat sekitarnya.
Di mana aku?
Lexa lega saat menyadari jika dia hanya sendirian di kamar ini. Lexa melihat selembar kertas di atas meja nakas dan dia mengambilnya.
Aku harus pergi untuk mengurus pekerjaan. Makanan sudah tersedia di luar. Makanlah karena saat aku kembali nanti, aku akan kembali menikmatimu.
Lexa mendengus membacanya. Tanpa dia menitipkan pesan pun, Lexa tahu apa yang akan terus terjadi padanya di kamar ini.
Dua jam kemudian Lexa kembali berbaring untuk membunuh rasa bosannya. Dua minggu terkurung di sini tanpa bisa melakukan apa pun membuat ia mulai merasakan rasa bosan. Dirinya berguling ke kanan dan ke kiri karena begitu bosan hingga akhirnya dia lelah dan memejamkan mata.
Ia bermimpi Colin mencium lembut tubuhnya. Memagut lembut payudaranya sambil jari-jarinya bermain di kewanitaannya. Ia membiarkan desahan lolos dari bibirnya, lagi pula ini hanya mimpi.
Lexa membiarkan dia menikmati semuanya di dalam mimpinya, kelembutan Colin padanya begitu dirindukannya dan dia tahu di kehidupan nyata hal ini tidak mungkin terjadi karena laki-laki itu membencinya.
Lexa mengikuti irama Colin saat laki-laki itu memasuki tubuhnya dan memompa tubuh Lexa dengan perlahan hingga o*****e menghampirinya dan Lexa menjerit.
"Aku mencintaimu!" jerit Lexa melengkungkan tubuhnya saat o*****e menghantamnya.
Lexa membuka kedua matanya dan begitu terkejut saat menemukan Colin sedang menatapnya dengan pandangan dingin sambil memasuki tubuhnya.
"Colin, kapan kamu pulang?"
"Bermimpi sangat indah, Lexa? Aku akan menghukummu karena memimpikan laki-laki lain."
Dengan itu Colin terus memompa tubuh Lexa dan Lexa baru menyadari jika dirinya tadi tidak bermimpi.
Malam itu Colin terus bercinta dengan Lexa hingga dia kelelahan dan memohon untuk berhenti. Perlakuan Colin padanya dan o*****e yang terus didapatnya membuat tenaga Lexa terkuras habis.
Sejak hari itu Colin kembali dingin dan tak tersentuh. Bahkan dia hanya bercinta dengan Lexa dan tidak berbicara padanya. Seminggu kemudian Lexa semakin merasa frutrasi.
"Apa yang kamu inginkan dariku sebenarnya, Colin? Kapan kamu akan melepaskan aku?!" jerit Lexa frustrasi.
Colin berlalu pergi dari sana dan tidak mengubris teriakan Lexa.
"Colin!" jerit Lexa kembali dan terus mengejar Colin.
"Makanlah," ujar Colin.
Lexa duduk dengan kesal di sofa dan menunggu Colin membuka makanan untuknya. Seketika rasa mual mulai menghinggapi Lexa saat melihat makanan dihadapannya dan dengan cepat dia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Saat selesai dia hanya terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Apa yang terjadi padaku? Apakah aku masuk angin?
Lexa memucat saat dirinya sadar jika dia sudah telat haid dan itu sudah hampir satu minggu.
Tidak! Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh hamil. Jangan, Nak, jangan hadir di perut Mama, bukan karena Mama tidak menginginkanmu tapi hidupmu akan sengsara jika menjadi anak kami dan mungkin Papa akan membunuhmu hanya demi menyakiti Mama.
Lexa mengusap perutnya dan dia tahu jika sebuah kehidupan sudah hadir di dalam perutnya, dia bisa merasakannya.
Aku tidak boleh membiarkan Colin tahu dan aku harus segera kabur dari sini sebelum dia mengetahuinya.
"Lexa," panggil Colin sambil mengetuk pintu.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Ya," jawab Lexa gugup dan segera keluar.
"Benar kamu baik-baik saja? Karena wajahmu kelihatan pucat."
"Ya, aku baik-baik saja."
"Ayo...makan."
"Tidak! Aku tidak enak badan, Colin."
"Kamu harus makan karena aku ingin dirimu punya tenaga saat melayani aku."
"Tapi_."
"Makan, Lexa atau aku yang akan memaksamu," ujar Colin dingin.
Dengan terpaksa Lexa mengikuti Colin keluar dan mencoba memakan semuanya. Dirinya berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak memuntahkannya hingga suapan terakhir dan dia merasa tidak sanggup lagi dan dengan cepat kembali lari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.
Colin menatap Lexa yang sibuk memuntahkan semua makanannya dan dirinya sedikit khawatir karena wanita itu begitu pucat. Mungkin dia harus meminta dokter memeriksa Lexa.
Colin masuk ke dalam kamar mandi dan mengangkat Lexa yang berada di dalam pelukannya.
"Colin, aku tidak sanggup hari ini, aku mohon," rengek Lexa karena tahu jika Colin ingin kembali bercinta dengannya.
Colin terus diam dan hanya menggendong Lexa ke ranjang. Dirinya kemudian membaringkan Lexa di ranjang dengan perlahan dan menyelimutinya.
"Istirahatlah."
Sesaat Lexa tertegun mendengarnya dan merasa lega karena Colin tidak memaksanya untuk bercinta saat ini.
"Terima kasih," ucap Lexa berbisik.
Colin keluar dari kamar dan menelepon dokter untuk datang ke kamarnya.
Lexa hanya bisa berbaring diam di ranjang sambil mengusap perutnya yang masih rata hingga dia mendengar suara percakapan.
"Siapa itu?" tanya Lexa bingung saat mendengar suara laki-laki lain berbicara dengan Colin. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang laki-laki paruh baya masuk bersama Colin.
"Aku tidak butuh dokter, Colin," ucap Lexa saat sadar jika ternyata Colin memanggil dokter untuk memeriksanya. Dia tidak boleh membiarkan dokter memeriksanya karena Colin akan tahu jika dia hamil dan dia tidak mau Colin memaksanya mengugurkan anaknya.
"Wajahmu sangat pucat, Lexa. Dokter akan memeriksamu."
"Aku tidak mau," tolak Lexa.
"Maaf, Dokter. Aku baik-baik saja, Mr. Donovan hanya terlalu khawatir saja."
"Siapapun yang melihatmu akan tahu jika kamu tidak baik-baik saja!" teriak Colin kesal.
"Jika kamu memaksaku aku akan kabur dari sini," ujar Lexa kaku.
"Baiklah," ucap Colin dan akhirnya menyerah dan meminta dokter untuk pergi.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Colin tajam setelah ditinggalkan oleh dokter.
"Aku tahu kamu tidak mungkin akan bisa kabur dari sini. Apa kamu menyembunyikan alat untuk kabur di kamar ini?" tanya Colin tajam dan mulai mengedarkan pandangannya mencari-cari.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun," ucap Lexa.
Colin berjalan berkeliling kamar itu mulai mencari-cari hingga saat dirinya berusaha mencari di lemari, Lexa langsung bergegas bangun dan menghalanginya.
"Jangan!" teriak Lexa.
"Pinggir, Lexa," ucap Colin karena tahu jika di sanalah Lexa menyembunyikan apa pun itu.
"Tidak!"
Dengan sekali tarikan, Lexa menyingkir dari hadapan Colin dan dia segera memeriksa di sana dan menemukan sebotol obat.
"Apa ini? Apa kamu ingin bunuh diri dengan obat ini?" tanya Colin dan kemudian membaca tulisan di kemasan obat itu.
Wajahnya memerah marah saat sadar jika itu adalah pil kontrasepsi.
"Dari mana kamu mendapatkannya?!" teriak Colin.
Lexa membuang wajah tidak menjawab pertanyaan Colin.
"Baiklah jika kamu tidak mau mengatakannya. Aku akan memecat semua orang di hotel ini dan aku tahu pasti salah satu dari mereka yang membantumu."
"Jangan, Colin! Aku mohon," ucap Lexa sambil menarik Colin agar tidak pergi.
Colin terus berjalan keluar dari kamar dan tidak mengubris permohonan Lexa.
"Colin, aku mohon jangan ganggu mereka. Hanya aku yang kamu benci, jangan ganggu mereka."
"Siapa pun yang membantumu, maka aku juga membencinya."
"Jangan, Colin! Maafkan aku, aku mohon," pinta Lexa memelas dan berusaha terus mengejar Colin walau kepalanya mulai terasa begitu pusing.
Lexa menghentikan langkahnya saat kepalanya terasa benar-benar memutar dan seluruh ruangan itu juga terasa memutar. Lexa mengelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing itu tapi kegelapan malah menghampirinya dan akhirnya ia terjatuh di dalamnya.
Buk!
Colin menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang. Dirinya begitu terkejut saat menemukan Lexa sudah terjatuh di lantai tidak sadarkan diri.
"Lexa!" jerit Colin panik dan segera menghampiri wanita itu. Colin bisa melihat wajah Lexa begitu pucat seolah-olah darah meninggalkan tubuhnya.
"Lexa," panggil Colin lagi tapi tidak ada gerakan apa pun dari Lexa. Dengan cepat dia mengangkatnya dan membawanya keluar ke rumah sakit.
Saat sampai di rumah sakit dengan gelisah Colin menunggu di luar, sedang dokter sibuk memeriksa Lexa di dalam.
"Bagaimana, Dok?" tanya Colin saat dokter yang memeriksa Lexa keluar.
"Selamat, Mr. Donovan. Istri Anda hamil."
"Hamil," bisik Colin pelan.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^