Rara langsung bangun dari tidurnya, napasnya tidak beraturan dengan d**a bertaluan kencang. Keringat membanjiri daerah pelipis dan leher Rara, matanya langsung berembun yang tak lama kemudian terisak pelan sambil kembali berbaring--memeluk Alex yang berada di sisinya erat. Alex yang mendengar isak tangis itu pun ikut terbangun. Dia memijat pangkal hidungnya, kemudian terkesiap melihat bahwa Raralah yang menangis di atas dadanya. Air mata Rara membasahi kulitnya. Ada apa dengan wanitanya? "Lho, Sayang. Kamu kenapa? Kenapa nangis? Ada yang sakit, kamu lapar, atau baru saja bermimpi buruk?" cecar Alex khawatir bukan main. Dia bahkan perlahan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang. Dia membawa Rara ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu sambil berusaha m

