Menghitung kepergian

2169 Words
"Kak Selma!"   Selma yang ingin membuka pintu loker ia tunda setelah mendengar suara adik kelas di sampingnya sekarang. Elara. Mata Selma menyipit curiga.   Elara muncul di dekatnya dengan senyum semanis mungkin. Selma mengkerutkan dahinya, bingung juga dengan kedatangan Elara di waktu pulang sekolah ini. Tidak biasa. Atau bisa dibilang ini pertama kalinya Selma bertatapan langsung dengan adik kelasnya ini.   Elara yang terkenal dengan predikat buruk di SMA Pertiwi. Elara a.k.a mantan pacar Ardi. Itu yang hanya Selma tahu.   "Ada apaan?" tanya Selma sambil bersedekap d**a. Matanya lalu mengarah pada seragam Elara yang ketat. Terlalu ketat malah.   Selma menggeleng-gelengkan kepalanya. "Make seragam itu—"   "Kak, gue ke sini bukan mau dengerin ceramah lo tentang seragam gue kok," potong Elara cepat. Memang bukan niatnya menemui Selma untuk diberi pidato tentang bagaimana seharusnya berseragam baik dan benar.   Selma mendengus mendengarnya. Tatapan setajam mata elang ia berikan pada adik kelas di depannya ini.   "Ada kiriman dari Kak Ardi buat lo," kata Elara, ekspresinya berubah kembali, gadis itu menunjukkan senyum lebarnya. Senyum ramah yang dibuat-buat.   Mendengar nama Ardi, Selma juga langsung memperlihatkan senyumannya. Mata gadis dengan rambut pendek itu seketika berbinar. "Apaan tuh? Surat cinta bukan?" tanya Selma tanpa ingin menyembunyikan rasa bahagianya saat ini.   Jelas saja, gebetannya selama dua tahun di SMA Pertiwi akhirnya memberikan Selma sesuatu, entah apa.   Kedua tangan Elara yang berada di belakang punggung, kini terlihat oleh Selma, botol air mineral. "Ini kiriman dari Ardi!" ujar Elara dan membuka tutup botol itu, lalu menyiramkan isinya ke seragam Selma.   Selma mengerjap tidak percaya dengan apa yang telah Elara itu lakukan kepadanya. Demi apa? Ia disiram oleh adik kelasnya sendiri. Tangan Selma terangkat, bersiap untuk menampar Elara.   Tetapi, ada tangan lain yang menahannya. Dimas muncul di waktu yang tepat.   "Jangan pernah lo coba-coba ganggu cowok gue lagi!" kata Elara sebelum diseret paksa oleh Dimas. Senyum kemenangannya muncul, Selma melihat itu.   "Apaan tuh barusan?" tanya Dimas. Mereka berdua sudah berada di pelataran parkir sekolah.   Elara bersedekap d**a, matanya menekuri aspal di bawahnya—enggan melihat mata Dimas saat ini. "Bukan apa-apa," jawab Elara pelan.   Mendengar itu, Dimas berdecak. "Lo nyadar gak sih, Ra sama apa yang udah lo lakuin tadi?"   "Dan apa si Selma sadar juga apa yang dia lakuin sama Ardi?"   "Gara-gara Ardi lagi?"   "Dia kegatelan banget jadi cewek pake ngegoda si Ardi segala! Kalo bisa tadi pengen gue garuk mukanya. Ish!" Wajah Elara sudah terlihat geram sekali.   Dimas memegang pergelangan tangan gadis itu pelan. "Ra, bisa gak sekali-kali lo gak usah ikut campur apa pun yang berkaitan sama Ardi?" Suara Dimas terdengar begitu lembut di telinga Elara.   Mata Elara melihat ke arahnya kali ini. Selalu tatapan penuh harap yang Dimas berikan padanya setiap mereka berpandangan. "Gue masih sayang sama dia, Kak Dimas! Gue masih sayang banget sama dia," jawab Elara yang bukan sama sekali ingin Dimas dengar saat ini.   "Lo harus berenti buat nyuruh gue lupain Kak Ardi, karena itu emang gak ada gunanya. Capek-capekin lo doang." Iya, Dim cuma capek-capekin lo doang. Berenti kenapa sih. Lanjut Elara dalam hati.   Dimas masih memperhatikan wajah Elara lekat-lekat. Lalu, laki-laki itu melepaskan genggaman sepihaknya dan tanpa Elara duga malah Dimas mencium pipinya secepat kilat. Mata Elara terbelalak. "Apaan tuh barusan?!"   Yang ditanya melangkahkan kakinya ke motor hitamnya yang terparkir. "Bukan apa-apa," kata Dimas, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdetak dua kali lipat lebih cepat.   Dimas memukul pelan kepalanya. Anjir, gue kenapa sih?! g****k banget lo, Dim!   ...   Ardi, punya cewek baru gak sih?! batin Elara masih terus melihat ponsel Ardi yang kini sudah berada di tangannya. Dengan bermodalkan kenekatan dan keingintahuan yang tinggi, Elara berhasil mengambil ponsel Ardi yang selalu Ardi letakkan di dalam tasnya. Bel pulang sekolah sudah setengah jam yang lalu terdengar dan Elara sedang berada di mobilnya yang terparkir saat ini. Di dalam sini pasti aman.   Sebut dia gila, karena Elara memang belum mau melepaskan Ardi begitu saja.   Terlihat kini Elara menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat banyak chat masuk dari perempuan yang Elara kenal, tapi Elara tertawa juga saat Ardi tidak membalas ataupun membaca pesan singkat itu dan yang paling terpenting ada tanda mute di setiap chat yang masuk.   "Elara!"   Mendengar suara Ardi, Elara cepat-cepat memasukkan ponsel itu ke dalam saku seragamnya. Kaca jendela mobil, Elara turunkan lagi. "Hei, Kak Ardi." Elara menyapanya dengan senyum lebar. Mencoba menyembunyikan kegugupannya itu. Ardi menemukan Elara di sini dari mana coba? Itu yang dipikirkan Elara sekarang. Ardi terlihat sudah memakai hoodie maroon-nya dengan helm yang berada di tangan kiri.   Ardi terlihat semakin mendekat ke arah Elara. Elara berpura-pura bersikap sesantai mungkin.   "Mana hape gue?!" tembak Ardi langsung. Tangan kanannya juga sudah terulur di depan gadis itu.   Elara mengernyit. "Hape lo? Emang di gue apa?" Elara justru bertanya balik. Ia mengalihkan pandangannya selain mata Ardi. Walaupun Ardi terlihat ganteng banget, Elara harus menghindar. Ia tidak mau Ardi tahu ia berbohong. Laki-laki itu sedang menahan marah, yang anehnya malah terlihat begitu menarik.   Dan sekarang Elara merasakan Ardi membungkukkan tubuhnya untuk mensejajarkan wajahnya dengan Elara. "Gue tau elo ngambil dari tas gue, pas gue lagi di lapangan. Gue butuh banget hape gue, mana siniin?!" Meskipun terdengar berbisik, suara Ardi itu terkesan begitu tajam.   "Jangan nuduh gue deh. Mana berani gue buka-buka tas lo." Elara sekali lagi, menghindari kontak mata dengan Ardi.   Ardi berdecak, ia menegakkan tubuhnya lagi. Dan matanya kini mengarah pada saku seragam Elara. Di sana terlihat ponsel berwarna hitam. Ardi yakin itu ponselnya.   "Ih, apaan sih ngeliatin ke arah sini!" Tersadar diperhatikan, Elara menutupi saku seragamnya itu.   "Itu hape gue kan? Lo gak bisa ngelak lagi. Kembaliin!"   Elara malah menggelengkan kepalanya.   Ardi mendengus melihat itu. "Mau gue sendiri yang ambil hape gue, atau lo aja yang ambil?"   Ardi sangat-sangat membutuhkan ponselnya sekarang juga. Ia harus menghubungi Sydney yang—entahlah, ia sepertinya sedang membutuhkan Ardi saat ini juga. Ardi harus memastikan. Ia juga akan membertahukan Sydney bahwa ia pulang telat hari ini.   Elara dengan cepat mengeluarkan ponsel hitam itu dari sakunya dan memberikannya kepada Ardi. "Gue punya alasan kenapa gue ngambil hape lo. Banyak banget sih cewek-cewek yang nge-chat! Apalagi dari si Selma."   Ardi tidak ingin menyahuti perkataan Elara itu. Ia lalu berdecak lagi. "Elara, semua kontak gue kok ilang? Chat juga gak ada. Lo apus semuanya?" Ardi beralih melihat Elara dengan pandangan tidak percaya.   "Yaaaa... gue cuma ngapus-ngapusin yang gak penting kok," elak Elara.   "Lo tau password hape gue?" tanya Ardi lagi. Ia membuka satu persatu aplikasi chattingnya itu.   "Kan pas kita pacaran lo ngasih tau gue. Eh ternyata belom lo ganti." Dengan polosnya Elara menjawab seperti itu.   Ardi mengetikkan pesan singkat. Elara melihat ke layar ponsel Ardi, ingin tahu siapa yang membuat Ardi sampai sebegininya. Ardi langsung menyentuh dahi Elara untuk menjauh. "Jangan ngeliat ke sini," ujar Ardi dan melanjutkan lagi mengetikkan pesan.   "Siapa sih yang lo SMS?"   "Bukan jadi urusan lo lagi kan?" balas Ardi tatapannya belum terlepas dari layar ponselnya itu.   "Jahat banget! Udah sih gak usah nge-chat cewek-cewek."   Ardi menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu. Ia lalu memasukkan kembali ponselnya setelah mengirimkan pesan untuk Sydney. Lalu, Ardi menunduk sedikit untuk memperhatikan Elara lekat-lekat. "Jangan pernah coba-coba ngambil hape gue lagi ya." Peringatannya tidak akan mempan untuk Elara.   "Bodo ya, Ar." Dan yang Elara lakukan setelah mengatakan itu adalah menarik leher Ardi untuk mendekat ke arahnya sampai tidak ada lagi jarak. Iya, Elara mencium bibir Ardi dan siapa sangka juga dengan perlakuan Elara yang tidak terkesan terburu-buru dan lembut itu akhirnya Ardi membalasnya juga. Elara tersenyum senang di sana.   Itu ciuman awal mereka setelah putus. Elara harus memberitahukan Ardi betapa Elara merindukannya. Tangan kanan Elara mengusap belakang leher Ardi dan menariknya seakan masih ada sekat di antara mereka berdua saat kenyataannya mereka sudah benar-benar menempel.   Dan Elara yang lebih dulu melepaskan pagutannya itu. Hangat napas Ardi masih bisa Elara rasakan di wajahnya. Kemudian, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ardi yang baru Elara sadari ada noda bekas liptint-nya. Elara melihat wajah Ardi dari sedekat ini. Ardi masih diam hingga Elara meniup kedua matanya. "Ardi, seharusnya lo gak perlu ngebales. Jadi, ketauan deh sekarang."   Fak!   ...   "Jangan dibuka."   Sydney terlonjak kaget mendengar suara Ardi di belakangnya. Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ardi yang sekarang ada di hadapannya persis. "Tadi aku—"   Sydney menahan napasnya setelah dilihatnya Ardi semakin mendekat. Tatapan laki-laki itu lurus melihat ke arah matanya. Tangan kanan Ardi terangkat, yang tahu-tahu sudah berada di sisi leher kirinya, Sydney mundur perlahan.   Dan terdengar suara pintu lemari yang berderit. Lalu, Ardi menjauh. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya ke tembok samping. Masih dengan seragamnya yang lengkap bisa dipastikan Ardi baru pulang sekolah.   "Aku bisa jelasin, tadi tuh aku lagi—"   "Gak apa-apa kok, Sydney. Kenapa lo jadi ketakutan gitu sih? Santai aja," kata Ardi memotong ucapannya. Senyum laki-laki itu terlihat, Sydney bernapas lega.   "Sori," ujar Sydney menggigit bibir bawahnya.   "Di dalem tuh lemari sebenernya banyak barang-barang bokap. Gue gak suka aja ada yang buka-buka," sahut Ardi. Itu lah alasan mengapa ia cepat-cepat menutup pintu lemari hitam di depannya.   Dari penglihatan Sydney, mata teduh di depannya kini meredup. Apa karena Ardi teringat akan sosok Ayahnya atau apa? Itu yang dipikirkan Sydney.   Lalu, Ardi menggenggam tangannya untuk menjauh dari ruangan itu. Sydney yang tadi memang sedang berjalan-jalan menelusuri apartemen milik Ardi tidak sengaja melihat lemari hitam di pojok ruangan.   Penasaran. Sydney mendekat dan sialnya pintu lemari baru terbuka sedikit, Ardi datang.   "Ini buat lo," kata Ardi dan memberikan sebuah paper bag berukuran kecil kepada Sydney. Gadis itu menerimanya dan duduk di sofa. Ardi ikut duduk di sampingnya.   "Apa ini?"   "Kalo yang ini langsung dibuka gak apa-apa."   Mengikuti ucapan Ardi, tangan Sydney perlahan membuka bungkusan itu dengan pelan-pelan. "Scrapbook sama pulpen?" Kening Sydney mengernyit. Di tangannya kini terdapat buku hitam dengan pulpen bertinta putih.   Ardi mengangguk. "Selama gue lagi gak di sini, di deket lo. Lo bisa nulis semua yang lo rasain atau apa ya? Tulis aja semua yang lo pikirin. Gue gak tau sih itu bakalan membantu atau enggak, tapi seenggaknya lo gak merasa bener-bener—sendiri."   "Atau enggak, mungkin pas lagi bosen lo bisa baca-baca buku gue yang ada di rak sana," ujar Ardi dengan telunjuk yang mengarah pada tumpukkan novel-novel miliknya. "Banyak novel Harry Potter, The Hunger Games dan Jane Eyre, itu favorit gue."   Sydney melihatnya dengan mata yang berbinar. Dan dengan cepat gadis itu memeluk Ardi, erat. "Makasih ya, Ar." Terdengar begitu tulus kata-kata Sydney itu.   Ardi dengan perlahan membalas pelukan Sydney yang tiba-tiba itu. Ini pertama kalinya Sydney memeluknya. "Iya," balas Ardi dengan singkat.   Dan Sydney melepaskan pelukannya itu. "Ah ya, aku juga kangen sama kedua temen kamu itu. Dimas sama Reza."   "Lo masih inget nama temen gue?"   "Ya, mana mungkin aku bisa lupa. Mereka yang aku kenal selain kamu, Ar."   "Lo mau ketemu sama mereka?"   "Mau!"   Mendengar Sydney yang begitu antusias, Ardi tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Ikut gue," ucap Ardi dan bangkit dari sofa. Sydney mengikutinya.   "Lo udah makan ya?" tanya Ardi dan menarik kursi untuk Sydney duduk. Mereka sekarang berada di ruang makan.   Kepala Sydney mengangguk dua kali. "Aku udah makan salad tadi."   "Pasti lo belum kenyang. Nih gue bawain makanan," balas Ardi dan membuka kotak-kotak makanan di atas meja, lalu menuangkannya ke dalam piring-piring kosong.   "Ini masakan rumahan semua, kamu beli?" tanya Sydney dan menyendokkan nasi ke atas piringnya.   Senyum Ardi terlihat lagi, laki-laki itu menggeleng. "Bukan beli sih. Lebih tepatnya dimasakin." Tangan Ardi juga dengan telaten mengambil lauk-pauk itu.   "Oh ya? Sama?" tanya Sydney lagi.   "Orang," jawab Ardi asal. Senyum jailnya yang kini terlihat.   "Ih, aku serius tau nanyanya."   Ardi terkekeh pelan. "Nanti gue kenalin deh sama orang yang masakin ini."   "Beneran?"   Kepala Ardi mengangguk mantap. "Yep!"   Belum sempat sendok di tangan Ardi masuk ke dalam mulutnya, tangan Sydney menahannya. "Berdoa dulu," kata gadis itu, kemudian terlihat Sydney menutup kedua matanya.   Ardi mengerjap. Ia mengikuti Sydney. Berdoa. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal semacam itu. Ya, berterima kasihlah kepada Sydney.   ...   Kedua matanya membaca kembali satu persatu kertas-kertas yang berada di tangannya saat ini. Meneliti dengan baik, agar nantinya tidak ada kesalahan atau apa pun yang bisa saja tertinggal.   Usahanya kali ini harus berhasil. Tidak boleh lagi ada yang menghalangi jalannya. Tidak untuk siapapun.   Celah yang dulu ia buat mungkin sangat berakibat fatal untuk dirinya saat ini. Maka, di hari ini. Kesempatan untuk memperbaiki, tidak akan pernah ia sia-sia kan lagi.   "Semua berkas-berkasnya gak ada yang ketinggalan kan, Van?"   Ivan—laki-laki yang terlihat sedang terburu-buru itu menggeleng. "Enggak ada, Yo! Gue udah periksa berkali-kali."   Yang menjadi lawan bicaranya, Leo, mengangguk-anggukkan kepalanya. Laki-laki yang sedang bersedekap seraya bersandar pada pintu itu masih memperhatikan temannya yang membereskan kertas-kertas di atas meja yang lumayan banyak.   "Lo yakin emang di sini?"   Pertanyaan Leo barusan berhasil membuat Ivan terdiam sebentar. Sebenarnya ada yang terasa mengganjal dipikirannya saat ini. Dan beberapa pertanyaan dengan awalan 'Bagaimana jika' sudah berkumpul di otaknya.   Ivan menghela napas yang terkesan berat, ia lalu duduk di kursi di dekatnya. Matanya melihat ke arah luar balkon. "Gue juga belum yakin, tapi nyoba keberuntungan gak ada salahnya kan, Yo?"   Leo mengangguk lagi. "Gue harap juga ini pilihan yang tepat, Van." Leo diam sebentar dan sebelum ia menutup pintu di dekatnya, laki-laki itu melanjutkan,   "Good luck!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD