"Aku nggak ganggu, kan?"
Kirana—wanita yang sedang berkutat dengan laptop hitam di depannya itu, melihat ke arah pintu yang menampilkan kepala putri semata wayangnya di sana. "Ngapain ngintip di situ? Masuk aja sayang," katanya disertai senyum keibuan yang menenangkan.
Elara muncul dengan senyuman tipisnya dan berjalan mendekat ke arah Ibunya yang sekarang sedang melepas kaca mata ber-frame gold itu. "Mami capek banget ya?" tanya Elara dan berdiri di belakang kursi Kirana. Lalu, memijat pundak Ibunya perlahan.
Elara sengaja pulang dari sekolah tadi langsung pergi ke kantor Ibunya. Ia merasa hanya di dekat Kirana—orang kedua setelah Ardi—ia bisa menumpahkan segalanya yang ia rasakan saat ini. Memang tidak pernah salah, Elara memilih ke sini. Melihat Kirana yang terlihat baik membuat gadis itu merasa ada beban di pundaknya yang sedikit menghilang.
"Biasanya sikap kamu manis kayak gini, pasti mau minta sesuatu. Apaan, El?"
Elara menggeleng mesti tahu Kirana tidak akan melihatnya. Gadis itu kemudian beralih memeluk leher Ibunya. "Aku cuma kangen sama Mami aja, bukan mau minta apa-apa kok," jawabnya dan menutup kedua mata. Terasa nyaman sekali berada di pelukan Ibunya seperti ini.
"Oh ya? Bener cuma kangen? Muka kamu keliatan murung lho, El. Ada masalah apa?" Kirana mengusap lembut tangan Elara di lehernya. Memang benar, wajah Elara kali ini tidak seceria biasanya. Terlihat sangat murung malah.
Elara lagi-lagi hanya menggeleng sebagai jawaban. "Bukan masalah sekolah, kan?"
"Bukan, Mi. Enggak ada masalah di sekolah, aku cuma bete aja di rumah. Jadi, aku mampir ke sini deh." Setelah mengatakan itu, Elara menarik langkah menjauh dari Kirana dan beralih duduk di sofa.
Tangannya membolak-balik majalah bisnis milik Ibunya. Kirana mendekat dan duduk di samping Elara. "Kalo bukan sekolah, apa karena Ardi? Kamu gak berantem kan sama dia?"
"Ya enggak lah, Mi. Emang aku sama Ardi anak kecil main berantem-beranteman."
Kirana tahu pasti ada yang sesuatu yang saat ini menganggu Elara. Sangat tercetak jelas di wajah anak semata wayangnya itu. Kemudian, diambilnya ponsel di atas meja. Kirana mulai mengetikkan pesan singkat.
"Kamu mau makan? Apa gitu?"
Kepala Elara menggeleng.
"Yaudah, kamu di sini dulu. Mami lanjutin kerjaan Mami sebentar dan inget ya, El jangan sering-sering berantem sama Ardi."
"Oke-oke."
Elara mulai merebahkan dirinya di sofa nyaman itu, dan meraih remote tv di atas meja. Dengan mata yang ingin sekali tertutup, dipaksakannya untuk terbuka. Melihat ke arah tv. Hari ini ia merasa benar-benar... lelah.
"Sore, Tante." Suara laki-laki itu sama sekali tidak Elara hiraukan.
"Ardi? Sini masuk!" Kirana melihat Ardi yang melihat Elara sedang terbaring di sofa lalu beralih melihat ke arahnya lagi.
Ardi lalu berjalan mendekat ke depan meja Kirana dan meletakkan amplop cokelat itu di sana. "Ini berkas yang tadi Tante mau, aku gak terlalu lama kan, Tan?" Ardi tersenyum kikuk. Ia kaget menerima pesan singkat dari Kirana yang memerintahkan dirinya untuk mengambil berkas di rumah wanita itu.
Saat itu, Ardi sedang menikmati tidurnya.
"Enggak lama sama sekali kok, Ar. Makasih ya." Kirana tersenyum, Ardi membalasnya.
"Oh ya, satu lagi. Kamu bisa kan temenin Elara ke mana gitu? Dia lagi murung banget soalnya."
Ardi meringis. Tangannya bergerak untuk menyisir rambutnya yang berantakkan ke belakang. "Sebenernya aku—" Tatapannya beralih ke arah Elara yang terbaring di sofa. Ia terdiam sebentar. Dan akhirnya kepala laki-laki itu mengangguk perlahan. "Oke." Anehnya secepat itu Ardi berubah pikiran.
Kirana semakin memperlihatkan senyumannya.
Kemudian, dengan langkah pelannya Ardi langsung menghampiri Elara yang sedang terbaring. "Lo mau ikut gue?" tanya Ardi yang sekarang berada di samping Elara. Jari telunjuknya menekan-nekan dengan pelan lengan gadis itu.
Mendengar pertanyaan Ardi barusan, kepala Elara mendongak. Kemudian, dilihatnya laki-laki itu sebentar dan kepalanya mengangguk pelan. Ia segera bangkit dari sofa.
"Aku pergi sama Ardi dulu, ya Mi. Nanti malem aku tunggu di rumah."
"Iya, hati-hati, Sayang. Hati-hati juga ya, Ar."
"Pasti, Tante." Setelah mengatakan itu, Ardi dan Elara membuka pintu kaca di depan mereka dan keluar menuju lift.
"Gak pernah berubah lo emang," kata Ardi. Mereka berdua sudah berada di dalam lift saat ini.
Mendengar itu, kening Elara berkerut. "Apaan?"
"Minta bantuan sama Mami lo buat deket-deket sama gue," jawab Ardi dan melihat ke arah Elara di sampingnya.
"Gak usah geer. Gue aja gak tau lo bakalan ke sini," sangkal Elara dengan memutar kedua bola matanya setelah itu.
Ardi mendekat. Menatap Elara lekat-lekat. Elara malah menghindar. "Kebiasaan lo kalo mau nyari kebohongan di mata gue. Gak ketemu, kan?" tanya Elara dengan nada mengejek.
"Iya. Enggak ketemu. Ketemunya belek!"
"Ada juga elo, ngaca coba!" sahut Elara.
Ardi melihat ke arah dinding lift. Dan langsung ia mengusap-usap lembut kedua matanya. "Ini karena gue lagi enak-enak tidur di SMS sama Mami lo suruh ngambil berkas di rumah. Aneh banget gak sih? Bisa aja kan Mami lo nyuruh sekretarisnya atau nyuruh Pak Kardi lah supir lo. Pasti ada apa-apanya. Dan bener aja," celoteh Ardi.
Elara di sampingnya hanya mengikuti ocehan Ardi dengan wajahnya yang mengejek. "Kita mau ke mana?"
Pintu lift sudah terbuka, Elara yang lebih dulu berjalan ke arah basement. Ardi menarik seragam belakang Elara pelan, agar mengikuti langkahnya. "Eh eh apa-apaan? Mobil gue parkir di sono!"
"Siapa bilang pake mobil lo? Pake motor gue aja, lebih cepet," balas Ardi. Masih dengan menggiring Elara untuk mendekat ke arah motornya yang sudah terlihat di depan sana.
Tidak seperti biasanya, Elara langsung menurut. Ardi pasti bisa dengan mudah merasakan keanehan dalam diri gadis itu. Elara yang saat ini tidak secerewet biasanya.
Dan selama mereka berjalan mendekati motor Ardi yang terparkir, laki-laki itu terus memperhatikan Elara.
Ardi lalu melepas tangannya yang berada di seragam Elara itu dan mulai menaiki motornya, memakai helm full face-nya juga. Ia melihat ke arah gadis yang sedang tertunduk itu. "Ayo naik!"
"Gue tadi mau ngambil sweater gue di mobil. Dingin nanti di luar, lo tau kan gue alergi dingin." Tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, Elara menjawab seperti itu.
Lantas tanpa berpikir lagi, Ardi langsung membuka jaket jins miliknya dan melemparnya ke Elara—menyisakan kaos hitam polos yang melekat di tubuhnya. "Pake cepetan, terus naek."
Lagi-lagi Elara langsung menurut.
...
Sydney mulai menempelkan foto Ardi dengan bentuk polaroid di scrapbook yang diberikan laki-laki itu seminggu yang lalu. Kemudian, ia meraih pulpen yang berada di dekatnya dan mulai menuliskan kata-kata yang menunjukkan rasa berterima kasihnya pada Ardi.
"Tinggal dua bulan lagi!"
"Jangan pernah tinggalin aku."
"Kamu pergi lama banget, aku kangen."
"Ayo kita jalan-jalan. Kamu yang pilih tempatnya. Bebas ke mana aja, aku ikutin."
"Cepetan pulang. Aku tunggu."
Sydney mengerjapkan matanya berkali-kali. Suara-suara di dalam kepalanya membuatnya pusing. Jari telunjuk dan ibu jarinya memijat pelipisnya pelan. Setelah dirasa pusing di kepalanya berkurang, Sydney bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya ke arah balkon di depan sana.
Sore ini Ardi sedang pergi, entah ke mana. Tetapi sepertinya penting, terlihat laki-laki itu yang pergi dengan terburu-buru.
Hingga jam menunjukkan pukul lima sore pun Ardi belum pulang. Warna merah keemasan di langit sana terlihat begitu jelas. Dan pikiran Sydney sekarang memang dipenuhi oleh laki-laki itu.
"Kalo aja gak ada kamu, Ar. Mungkin aku gak bisa ngeliat pemandangan kayak gini. Sekali lagi, makasih."
Kedua kakinya lalu menjauh dari jendela besar dan menutupnya rapat. Berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu. Langkahnya Sydney perlambat saat melewati rak berukuran besar di sana.
Apartemen Ardi didominasi oleh warna abu-abu dan putih. Sydney juga menyukai warna itu.
Lalu, terlihat pigura berukuran besar. Itu foto Ardi dengan seorang laki-laki yang Sydney yakini adalah Ayahnya Ardi. Foto kedua bersama Dimas dan Reza. Terlihat juga banyak sekali foto-foto vokalist band dari Amerika dan jangan lupakan koleksi buku-buku yang Ardi punya.
Sydney kemudian mengerjapkan kedua matanya saat ia mendengar bel berkali-kali berbunyi. Dengan cepat gadis itu menghampiri pintu hitam di depannya.
Dan yang sekarang terlihat adalah dua laki-laki yang tidak Sydney duga kehadirannya saat ini. Mereka membawa dua bungkusan besar di tangan masing-masing.
Senyuman lebar mereka langsung Sydney balas.
"Dimas? Reza?"
"Hai, Sydney! Nonton bareng yuk?"
...
"Jalan lo lelet banget kayak siput!" Ardi dengan gemasnya menarik ujung jaketnya yang kebesaran di tubuh Elara, pelan. Dengan langkah panjangnya, Ardi mulai berjalan lagi.
Terdengar embusan napas kasar dari mulut Elara sekarang. Gadis itu berhenti melangkah, menghentakkan kakinya sekali. "Ar, jangan narik-narik nih jaket. Gandeng aja!" Elara lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Ardi.
Mendengar itu, Ardi menoleh ke belakangnya. Terlihat Elara masih dengan wajah yang tidak ada ceria-cerianya sama sekali. Kemudian, diraihnya telapak tangan mungil Elara yang kini sudah berada di genggamannya. Mereka berjalan beriringan sekarang.
Ardi menundukkan kepalanya sedikit melihat wajah Elara yang tertutupi rambut panjang sebahunya. Dirinya masih saja menerka-nerka apa penyebab murungnya gadis itu. Terakhir kali Ardi melihat wajah sedih Elara saat dirinya memutuskan hubungan mereka.
Seperti sekarang, perasaan sakit di dadanya masih ia rasakan jika melihat gadis itu tidak seperti biasanya. Ardi merapatkan sedikit tubuhnya pada Elara hingga bahu mereka bersentuhan. Dan genggaman tangannya, ia lepas. Ardi memilih untuk merangkul leher Elara dan mendekatkan kepala gadis itu ke dadanya.
Jika bisa, mungkin Ardi akan lakukan hal ini juga pada masa terpuruk gadis itu bukannya malah menjauh seolah-olah Elara memang bisa menjalani semuanya sendiri. Selalu saja Ardi memenangkan egonya yang besar. Seakan-akan tidak peduli tentang perasaan gadis yang sekarang di pelukannya itu—yang ia kira tidak akan berdampak besar pada dirinya.
"Lo tau kan, Ra gue bukan cowok yang bisa ngebuat cewek sedih jadi ketawa. Begonya gue, gue gak ahli banget soal itu. Gue bingung sekarang harus ngapain kalo lo udah kayak gini," ujar Ardi. Elara masih saja diam. "Jangan sedih gitu dong muka lo," kata Ardi melanjutkan, masih memperhatikan wajah gadis itu.
Taman yang berada tak jauh dari kantor Kirana menjadi pilihan Ardi. Lalu, laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke depan jalan sana—sore di taman kali ini tidak terlalu ramai oleh orang-orang. Hanya ada beberapa anak-anak kecil yang bermain dengan orang tua mereka dan beberapa lansia di kursi roda.
Taman yang biasa Ardi kunjungi untuk sekedar melepas penat atau menghilangkan mood buruknya dengan membaca novel yang baru ia beli atau membaca ulang novel favoritnya. Dan yang lebih sering untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Ardi beralih melihat Elara. Ia menundukkan kembali kepalanya. Agar bisa melihat Elara dengan jelas yang masih bersandar di dadanya itu. "Lo mau es krim?" tanya Ardi, berharap Elara menginginkannya juga.
Kepala Elara menggeleng.
"Lo mau makan sushi kesukaan lo di sana?"
Elara menggeleng lagi.
"McD? Kita makan cheeseburger terus McFlurry-nya empat deh, lo dua gue dua. Mumpung nyokap lo gak tau. Mau?"
Masih sama. Elara menggeleng.
"Makan mie ayam aja yuk? Udah lama kan kita gak makan bareng,"
Kali ini Elara mendongak sedikit dan melihat Ardi dengan senyum tipisnya. Elara rindu laki-laki dengan tingkat perhatiannya yang tidak tanggung-tanggung kepadanya. Yang bisa secerewet ini di dekat Elara dan berbanding balik bila di dekat gadis-gadis lain "Gue harus murung dulu ya, Ar biar lo jadi kayak gini?" tanya Elara akhirnya membuka suara.
"Gak gitu, gue bisa aja kok kayak gini pas lo lagi gak murung juga," jawab Ardi kemudian beralih lagi melihat ke depan jalan sana.
"Kenapa gak dilakuin? Gue makin suka malah Ardi yang kayak gini di deket gue," sahut Elara dengan senyum tertahannya.
Ardi terkekeh pelan. "Itu makanya yang gue takutin," balas Ardi dengan kepala yang mendongak melihat daun kering jatuh dari pohon tinggi di sepanjang jalan.
"Kenapa lo harus takut lo makin disukain sama orang?" tanya Elara lagi.
"Kalo orangnya itu lo, gue takut. Dan lo tau apa alasannya."
Elara menggigit bagian dalam pipinya. Gadis itu meraih tangan Ardi yang berada di lehernya, lalu di genggamnya tangan itu kembali. "Kita sebenernya ini apa sih, Ar? Lo seharusnya jangan ngegantung gue gini dong. Gue mau kepastian sekarang juga, gue gak mau tau!"
Mendengar itu, Ardi mengernyit. Iya. Sebenarnya mereka apa. Sebenarnya Ardi mau mereka bagaimana. Ia berdeham pelan. "Kita.... temen deket?"
Elara mendengus. Jawaban apa itu. "Gue gak mau jadi sekedar temen deket lo!"
"Yaudah temen aja kalo gitu," sahut Ardi santai.
"Apalagi temen. Temen gak ngelakuin hal-hal yang kita lakuin. C'mon perjelas dong. Ajak gue balikan deh!" Senyum Elara terbit saat mengatakan itu. Tetapi, dirinya sudah tahu apa yang akan dikatakan Ardi.
"Entah kenapa sekarang gue lebih suka elo yang murung kayak tadi. Serius." Ardi melepas rangkulannya, tetapi Elara menahannya.
Elara lalu terkekeh pelan mendengar itu. Ardi terlihat memutar kedua bola matanya, dan dengan gerakan cepat Elara berjinjit sedikit dan mencium berkali-kali pipi kiri Ardi. "Eh sori-sori," kata Elara dengan kekehan pelan, saat dirinya melihat lip gloss berwarna pink-nya tercetak samar di pipi Ardi.
Ardi berdecak. "Kebisaan banget sih!"
"Lagian salah sendiri punya muka ganteng, gue kan jadi khilaf," kata Elara masih dengan senyumnya. "Yaudah sini gue apus pake tangan gue. Sori banget hahaha." Tawa Elara masih terdengar saat mengusap lembut pipi kiri Ardi dengan tangannya. Dan bisa dilihat sekarang gadis itu mengusap ujung mata kirinya yang berair. She always cries when she laughs.
Entah ada dorongan dari mana, jari Ardi sudah berada di sudut mata Elara—menghapus sisa air mata gadis itu.
"Jadi, lo kenapa?"
"Huh?" Lalu, Elara tersadar karena jari Ardi yang kini sudah bukan berada di sudut matanya lagi.
"Gue tau lo lagi kenapa-kenapa. Jadi kenapa?" tanya Ardi mengulang. Tatapannya enggan melihat ke arah lain, selain mata gadis itu.
Elara menghela napas pelan. "Gue lagi gak kenapa-kenapa."
Dan dari jawaban Elara barusan, Ardi tahu pasti ada yang disembunyikan oleh gadis itu. Ardi mendekat. Memperhatikan Elara dengan lekat. "Jangan bohongin gue. Gue tau ada apa-apa, lo gak secerewet yang kayak biasanya," sahut Ardi.
"Gue juga bingung gue kenapa, Kak." Jeda sebentar, lalu Elara melanjutkan. "Oke gini deh, lo pernah ngerasain lo cuma mau nangis? Entah apa yang lagi lo pikirin atau lo rasain. Tapi yaudah gitu aja, lo pengen nangis aja bawaannya. Gue gak tau deh gue lagi kenapa,"
"Lo serius kan gak ada masalah sama siapa pun itu?" tanya Ardi memastikan.
"Enggak, Ar. Mungkin mood gue aja yang lagi buruk kali ya?"
Ardi mengangguk pelan. "Pasti ada saatnya kita ngerasain kayak gitu kok, Ra. Mm, lo mau ke mana abis dari sini?"
Mendengar pertanyaan itu, kedua sudut bibir Elara terangkat. "Lo mau temenin gue ke mana pun gue mau?" tanyanya balik.
"Buat kali ini, oke."
"Mau janji sama gue satu hal juga?" tanya Elara lagi. Dari penglihatan Ardi, mata Elara penuh dengan pengharapan.
"Kalo permintaan lo gak aneh, gue turutin."
"Ini simpel kok."
"Apa?"
"Jangan pernah tinggalin gue, Ar."
Yang menurut lo mungkin simpel, tapi gimana kalo bagi gue gak sesederhana itu, Ra?